Cara 'Not Normal' Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali Nikahkan Anak

Reporter : Sugiono
Kamis, 25 Juni 2020 16:33
Cara 'Not Normal' Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali Nikahkan Anak
Shamsi Ali menikahkan putranya dengan gadis mualaf dari Thailand dengan 'cara baru yang tidak normal'.

Dream - Tokoh besar masyarakat Muslim di Amerika Serikat yang berasal dari Indonesia, Imam Shamsi Ali, baru-baru ini menikahkan putra keduanya yang bernama Utsman Afifi di tengah pandemi Covid-19 di New York.

Pernikahan Utsman yang kelahiran Arab Saudi dengan seorang mualaf keturunan Thailand yang digelar pada hari Sabtu, 20 Juni 2020, terasa sebagai sesuatu yang baru dan 'tidak normal' bagi Shamsi Ali.

 Imam Shamsi Ali menikahkan putranya dengan seorang wanita mualaf dari Thailand.© Facebook Imam Shamsi Ali

" Pernikahan yang terjadi tanpa perencanaan panjang itu terjadi di saat dunia sedang menghadapi keadaan baru yang justru saya sebut sebagai a new 'not' normal. Sesuatu yang baru dengan keadaan yang tidak normal," tulis Shamsi Ali di laman Facebook pribadinya.

1 dari 5 halaman

Pernikahan Gaya Baru dalam Kondisi Tidak Normal

Disebut pernikahan 'gaya' baru sekaligus dalam kondisi tidak normal karena dilakukan di rumah sendiri dengan membatasi kehadiran hingga 10 orang saja.

Hal itu dilakukan karena harus mengikuti aturan protokol social distancing yang hanya mengizinkan perkumpulan hingga 10 orang saja.

Tapi barangkali yang paling baru dan tidak normal (tidak seperti biasanya) adalah, pernikahan ini tidak kalah meriahnya dari perkawinan di masa-masa sebelum pandemi Covid-19.

" Acara pernikahan ini disaksikan oleh lebih ribuan orang dari berbagai belahan dunia melalui Zoom, FB dan IG Live," tulis Shamsi Ali.

Menurut Presiden Nusantara Foundation ini, acara pernikahan atau perayaan nikah melalui media sosial begitu digandrungi warga Muslim New York selama pandemi Covid-19.

" Saya sendiri dalam dua bulan terakhir telah menikahkan 3 pasangan via Zoom. Di mana pasangan pengantin, orang tua dan keluarga dekat berkumpul, saksi di tempat masing-masing, dan saya sendiri di rumah memimpin acara pernikahan itu secara virtual," jelasnya.

2 dari 5 halaman

Di antara warga Muslim Indonesia mungkin ada pertanyaan yaitu apakah pernikahan seperti ini sah secara Islam?

" Jawabannya Insya Allah sangat sah. Karena sesungguhnya pernikahan itu sah ketika memenuhi 5 syarat: persetujuan kedua mampelai, mahar, saksi-saksi, izin atau sepengetahuan wali (kecuali madzhab Hanafi), dan ijab-qabul," kata Shamsi Ali.

Shamsi Ali menambahkan, masalah teknis pelaksanannya boleh disesuaikan dengan situasi atau budaya masing-masing masyarakat.

Tentu saja, kata Shamsi Ali, caranya akan berbeda-beda seiring dengan keragaman manusia yang mengimani ajaran Islam.

3 dari 5 halaman

Cara Baru dalam Menikah di Tengah Pandemi Covid-19

Shamsi Ali mengatakan dia sudah beberapa kali menikahkan pasangan Muslim menggunakan tata cara atau budaya pernikahan di Amerika. Tentu saja dengan tetap memenuhi semua persyaratan agama Islam yang wajib.

" Salah satu hal yang mungkin saya anggap sebagai keberanian saya (courageously) di Amerika adalah menikahkan pasangan dengan mengikut kepada tatacara atau budaya pernikahan di Amerika. Tentu dengan tetap memenuhi semua persyaratan-persyaratan agama Islam yang diharuskan," katanya.

Secara tradisi, ketika pasangan menikah di Amerika, mereka akan berhadapan lalu kedua mampelai masing-masing menyampaikan ijab-kabulnya dibantu pemimpin agama (pastor).

Namun jika pernikahan pasangan Muslim menggunakan tata cara di Amerika, bentuknya kira-kita seperti berikut:

Wanita: Saya menikahkan diri saya kepada kamu (mampelai pria) berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, dan dengan mahar berupa seperangkat alat sholat (hanya contoh).

Pria: Saya menerima nikah kamu berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, dan dengan mahar seperangkat alat sholat.

" Dalam memimpin pernikahan atau dalam bahasa Inggrisnya 'officiation' saya melakukan hal yang sama. Sang mampelai wanita menyampaikan keinginannya untuk dinikahi (ijab). Dan mampelai pria menerima (qabul) nikahnya sesuai ajaran Islam (Quran dan Sunnah)," kata Shamsi Ali

4 dari 5 halaman

Hal yang sama juga dilakukan Shamsi Ali saat menikahkan putranya. Awalnya pernikahan tersebut ingin dihadiri dan didoakan oleh banyak saudara dan sahabat.

Tapi karena situasi yang sangat berbeda di tengah pandemi Covid-19, kehadiran mereka semua juga sangat berbeda.

" Acara pernikahan anak saya disaksikan oleh ribuan orang, baik langsung hadir di Zoom dengan kapasitas terbatas 100 orang, maupun FB dan IG Live. FB Live terpantau 1000-an yang menonton secara langsung.

 Imam Shamsi Ali beserta keluarga menyaksikan pernikahan melalui media sosial.© Facebook Imam Shamsi Ali

" Akankah ini menjadi sebuah tradisi baru? Saya merasa tidak akan demikian. Tapi pastinya akan menjadi sebuah pintu kemudahan di saat berhadapan dengan sebuah halangan tertentu pada waktu tertentu," kata Shamsi Ali.

5 dari 5 halaman

Islam Selalu Sesuai Zaman hingga Kiamat

Shamsi Ali kemudian mencontohkan betapa Islam mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimanapun.

Beberapa hari sebelumnya dalam sebuah acara dialog antar keyakinan secara virtual, seorang pendeta Yahudi mengeluh karena pembatasan berkumpul tidak boleh lebih 10 orang. Padahal untuk menikahkan harus dihadiri lebih dari 25 orang.

" Saya kemudian menyampaikan bahwa dalam beberapa minggu terakhir saya bisa menikahkan jamaah saya melalui Zoom. Pendeta itu mengangguk-ngangguk sepertinya setuju. Pemimpin agama lainnya juga memuji posisi Islam yang dinamis dan tidak kaku itu," kata Shamsi Ali.

Dia mengatakan bahwa Islam adalah agama setiap ruang dan waktu. Karena Islam memang adalah agama sempurna. Islam hadir untuk menjadi tuntutan manusia hingga hari Kiamat.

Sumber: Facebook

Beri Komentar