Gadis Berkebutuhan Khusus Raih Cum Laude dan IPK Nyaris Sempurna di UNY

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 11 September 2019 17:36
Gadis Berkebutuhan Khusus Raih Cum Laude dan IPK Nyaris Sempurna di UNY
Lala punya kesulitan berkomunikasi, tapi dia dianugerahi kecerdasan cemerlang. Dia juga menjadi lulusan termuda.

Dream - Namanya Maria Clara Yubilea Sidharta. Usianya baru 19 tahun, tapi sudah membuat banyak orang bangga.

Gadis remaja ini dinobatkan sebagai lulusan termuda Universitas Negeri Yogyakarta. Belum cukup sampai di situ, Lala, nama panggilannya, juga meraih predikat Cum Laude dengan Indeks Prestasi Akademik 3,76 dalam wisuda periode Agustus lalu.

Sepintas, Lala tidak jauh beda dengan anak seusianya secara fisik. Tetapi, Lala adalah anak spesial karena divonis dokter sebagai anak berkebutuhan khusus dan punya tantangan berupa kesulitan berkomunikasi.

Meski berkebutuhan khusus, Lala ternyata anak genius. Setelah menjalani tes IQ, tingkat kecerdasan Lala sangat tinggi mencapai 145.

Berkat dorongan orangtuanya, Rahardjo Sidharta dan Patricia Lestari Taslim, Lala terus mengukir prestasi. Sang ibu selalu menekankan agar Lala tidak menganggap vonis sebagai anak berkebutuhan khusus sebagai musibah namun anugerah atau 'gifted'.

" Mama sering bilang, vonis (sebagai gifted) dan Tes IQ itulah awal musibah. Tapi ternyata dari penemuan dan bimbingan mama, musibah itu punya banyak potensi. Potensi yang Puji Tuhan dapat Lala maksimalkan," ujar Lala, dikuti dari uny.ac.id.

1 dari 5 halaman

Pernah Dicap Penyebab Masalah

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Lala sempat dikenal sebagai pembuat masalah karena sulit diatur oleh guru. Kondisi itu membuat Lala harus beberapa kali pindah sekolah. Bahkan saat duduk dibangku SD, Lala harus pindah sebanyak lima kali.

Sang ibu, Patricia, mengaku awalnya tidak menyadari anaknya tergolong berkebutuhan khusus. Dia hanya tahu Lala dicap sebagai pembuat masalah.

" Yang saya tahu, Lala itu trouble maker. Saya memaksakan dia harus sekolah umum dan sekolah negeri. Namanya juga ibu, saya jujur saja waktu itu otoriter ingin anak saya sekolah. Apalagi saya mantan guru, dan suami saya berprofesi sebagai dosen," kata Patricia.

Patricia baru tersadar ketika Lala mogok sekolah jelang Ujian Nasional. Saat itu, Lala tidak mau sekolah karena merasa tidak nyaman.

 

2 dari 5 halaman

Dipaksa Ikut UN, Nilai Bagus Semua

Setelah dipaksa, Lala akhirnya mau mengikuti Ujian Nasional. Tetapi, tanpa persiapan apapun Lala justru lulus dengan nilai sangat memuaskan.

" Saat itulah saya mulai memahami, bahwa kita harus ekstra tenaga mendampingi karena kebutuhan dia berbeda," ucap Patricia.

Patricia lalu mengonsultasikan kondisi Lala ke dokter. Dia juga menguji tingkat kecerdasan Lala lewat tes IQ.

Pada 2013, Lala pertama kali menjalani tes kecerdasan dengan hasil memuaskan yaitu IQ 131. Hasil tersebut selalu naik di tes berikutnya hingga pada 2017 lalu, Lala dinyatakan memiliki IQ 145.

 

3 dari 5 halaman

Lulus SD, Pilih Homeschooling

Sejak divonis sebagai anak berkebutuhan khusus, Lala dan orangtuanya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dengan sistem homeschooling. Dalam belajar, Lala selalu dibimbing Patricia.

Meski homeschooling, sistem itu tidak membuat Lala menjadi anak kurang pergaulan. Lala punya banyak teman karena terlibat dalam sejumlah kegiatan.

Beberapa di antaranya, Lala bergabung dengan Komunitas Sesama Homeschoolers, juga ikut komunitas menari maupun musik. Dia pun kerap menghabiskan waktu bersama teman-temannya di Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

" Saat itu, saya juga suka menulis di blog," kata Lala.

 

4 dari 5 halaman

Cepat Belajar

Tak butuh waktu lama bagi Lala untuk lulus SMP dan SMA. Pada 2013, Lala menuntaskan ujian Kejar Paket B (setara SMP), dan pada 2015 lulus Kejar Paket C dengan nilai yang bagus.

Tak hanya itu, Lala juga menguasai Bahasa Inggris, Perancis dan Jepang secara otodidak. Dia belajar bahasa dari percakapan sehari-hari dan berselancar di internet.

Lepas ujian Kejar Paket C, Lala meminta kepada orangtua agar bisa kuliah. Dia ingin kembali berkumpul dengan teman-temannya yang normal.

" Kami kemudian berpikir, ada baiknya memang dia kuliah. Saran dari hasil tes IQ, mengambil jurusan bahasa. Akhirnya diambillah bahasa yang belum ia kuasai, yaitu Pendidikan Bahasa Jerman," kata Patricia.

 

5 dari 5 halaman

Memilih UNY

Kampus UNY dipilih sebagai tempat kuliah Lala karena menerapkan sistem inklusif. Lala pun bisa berkembang menjadi mahasiswi berprestasi.

Tidak jarang Lala jadi rebutan teman-temannya ketika ada tugas kelompok. Mereka ingin belajar bersama Lala.

" Jadi lingkungan di UNY inklusif. Ada dua alasan sebenarnya. Pertama karena Lala masih imut, anak usia 15 tahun, dan kedua karena Lala cepat belajarnya. Setahun belajar Jerman, dia sudah fasih," kata Patricia.

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting