Kisah Pilu Guru Nyambi jadi Tukang Parkir

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 31 Mei 2016 08:02
Kisah Pilu Guru Nyambi jadi Tukang Parkir
Meski telah mengabdi sebagai guru selama 26 tahun, penghasilan Widodo tidak mencukupi. Dia sempat menjadi tukang parkir, dan kini dia terbaring lemah akibat terkena stroke.

Dream - Menjadi guru mungkin merupakan cita-cita yang mulia. Melalui profesi ini, banyak anak manusia terdidik menjalani kehidupan sarat akan nilai kemanusiaan.

Sayangnya, kemuliaan profesi guru ternyata belum sebanding dengan tingkat kesejahteraan, terutama bagi para guru yang berstatus honorer atau tidak tetap. Mereka terpaksa harus mengajar dengan upah yang kadang jauh dari kelayakan.

Seperti dialami oleh Widodo, 57 tahun.Pria yang berprofesi sebagai guru seni di SMA Purnama, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini terpaksa harus menyambi jadi tukang parkir.

Ini lantaran upah yang dia terima sebagai guru tidaklah cukup untuk menghidupi keluarga dengan tiga orang anak masih bersekolah.

Widodo menjalani pekerjaan sambilan sebagai tukang parkir di kawasan Blok M ini selama enam tahun. Setiap hari, dia memperoleh penghasilan antara Rp50.000 hingga Rp80.000.

Tidak ada raut malu dalam diri Widodo. Dia begitu ikhlas menjalani hidup. Hanya keyakinan pendapatan yang diperolehnya merupakan uang halal menjadi bekal baginya.

Kisah Widodo pun sempat menjadi perbincangan. Hampir sebagian besar media nasional menjadikan kisah guru inspiratif ini sebagai pemberitaan.

Tetapi, itu terjadi beberapa tahun lalu. Kini, Widodo dikabarkan terbaring lemah di rumahnya di Villa Nusa Indah 2 Blok W-5 Kelurahan Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Dia sudah tak sanggup lagi mengajar. Serangan stroke membuatnya sulit menggerakkan anggota tubuhnya.

" Sekarang bapak sudah tidak mengajar lagi mas karena stroke yang sudah setahun lebih," ujar putri kedua Widodo, Gayatri.

Widodo hanya dapat terbaring dan duduk. Sesekali, dia tersenyum untuk menyapa orang lain.

Lantaran stroke yang dia alami, sontak seluruh kegiatan Widodo mengandalkan bantuan Gayatri. Termasuk juga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski begitu, dia masih menyimpan semangat untuk mendidik para tunas bangsa.

Sumber: dompetdhuafa.org.

Beri Komentar