Dahsyatnya Kekuatan Doa Seorang Ibu

Reporter : Ulyaeni Maulida
Sabtu, 4 Juli 2020 18:03
Dahsyatnya Kekuatan Doa Seorang Ibu
Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Dream – Ibu adalah sosok manusia yang derajatnya begitu mulia. Jangankan perkataan kasar, ucapan '..ah' saja sudah dianggap sebagai bentuk durhaka.

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Israa’: 23-24).

Sudah seharusnya anak selalu berbakti dan berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Ibu adalah sosok nomor satu yang wajib dihormati.

Dari Abu Hurairah RA, " Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik? Rasulullah menjawab: Ibumu! Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu! Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu! Sekali lagi orang itu bertanya: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Bapakmu!” (HR. Bukhari)

1 dari 3 halaman

Kisah Dahsyatnya Doa Seorang Ibu

 Ibu© Shutterstock

Banyak kisah yang menceritakan betapa dahsyatnya kekuatan doa seorang ibu. Salah satunya kisah yang diceritakan oleh syeikh Taqiy bin Mukhallad.

Suatu magrib, datanglah seorang ibu kerumah syeikh Taqiy bin Mukhallad. Ia pun disambut dengan penuh hormat selayaknya tamu. Namun, ia terlihat begitu sedih.

Melihat hal tersebut Taqiy bin Mukhallad bertanya tentang masalah yang sedang dihadapinya. Dengan suara bergetar ibu itu pun mulai bercerita.

“ Puteraku telah ditawan oleh prajurit Romawi dan aku tidak sanggup menebusnya. Saya sangat resah dan gundah gulana. Saya punya tanah dan bisa menjualnya. Saya risau memikirkan keselamatan putraku,” ucap ibu tersebut.

Taqiy bin Mukhallad sangat terharu. Namun beliau juga tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya beliau hanya dapat menenangkan sang ibu sembari mencari solusi terbaik untuk anaknya.  

Sebelum ibu itu pulang beliau meminta agar tak lupa untuk mendoakan anaknya supaya selamat. Yang juga diaminkan oleh Taqiy bin Mukhallad.

2 dari 3 halaman

Setelah beberapa hari berlalu, si pemuda yang ditawan tersebut pun akhirnya kembali ke pelukan sang ibu dengan selamat. Mereka pun kembali mendatangi Taqiy bin Mukhallad untuk menyampaikan kabar baik tersebut.

Sesampainya dirumah Taqiy bin Mukhallad, pemuda itupun kemudian bercerita,” Aku ditawan oleh prajurit Romawi dengan kelompok tawanan lainnya. Tiap hari kami mendapatkan pengawalan yang ketat. Kami setiap hari disuruh ke gurun untuk kerja paksa. Setelah selesai kami pulang dengan tangan yang terbelenggu. Suatu saat kami pulang selepas Magrib. Tiba-tiba belenggu tersebut terlepas dan jatuh ke tanah dengan sendirinya.”

Pemuda itu pun terdiam. Kejadian itu menurut ibu bertepatan dengan kedatangan beliau ke tempat Taqiy bin Mukhallad untuk mengadukan masalahnya.

3 dari 3 halaman

Kemudian pemuda itu melanjutkan ceritanya, “ Pengawal sangat terkejut dan membentakku dengan keras. Kamu yang melepaskan belenggu itu! Tidak, kataku.

Pengawal menjadi bingung. Lalu belenggu itu kemudian dipakaikan lagi. Apa yang terjadi kemudian belenggu itu lepas lagi hingga beberapa kali kejadian serupa berulang.

Tak lama kemudian pengawal itu memanggil seorang pendeta.

Sang pendeta lalu bertanya kepadaku, “ Apakah ibumu masih ada?”

Aku pun menjawab, “ Iya.” Pendeta itu tersenyum dan berkata kepadaku, “ Doa ibumu telah dikabulkan. Allah telah menghendaki engkau untuk bebas dan tidak ada seorangpun yang mampu untuk menghalanginya. Oleh karena itu, kamu bebas dan tidak akan dibelenggu lagi.”

Setelah peristiwa tersebut, pendeta itu minta untuk diantar bertemu dengan orang-orang yang beriman kepada Allah. Dan, pendeta pun kemudian memeluk Islam.

 Wallahualam 

(Diambil dari berbagai sumber)

Beri Komentar