IPK Tertinggi, Hijaber Anak Petani Dapat Beasiswa ke Belanda

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 18 Juni 2014 16:19
IPK Tertinggi, Hijaber Anak Petani Dapat Beasiswa ke Belanda
Kondisi ekonomi keluarga yang kekurangan justru membuat Eng bersyukur. Dia siap melanjutkan jenjang ke strata dua di University of Leiden, Belanda.

Dream - Selepas lulus dari kuliah dari jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dengan nilai Indeks Prestasi nyaris sempurna 3,98, Angga Dwi Tuti Lestari kini bersiap untuk melanjutkan studi ke Belanda.

Karena memiliki nilai IPK tinggi, hijaber anak petani ini memang mendapatkan tawaran beasiswa dari Lembaga Pengelola Lembaga Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

" Saat ini sedangkan mengurus pendaftaran dan mengikuti seleksi untuk melanjutkan jenjang ke strata dua di University of Leiden, Belanda. Nanti pengumumannya September. Kalau lolos ya, kuliahnya tahun depan," kata Eng --sapaan akrabnya-- saat berbincang dengan Dream.co.id, Rabu 18 Juni 2014.

Tak ingin beasiswa yang diberikan sia-sia, Eng terus belajar keras meningkatkan nilai TOEFL yang diisyaratkan untuk menempuh studi di negeri kincir angin tersebut. Sambil persiapkan diri, ia juga mengiisi kegiatan dengan mengajar di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di desanya, setiap akhir pekan.

" Dalam program beasiswa S2 saya mengambil Jurusan Plant Biology and Natural Product," kata gadis yang bercita-cita menjadi dosen dan pengusaha.

Menurutnya jika kelak menjadi dosen ia berharap bisa membagi ilmu kepada orang lain. " Orangtua saya selalu bilang, amalkan ilmu yang kita punya," imbuhnya.

Hadiah Mie Ayam

Kondisi ekonomi keluarga yang kekurangan justru membuat Eng bersyukur. Ia justru belajar banyak soal kerja keras dan laku prihatin. Bapak dan ibunya tak pernah memberikan kado spesial atas prestasi yang didapatkan dia. Kata Eng, kado spesial justru selalu diberikan mereka setiap saat, yakni keharmonisan keluarga.

Meski begitu, Eng mengaku jika kedua orangtuanya selalu membeli mie ayam saat dia menjadi juara satu. " Tradisi itu masih berlangsung hingga sekarang. Bahkan saat meraih IPK 3,98 itu juga dibelikan mie ayam, " kenang dia.

Saat kuliah, Eng menerapkan pola hidup sederhana seperti yang dilakukan orangtuanya. Dia juga tak mau membebani ayah dan ibunya yang cuma buruh tani. Hanya dengan bekal uang Rp600 ribu/bulan dari beasiswa Bidikimisi dan uang saku Rp50 ribu/bulan dari orangtua, Eng mampu menyelesaikan kuliahnya.

Untuk mendapatkan biaya tambahan sehari-hari, dia bekerja menjadi guru les dan merintis usaha kecil-kecilan jualan jus organik.

" Jadilah bahagia dengan pilihan hidupmu, karena hidup tak pernah memaksa untuk dipilih olehmu. Untuk semua yang senantiasa memberi harapan dan kepercayaan, Hanya doa yang mampu terpanjat sebagai jawaban" tulis Eng dalam akun Facebook-nya usai lulus dengan IPK tertinggi. (Ism)

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup