Eka Shanty, Kisah Hidup yang Pahit dan World Muslimah

Reporter : Kusmiyati
Jumat, 4 Juli 2014 11:17
Eka Shanty, Kisah Hidup yang Pahit dan World Muslimah
Dua anaknya pernah istirahat dari sekolah. Tak sanggup membayar uang SPP. Bagaimana dia bangkit, di tengah kemiskinan yang mengurung itu?

Dream- Bermula dari gagasan yang datang tiba-tiba. Dikaji dan dilaksanakan dengan segenap tenaga. Di luar dugaan, ajang untuk para hijaber ini memetik sanjungan dan respon positif dari seluruh dunia. World Muslimah, begitu nama acara ini, sudah memasuki tahun ke empat. Tahun ini dihelat di Yogyakarta. Pada tiga hajatan sebelumnya, ramai datang pebisnis dan model hijab dari berbagai negara. Sukses besar. 

" Awalnya tidak sengaja. Pada 2010 saya dipercaya untuk mengelola World Muslimah, yang semula bernama World Beauty. Saya lalu mencari konsep untuk ajang  ini, yang tidak hanya mengutamakan kecantikan dan fashion saja," kata Founder dan CEO World Muslimah, Eka Shanty, saat ditemui tim Dream.co.id di tempat tinggalnya kawasan Cilandak, Jakarta, Jumat (4/7/2014).

Dengan konsep itu hajatan ini meraih simpati. Selain banyak hijabers yang datang, acara ini juga turut melebarkan size bisnis hijab. Kian banyak pula orang yang tahu dan kian banyak yang memakai hijab. Dari sekian banyak orang yang menguras tenaga demi suksesnya acara ini, Eka Shanty adalah salah satunya. Menjadi bagian yang terdepan. Nama Eka Shanty juga kian berkibar.

Tapi kisah sukses yang berkibar itu datang dari bawah. Bukan tiba-tiba mengudara. Bahkan lahir dari kepedihan hidup. Ibu dari Tazqiya Mazura yang kini beranjak remaja dan M. Razfa Utama  itu pernah pahit bertahun lamanya. Bisnisnya pernah seret. Harta kekayaan habis dan kedua anaknya sempat berhenti sekolah lantaran tak punya uang.

" Saya pernah berada di kondisi yang sangat miskin," begitu dia berkisah. Dulu, lanjutnya,  dia punya bisnis advertising namun bangkrut. Dan Eka tak akan pernah melupakan hari pahit ini.  " Saat itu pada 2012 uang yang tersisa hanya Rp. 17.000 untuk makan sekeluarga. Selama enam bulan anak-anakku juga tidak sekolah karena sulit membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP)," kata pemilik nama Eka Triyatna Shanti ini dengan mata yang berkaca-kaca. Nasib keluarganya di titik nadir.

Ketika mengisahkan masa-masa pahit itu kepada Dream.co.id, bibir dan tangan Eka gemetar. Dan tiba-tiba saja air matanya mengalir, melewati kaca matanya. Terbata-bata dia meneruskan kisah pedih masa lalu itu. Benar-benar terpuruk. 

Tapi menyerah bukan pilihan. Malah hanya akan membenam keluarga kian dalam. Eka berusaha bangkit, dengan modal yang tersisa yaitu semangat. Dia kemudian memperjuangkan World Muslimah ini. Demi tekat itu, Eka sempat menggadaikan cincin pernikahannya. 

" Kami benar-benar miskin, sekitar Agustus cincin nikah pun saya gadaikan demi perjuangan hidup saya. Alhamdulillah World Muslimah tetap berjalan berkat sponsor dan diakui oleh seluruh negara. Saya berusaha memperjuangkan ini karena ajang ini membawa pesan yang sangat positif tentang wanita muslimah di dunia," ujar Eka sembari menyeka air matanya.

Alasan lainnya adalah karena Eka sudah berjanji kepada Rasulullah SAW. Janji itu ditulis di halaman depan Al-Quran yang menemaninya saat perjalanan umroh. " Ini janji saya kepada rasulullah ingin membantu menghapus kesedihannya karena banyaknya wanita yang mempertontonkan tubuhnya dan banyak orang yang korupsi. Saya menulis surat untuk rasulullah di Al-quran ini dalam perjalanan umroh saya," ujar Eka.

Bukan cuma jatuh miskin, Eka mengaku sempat dihina dan ditinggalkan sejumlah orang terdekatnya. " Masalah demi masalah datang di kehidupanku. Aku pernah dihina dan difitnah, semua orang pun menjauh. Posisiku seperti berada di pinggir jurang, lelah dan tidak tahu harus bagaimana," ujar Eka.

Beruntung dia memiliki Tasqiya dan Razfa, yang terus menjadi suporter dan menyalakan semangatnya. Dari kedua anaknya itulah Eka menghimpun tenaga, lalu bangkit, berdiri tegak, dan total dalam pekerjaan.

" Ketika saya dipercaya menjadi founder acara ini maka saya total, dan ini bentuk totalitas saya. Anakku sempat melihatku dihina dan difitnah, tapi dia berkata mereka tidak tahu mama. Kami yang tahu dan kami selalu ada untukmu. Kuncinya Ikhlas," ujar Founder Selular Berbasis Syariah Pertama di Indonesia ini.

Pikiran ingin cepat bertemu dengan Allah SWT sempat terbesit dalam benaknya. Bersujud menjadi cara Eka menghadapkan diri kepada sang Pencipta.

" Curhat dengan teman bisa jadi narkoba, cerita ke tetangga bisa jadi hinaan. Tidak sedikit orang yang mengalami kesedihan ingin bunuh diri, tapi itu yang salah. Aku pun bersujud dan bersyukur, bilang Alhamdulillah aku bangkrut, suamiku meninggal, orang-orang terdekatku menjauh tapi aku dekat denganmu Ya Allah. Please Tell Me, apa yang harus aku lakukan," ujar Mantan Jurnalis TVRI dan Produser Program Religi di Metro TV ini.

Ketika berkisah soal orang-orang dekatnya itu, Eka lagi-lagi sempat terdiam. Air matanya kembali mengalir. Anak dan keyakinan, katanya, adalah modalnya untuk berdiri.

" Alhamdulillah, Allah mendengar doaku. Perlahan demi perlahan kami bangkit dari keterpurukan. Allah tak pernah ingkar janji untuk orang yang berusaha. Berjuanglah dan terus berjuang di jalan Allah maka akan dibantu," kata wanita lulusan Universitas Lambung Mangkurat ini.

Eka berharap perjuangannya dapat menjadi inspirasi para muslimah di luar sana yang sedang berada di kondisi terpuruk.

" Semoga ini bisa menginspirasi semuanya, dan ajang World Muslimah bisa menjadi tauladan bermanfaat untuk semua muslimah dunia," harap Eka, yang kini menjadi Strategic Planner and Public Relation Consultant untuk Indonesia Fesyen Muslim Dunia 2020.

Beri Komentar