Tergerak Jejak Ibu Peluk Islam, Gadis Ini Ikrarkan Syahadat

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 12 Februari 2020 09:01
Tergerak Jejak Ibu Peluk Islam, Gadis Ini Ikrarkan Syahadat
Hidayah menghampiri Christy hingga memutuskan memeluk Islam.

Dream - Ada yang berbeda dengan kajian rutin yang digelar Muslimah Darul Quran (Daqu) pada Rabu pekan lalu. Pengajian tersebut memiliki agenda yang sedikit berbeda.

Seorang gadis bernama Naftalie Christy Saraswati hadir di pengajian tersebut. Gadis itu hadir di Masjid Alumni IPB Bogor dan mengikuti kajian yang diasuh oleh Ustazah Yati Priyati.

Banyak yang kaget begitu mengetahui niat Christy hadir di kajian tersebut. Wanita non-Muslim itu membuat keputusan besar dengan mengucap kalimat syahadat.

Di hadapan jemaah kajian, Christy bercerita keputusannya menjadi mualaf karena memperhatikan sang ibu yang lebih dulu memeluk Islam. Dia pun tergerak mengikuti jejak sang ibu.

 Mualaf Wanita© istimewa

Christy mengaku tidak mendapat paksaan ketika memutuskan memeluk Islam. Murni atas pertimbangan diri sendiri.

Sempat menjalani sesi tanya jawab, Christy kemudian mengucap kalimat syahadat dibimbing Ustazah Yati. Prosesi tersebut disaksikan para jemaah kajian Muslimah Daqu.

Suasana haru begitu terasa di Masjid Alumni IPB. Kini, Christy telah menjadi saudara seiman bersama umat Islam sedunia.

" Ananda Christy sekarang sudah menjadi saudara kita, adik kita, saudara muslimah kita, yang harus kita jaga, kita bimbing, dan kita rangkul, tidak terlepas doa dari kita semua. Semoga Christy menjadi muslimah yang kaffah dan istiqomah dalam menjalani syariat agama Islam, Amiin," kata Ustazah Yati, melalui keterangan tertulis diterima Dream dari Daarul Quran.

1 dari 4 halaman

Usia Masih Belia, Gadis Ini Sudah Hafal 30 Juz Alquran

Dream - Usia Risa Sri Rizkiyah masih belia. Baru 16 tahun. Meski begitu, dia sudah punya prestasi membanggakan, hapal 30 juz Alquran.

Risa sudah dua tahun meninggalkan kampung halamannya di Garut, Jawa Barat, dan menjadi santriwati Pesantren Tahfiz Khusus Yatim Daarul Quran Takhassus Tegal, Jawa Tengah.

Keputusannya merantau karena ingin mewujudkan cita-cita menjadi seorang tahfizah, muslimah penghafal Alquran. Motivasi utamanya adalah orang tua.

" Biar bisa menolong orang tua karna belum tentu di dunia kita bisa membahagiakan mereka tapi dengan hafalan Quran kita bisa jadi penolong mereka di akhirat," ujar Risa dalam keterangan tertulis diterima Dream dari Daarul Quran.

Risa ingin mempersembahkan hadiah terbaik kepada orang tuanya, berupa hapalan Alquran. Dia juga mengharapkan ridho dan keberkahan dari Allah SWT.

2 dari 4 halaman

Pertahankan Hapalan

Sejak kecil Risa memang sudah dikenalkan dengan Alquran. Saat duduk di bangku kelas 3 SD, Risa meraih juara 3 lomba hafalan Juz 30.

Risa kini menjadi motivasi bagi kakak dan adiknya. Mereka ingin mengikuti jejak Risa menjadi hafizah.

Di keluarnya, Risa bukan anak pertama yang menghapal Alquran. Tetapi, dia jadi satu-satunya anak yang sudah hapal genap 30 juz.

" Yang sulit dari menghapal adalah menjaganya, insyaallah sekarang harus lebih banyak waktu lagi untuk murajaah," tutur Risa.

Hingga saat ini, terdapat 302 santri yang menghapal Al-Quran di Pesantren Tahfiz Daarul Quran Takhassus yang tersebar di seluruh Indonesia. Para santri tengah berjuang mewujudkan cita-cita meraih keberkahan dunia akhirat.

3 dari 4 halaman

Semangat Tukang Cukur Belajar Baca Alqur'an

Dream - Usia Roni bukan lagi anak-anak. Dia sudah 34 tahun. Tetapi, usia tersebut tidak menghalangi tukang cukur asal Palembang, Sumatera Selatan, itu untuk belajar membaca Alqur'an.

Ya, Roni memang tidak bisa membaca huruf-huruf hijaiyah. Namun begitu, semangatnya yang tinggi untuk belajar mengaji mampu menghilangkan rasa malunya.

" Pokoknya setiap siang, jadwal saya ya mengaji di sini," ujar Roni, melalui keterangan tertulis diterima Dream dari PPPA Daarul Quran.

Lima kali dalam sepekan, Roni selalu datang ke kantor Daarul Quran Palembang untuk mengikuti program mengaji. Roni benar-benar memulainya dari nol, dari mengenal huruf hijaiyah lewat kitab Iqro'.

Kios cukur rambut Roni berlokasi di dekat kantor Daarul Quran. Dia pun berpikir daripada menunggu pelanggan hanya dengan duduk-duduk, lebih baik memanfaatkan sebagian waktu untuk belajar baca Alqur'an.

4 dari 4 halaman

Tak Malu Mulai dari Iqro'

Roni juga tidak malu mengakui waktu terakhirnya belajar mengaji saat masih kecil. Sehingga, bukan masalah bagi Roni jika harus kembali belajar Iqro'.

" Dulu kecil saya nakal dan malas belajar Alqur'an, sekarang sudah tua baru ingat dan ingin belajar lagi," kata dia.

Semangat Roni untuk bisa mengaji sangat tinggi. Tak lupa, setiap kali usai mengaji Roni selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk para penghafal Alquran.

 Tukang Cukur© Daarul Quran

Doa Roni hanya satu, dimudahkan Allah untuk bisa belajar Alquran.

Pimpinan Daarul Quran Palembang, Dwi Frihanto, mengatakan pihaknya menyambut siapa saja yang ingin belajar ataupun menghafal Alquran.

" Insya Allah kami menyiapkan asaatidz dan asaatidzah untuk membimbing tahsin dan tahfiz. Semoga ikhtiar ini membuat dakwah tahfidzul Qur’an bisa menembus kota maupun di pelosok Palembang bahkan di Nusantara maupun seantero dunia," kata Dwi.

Beri Komentar