Hijaber Anak Petani Lulus dengan IPK Nyaris Sempurna

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 18 Juni 2014 13:01
Hijaber Anak Petani Lulus dengan IPK Nyaris Sempurna
Gadis berhijab ini lulus dengan nilai Indeks Prestasi 3,98 saat diwisuda pekan lalu. Sama seperti Raeni, Eng--sapaan akrab Angga juga berasal dari keluarga sederhana.

Dream - Setelah Raeni dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), kini ada satu mahasiswi jurusan Biologi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang juga lulus dengan nilai nyaris sempurna, Angga Dwi Tuti Lestari.

Gadis berhijab ini lulus dengan nilai Indeks Prestasi 3,98 saat diwisuda pekan lalu. Sama seperti Raeni, Eng--sapaan akrab Angga juga berasal dari keluarga sederhana. Dia tinggal di Cibuk Lor 1, Margoluwih, Sayegan, Sleman, Yogyakarta.

Bapak dan ibunya adalah buruh tani dengan penghasilan tak menentu, kalau panen sedang bagus bisa dapat pembagian hasil sebesar Rp2 juta. Maklum, sawah yang digarap bukan miliknya.

Tapi itu semua tidak membuatnya berkecil hati serta putus asa. Dia justru terus belajar mengejar cita-cita dan kelak membuat orangtuanya bangga. Sejak di bangku SMP 1 Godean dan SMA 1 Yogyakarta, Eng memang dikenal sebagai siswa berprestasi.

Begitu diterima sebagai perguruan tinggi UNS, dia mendapatkan beasiswa Bidikmisi dari Kemendikbud yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa berprestasi tetapi berasal dari keluarga kurang mampu.

" Saya senang bisa punya prestasi meski dari keluarga kurang mampu. Hasil kerja keras saya membuahkan hasil. Ini juga berkat perjuangan ibu, bapak dan kakak. Mereka selalu berusaha memberikan apapun agar saya bisa terus sekolah," kata Dara kelahiran 21 Februari 1992 saat berbincang dengan Dream.co.id, Rabu 18 Maret 2014.

Menurut Eng, orangtuanya Supriyanto (43) dan Suganyanti (44) yang cuma lulus SD selalu mengajarkan laku prihatin jika ingin menggapai cita-cita. Mulai dari puasa Senin-Kamis, salat tahajud serta duha. " Bapak dan ibu selalu mengingatkan itu. Salat jangan tinggal dan pastinya harus terus belajar," kata gadis yang berhijab sejak di bangku SMA.

Meski mendapatkan beasiswa Bidikmisi, Eng putar otak agar bisa menghidupi biaya sehari-hari selama berkuliah di Solo. Dia tak mau membebani ayah dan ibunya.

Mulai bekerja sebagai guru les dan merintis usaha kecil-kecilan jualan jus organik dilakoninya. Pelan namun pasti, usaha jus organik yang dirintis di kampung halaman, yaitu di Yogya berjalan cukup sukses. " Awal dapat model Rp1 juta, terus ikin usaha jus organik di depan SMP 1 Godean. Lumayan sebulan kalau ramai dapat pendapatan bersih Rp300-400 ribu," katanya.

Pengalamannya dalam berjualan jus buah organik rupanya membuat dia bisa ikut konferensi internasional dalam bidang lingkungan di Jerman 2013 lalu. Lewat paper berjudul " One Student One Tree," Eng bisa berbaur dengan puluhan mahasiswa dari 35 negara.

" Perwakilan dari Indonesia cuma tiga orang, termasuk saya. Bersyukur bisa terpilih," kata Eng yang selalu mendapatkan IPK 4,0 di setiap semesternya.

Sebenarnya Eng sudah di wisuda pada Februari lalu. Namun karena sempat mengalami kecelakaan sepedamotor saat bersama saudaranya, Eng memutuskan menunda wisudanya. Baru pada Maret, Eng resmi diwisuda.

Dengan prestasi yang didapat, tak lantas membuat jumawa. Eng mengaku harus belajar lebih keras lagi agar lulus seleksi beasiswa ke luar negeri. " Saya masih harus banyak belajar dan terus belajar. Apa yang didapat sekarang belum apa-apa. Mohon doanya ya," ujar gadis yang bercita-cita menjadi dosen dan pengusaha. (Ism)

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis