Ini Penjelasan Kenapa Muadzin Tutup Telinga saat Kumandangkan Azan

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Rabu, 19 Agustus 2020 16:36
Ini Penjelasan Kenapa Muadzin Tutup Telinga saat Kumandangkan Azan
Saat menunaikan tugasnya, seorang muadzin dituntut untuk mengumandangkan lantunan azan dengan volume suara yang tinggi. Hal ini dilakukan agar seruan azan bisa menjangkau berbagai tempat terjauh.

Dream - Azan adalah sebuah pertanda masuknya waktu sholat lima waktu. Lantunan azan yang dikumandangkan oleh muadzin dilakukan guna memberikan informasi dan kabar akan masuknya waktu sholat.

Saat menunaikan tugas, seorang muadzin dituntut untuk mengumandangkan lantunan azan dengan volume suara yang tinggi. Hal ini dilakukan agar seruan azan bisa menjangkau berbagai tempat terjauh dan mampu didengar oleh banyak orang.

Muadzin yang mengumandangkan azan biasanya akan menutup kedua telinganya dengan kedua jarinya. Hal ini sudah dicontohkan oleh salah seorang sahabat nabi bernama Bilal bin Rabah radliallahuanhu setiap kali mengumandangkan azan di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“ Aku melihat Bilal mengumandangkan azan dan ia memutarkan dan mengikutkan mulutnya ke kesana-kemari, sedangkan kedua jarinya berada di kedua telinganya” (HR at-Tirmidzi).

1 dari 2 halaman

Menutup Telinga saat Seruan Azan

Lomba Azan Berhadiah Rp4,5 Miliar© MEN

Setiap kali seorang muadzin mengumandangkan azan, biasanya mereka akan menutup kedua telinganya dengan kedua jari telunjuk dan memutarkannya atau menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri agar suaranya tidak mengarah ke satu arah lurus ke depan tetapi juga ke samping kanan dan kiri. 

Untuk kisaran sudut putarannya, muadzin dapat menentukannya secukupnya agar ia tetap dalam posisi menghadap kiblat di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, yang hukumnya sunnah.

Ketika lafal adzan sampai 'hayya ala asholah" , muadzin hendaknya memutarkan kepalanya ke kanan dan diikuti mulutnya, sehingga suara mengarah ke sisi kanan dari tempat ia mengumandangkan azan. 

2 dari 2 halaman

Hukum Mengumandangkan Azan dengan Menutup Telinga

Sejak zaman Rasulullah, cara mengumandangkan azan masih tetap sama hingga kapanpun. Bagi muadzin, hukum melakukan gerakan menutup telinga tergolong sunnah. Hukum ini tetap berlaku meski saat ini perkembangan teknologi sudah semakin maju dan berbagai pengeras suara banyak dijumpai.

Menurut Gus Baha, kemajuan sebuah ilmu dan teknologi tidak bisa mengubah berbagai aturan dan hukum yang ditetapkan di zaman Rasulullah SAW. Meski begitu, teknologi tersebut tidaklah dilarang karena memiliki manfaat.

Dengan mengumandangkan azan dengan keras dan didengar banyak orang, nantinya para muadzin akan dibangkitkan dalam keadaan yang paling menonjol di hari kiamat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Mu’awiyah radhiallahu anhu. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“ Muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari Kiamat.” (HR Muslim)

Maksud dari hadis diatas adalah para muadzin akan menjadi sosok yang menonjol di akhirat karena banyaknya pahala yang diterimanya dari Allah SWT. 

Sumber NU Online

Beri Komentar