Ingin Berkurban tapi Uangnya Pas-pasan, Begini Solusinya

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 11 Agustus 2019 18:00
Ingin Berkurban tapi Uangnya Pas-pasan, Begini Solusinya
Kurban tidak harus dengan hewan gemuk, yang penting standarnya terpenuhi.

Dream - Kurban memang syariat yang sangat dianjurkan untuk setiap Muslim yang mampu. Jika ada kelebihan rezeki, ada baiknya digunakan untuk membeli hewan kurban.

Yang jadi masalah, hewan kurban tiap tahun selalu naik. Kadang, meski sudah merencanakan setahun sebelumnya, rencana kurban harus tertunda karena uang yang terkumpul ternyata tidak mencukupi.

Sementara, orang yang berkurban tentu ingin memberi hewan gemuk. Sebab, gemuknya hewan berdampak pada kuantitas dagingnya.

Sayangnya, hewan gemuk umumnya dijual mahal. 

Lantas, jika ada uang tapi ngepres alias pas-pasan tapi sangat ingin berkurban, harus bagaimana?

 

1 dari 6 halaman

Perhatikan Ketentuannya

Dikutip dari NU Online, ada solusi buat kamu yang ingin kurban dengan uang pas-pasan. Sebenarnya, ulama memberikan pertimbangan yang tidak berkaitan dengan masalah keuangan namun lebih pada nilai syi'ar, kualitas dan kuantitas daging, serta jumlah hewan yang dikurbankan.

Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi dalam Tausyikh 'ala Ibni Al Qosim menguraikan ketentuan apa saja yang patut dipenuhi dalam berkurban.

" Dan paling utamanya hewan kurban dilihat dari banyaknya daging (kuantitas) dan tampaknya nilai syiar adalah unta, lalu sapi, kemudian kambing. Sedangkan dari sisi kualitas daging, maka domba lebih utama dari kambing kacang, kemudian kerbau lebih utama daripada sapi Arab, karena kualitas dagingnya lebih baik; dan dilihat dari banyaknya hewan yang dialirkan darahnya serta kualitas dagingnya, maka tujuh kambing lebih utama daripada satu unta atau sapi. Dari segi warna, maka yang putih lebih utama, kemudian kuning, kemudian putih keruh, kemudian merah, kemudian putih campur hitam, kemudian hitam. Ketika terjadi pertentangan antara beberapa kriteria, maka yang gemuk hitam lebih utama daripada putih kurus dan yang dapat mencakup dua kriteria lebih utama daripada yang hanya satu kriteria saja, dan yang putih gemuk ketika berjenis kelamin jantan lebih utama secara mutlak."

Rincian di atas bisa menjadi pertimbangan untuk membeli hewan kurban. Sehingga tidak harus yang gemuk, selama standarnya keabsahannya terpenuhi.

2 dari 6 halaman

Syarat Terpenuhi, Kurban Sah Meski Tidak Mahal

Nah, soal standar minimal keabsahan kurban yaitu usianya memenuhi, kapasitas orang yang berkurban juga terpenuhi dalam artian tidak boleh kurang atau lebih, kemudian hewan terbebas dari cacat.

Untuk usia hewan, para ulama menetapkan 2 tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing. Jenis kelaminnya bisa jantan atau betina namun diutamakan jantan karena dagingnya lebih lezat.

Untuk orang berkurban ditetapkan jumlahnya tidak boleh berlebih. Misalnya, satu sapi untuk tujuh orang atau kambing untuk tujuh orang.

Tidak boleh kekurangan biaya menjadikan jumlah orang yag berkurban menjadi banyak. Misalnya, karena uangnya patungan tujuh orang kurang untuk membeli sapi, maka ditambah lagi satu orang menjadi delapan.

Jadi, jika memang uang yang ada tidak begitu banyak namun tetap ingin berkurban, lebih baik mencari hewan dengan harga yang terjangkau.

Sumber: NU Online.

3 dari 6 halaman

Hewan Bunting Terlanjur Disembelih Buat Kurban, Masih Sah?

Dream - Dalam hitungan hari umat Islam akan menyambut Idul Adha. Hari raya ini identik dengan amalan sunah kurban.

Kurban merupakan amalan bernilai ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan halal. Bisa unta, sapi, kambing, namun dua hewan terakhir lebih populer bagi umat Islam di Indonesia.

Hewan yang dipotong pun diharuskan memenuhi kriteria. Di antaranya cukup usia ditandai dengan gigi tanggal, sehat fisiknya, serta tidak cacat.

Tentu seorang Muslim yang ingin berkurban diharuskan memeriksa dulu hewannya sebelum disembelih. Jika ditemukan ada kecatatan baik anggota tubuh yang bermasalah atau ada luka yang terbuka, hewan itu tidak bisa dijadikan kurban.

Tetapi, bagaimana jika berkurban dengan hewan yang sedang bunting?

4 dari 6 halaman

Kriteria Hewan Tidak Sah Untuk Kurban

Dikutip dari NU Online, yang dicari dari hewan kurban adalah dagingnya. Sehingga, jika terdapat cacat pada hewan, maka tidak sah digunakan untuk berkurban.

Mengenai rincian hewan seperti apa saja yang tidak sah untuk kurban, hal itu dijelaskan oleh Syeikh Zakariyya Al Anshari dalam Asna Al Mathalib.

" Tidak mencukupi hewan yang sakit parah yang menyebabkan kurus atau pincang yang mencolok sekiranya didahului binatang lain menuju rumput yang lezat dan tertinggal jauh untuk menyusulnya, berbeda dengan sakit atau pincang yang sedikit. Hal ini karena hadis yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dan beliau mensahihkannya; Empat hewan yang tidak mencukupi dalam kurban adalah (1) hewan yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, (2) yang sakit parah, (3) yang pincang parah dan (4) yang sangat kurus hingga tidak punya tulang sumsum;. Redaksi la tunqi diambil dari akar kata al-Niqyu dengan kasrahnya nun dan sukunnya qaf, yaitu tulang sumsum, maksudnya binatang yang tidak ada sumsumnya. Dan karena cacat yang mencolok dari hal tersebut berpengaruh dalam daging, berbeda dengan yang sedikit."

 

5 dari 6 halaman

Status Hewan Bunting

Penjelasan di atas memuat sejumlah prinsip yang patut diperhatikan ketika ingin berkurban. Terkait hewan bunting, para ahli fikih Mazhab Syafi'i menyatakan tidak sah disembelih untuk kurban.

Dasarnya, kebuntingan bisa menimbulkan kurusnya badan hewan dan berpengaruh terhadap kuantitas dagingnya. Mazhab ini juga menilai janin dalam kandungan hewan tidak dapat menambal kekurangan daging induknya apabila disembelih.

Hewan bunting dalam pandangan Syafi'iyyah disamakan dengan hewan pincang yang gemuk. Meski dagingnya banyak, kondisi itu tidak bisa menambal kepincangannya.

 

6 dari 6 halaman

Terlanjur Disembelih?

Tetapi, apabila terlanjur disembelih, dagingnya tetap halal selama syarat-syarat penyembelihan terpenuhi. Jika dibagikan, dagingnya hanya berstatus sedekah biasa, bukan kurban.

Namun demikian, Ibnu Rif'ah mengutarakan pendapat berbeda. Menurut dia, kurban dengan hewan bunting adalah sah.

Meski dagingnya berkurang, itu bisa ditambal dengan janin di dalamnya. Ibnu Rif'ah menyamakan hewan bunting dengan hewan yang dipotong testisnya. Meski cacat, bisa ditambal dengan kelezatan dagingnya.

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara