Maafkan Pelaku Penusukan, Syekh Ali Jaber: Saya Mau Tiru Sifat Rasulullah

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 23 September 2020 17:12
Maafkan Pelaku Penusukan, Syekh Ali Jaber: Saya Mau Tiru Sifat Rasulullah
Syekh Ali Jaber menceritakan latar belakang di balik keputusannya memaafkan pelaku kepada Gubernur Jabar, Ridwan Kamil.

Dream - Keputusan Syekh Ali Jaber menyelamatkan pelaku penusukan dari amukan massa menuai pujian dari masyarakat. Seperti diketahui ulama kelahiran Madinah, Arab Saudi itu mengalami musibah penusukan saat berceramah di Masjid Falahuddin, Jalan Tamin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Minggu 13 September 2020 lalu.

Kisah di balik aksi kemanusian Syekh Ali Jaber itu diceritakan ulang kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mengundangnya dalam live Instagram yang tayang Selasa, 22 September 2020 semalam.

Pria yang telah menjalani dunia dakwah selama 12 tahun di Indonesia itu mengatakan, tindakannya itu semata dilakukan karena harapannya ikut meniru sifat-sifat Rasullah. Ketika dizhalimi, lanjut Syekh Ali, Rasululllah menynotohkan tidak membalas dengan tindakan serupa.

" Saya mau tiru akhlak Nabi Muhammad SAW. Rasulullah tidak pernah mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Beliau mendahulukan (menjadi) pemaaf," ujar Syekh Ali dalam Live Instagram bersama Ridwan Kamil, Selasa 22 September 2020.

1 dari 3 halaman

Saya Tidak Mau Marah

Syekh Ali dalam Instagram Live tersebut mengatakan, ketika peristiwa penusukan itu terjadi, ia tak melihat adanya penghinaan untuk agama ataupun Al Quran. Ia melihat tindakan pelaku hanya murni penusukan dirinya.

" Saya tidak mau marah. Kalau saya marah, saya tidak mengikuti akhlah Nabi," jelasnya.

Syekh Ali melanjutkan, dirinya bisa saja menyuruh jemaahnya menyerang pelaku atau membiarkannya diamuk masa. namun, jika hal itu dilakukannya Syekh Ali menganggap dirinya ikut melakukan kezaliman kepada penusuknya.

 

 

2 dari 3 halaman

Memilih Dizalimi daripada menzalimi

Islam membolehkan seseorang yang dizalimi membalas. Namun, Syekh Ali mengatakan, belum tentu ketika ia membalas, balasannya akan setara dengan apa yang ia dapat.

" Bisa tidak dipastikan kalau balasannya tidak melebihi apa yang menimpa kita. Maka lebih baik saya diposisi dizalimi daripada menzalimi," ujarnya.

Syekh Ali menekankan, saat mengamalkan sifat Rasulullah, bukan berarti seseorang menjadi lemah. Dengan kekuatan yang dimiliki, Rasulullah bisa saja membalas orang yang jahat padanya, tetapi beliau memilih memaafkan.

" Bukti kemuliaan akhlak seseorang adalah ketika dia diuji," kata Syekh Ali.

3 dari 3 halaman

Video Instagram Live

 

Beri Komentar