Makna di Balik Penggolongan Ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 19 Juli 2019 20:00
Makna di Balik Penggolongan Ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah
Secara garis besar, ibadah dalam Islam dapat dibedakan menjadi dua.

Dream - Ibadah memegang peranan penting dalam agama. Ini merupakan amalan yang menjadi inti dari agama.

Dalam Islam dikenal banyak sekali bentuk ibadah. Mulai sholat, puasa, zakat, haji, baca Alquran, dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak ibadah, sebenarnya bisa dikerucutkan dalam dua golongan yaitu mahdhah dan ghairu mahdhah. Secara bahasa, mahdhah artinya murni sedangkan ghairu mahdhah bermakna tidak murni.

Tetapi, dalam istilah fikih, mahdhah bermakna ibadah yang secara umum tidak dapat diwakilkan. Sedangkan ghairu mahdhah merupakan ibadah yang dapat diwakilkan dengan syarat-syarat tertentu.

Dikutip dari NU Online, Ibnu Rusydi dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid berpandangan ibadah mahdhah merupakan ibadah yang maksud penerapannya tidak dapat dijangkau akal manusia, sebagai permisalan yaitu sholat.

 

1 dari 5 halaman

Faktor Keterjangkauan Akal

Ibnu Rusydi memandang manusia tidak dapat menangkap maksud diwajibkannya sholat. Sehingga, sholat dijalankan semata untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Selain itu, ibadah mahdhah juga dikenal dengan istilah ta'abudi. Karena itu, Ibnu Rusydi menyatakan perlunya niat dalam pelaksanaannya.

Sementara ghairu mahdhah dalam pendapat Ibnu Rusydi merupakan ibadah yang maksud penerapannya dapat dijangkau oleh akal manusia. Semisal menyucikan diri dari najis sebelum sholat.

Sebab, menghadap manusia saja sebaiknya dalam keadaan bersih dan suci. Apalagi menghadap Allah SWT lewat sholat.

Dalam pelaksanaannya, ibadah ghairu mahdhah tidak perlu adanya niat. Dilakukan sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan syariat sudah mencukupi.

 

2 dari 5 halaman

Pandangan Ulama

Berikut pandangan Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid.

" Sebab perbedaan para ulama (perihal niat dalam wudhu) adalah terkait kebimbangan menstatuskan wudhu sebagai ibadah mahdhah, yakni ibadah yang tidak dijangkau maksudnya oleh akal. Ibadah mahdhah ini hanya ditujukan untuk mendekatkan diri pada Allah, seperti sholat dan ibadah lainnya. Atau distatuskan sebagai ibadah ma'qulatul ma'na (ibadah yang dapat dijangkau akal maksud pensyariatannya) seperti menghilangkan najis. Mereka (para ulama) tidak berbeda pendapat bahwa Ibadah Mahdhah ini butuh terhadap niat dan Ibadah yang al-mafhumatul ma’na tidak butuh terhadap niat. Sedangkan wudhu terdapat keserupaan diantara dua jenis ibadah tersebut. Atas dasar inilah ulama’ berbeda pendapat dalam hal wajib tidaknya niat dalam wudhu. Hal ini dikarenakan di dalam wudhu sejatinya terkumpul makna ibadah dan makna membersihkan (tubuh), sedangkan fiqih lebih memandang makna mana yang lebih kuat di antara keduanya, lalu wudhu disamakan dengan makna tersebut."

Secara garis besar, Ibnu Rusydi mengarahkan perbedaan antara ibadah mahdhah dengan ghairu mahdhah pada aspek keterjangkauan akal. Jika maksud pelaksanaan ibadah tidak dapat dijangkau akal maka tergolong ibadah mahdhah. Sedangkan jika dapat dijangkau akal, maka tergolong ghairu mahdhah.

Sumber: NU Online.

3 dari 5 halaman

Wanita Sholat Berjemaah, Haruskah Azan dan Iqomat?

Dream - Azan dan iqomat merupakan amalan yang dijalankan mengiringi sholat fardlu lima waktu. Dua amalan ini merupakan sunah di awal sholat.

Keutamaan azan tertuang dalam hadis Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

" Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian atasnya, niscaya mereka akan melakukan undian."

Sedangkan keutamaan azan ada dalam hadis riwayat Ibnu Umar. Dalam hadis tersebut, Rasulullah bersabda demikian.

Siapa saja yang melakukan azan sebanyak dua belas kali dalam setahun maka dia berhak masuk surga, dan akan dicatatkan baginya enam puluh kebaikan setiap hari dia azan, dan untuk setiap qomat (dicatatkan) tiga puluh kebaikan.

Sudah menjadi kelaziman azan dan iqomat di masjid dikumandangkan oleh muazin pria. Bagaimana jika wanita yang melakukannya?

4 dari 5 halaman

Jika Jemaah Sholat Adalah Pria

Dikutip dari Bincang Syariah, Imam An Nawawi dalam kitabnya Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab menyatakan wanita tidak boleh mengumandangkan azan dan iqomat. Ketentuan ini berlaku jika jemaah sholat terdiri dari pria.

" Tidak sah azan wanita untuk jemaah pria. Sebagaimana disebutkan Mushannif (pengarang kitab Muhadzdzab) bahwa pendapat ini adalah pendapat madzhabnya serta pendapat jumhur ulama serta pendapat Imam As Syafi'i dalam kitab Al-Umm."

Berbeda halnya jika jemaah sholat terdiri dari wanita. Dalam kondisi ini, wanita boleh mengumandangkan azan dan iqomat namun tidak dikeraskan.

 

5 dari 5 halaman

Jika Jemaahnya Wanita Semua, Begini Ketentuannya

Pun demikian, wanita sebenarnya tidak perlu mengumandangkan azan dan iqomat ketika hendak sholat di mana jemaahnya seluruhnya wanita.

Hal ini dijelaskan Imam Syafi'i dalam kitabnya Al Umm.

" Para perempuan tidak perlu azan walaupun mereka berjemaah bersama (perempuan yang lain). Namun jika ada yang berazan dan mereka hanya melakukan iqamah, maka hal itu diperbolehkan. Dan juga tidak boleh mengeraskan suara mereka saat azan. Sekiranya azan tersebut cukup didengar olehnya sendiri dan teman-teman perempuannya, begitu juga saat iqomat."

Sementara dalam kitab Al Mi'yaru Al Islami, disebutkan wanita hanya disunahkan untuk iqomat, bukan azan.

Sumber: Bincangsyariah.com

Beri Komentar
Pengakuan Mencengangkan Aulia Kesuma, Dibalik Rencana Pembunuhan Suami dan Anak Tirinya