Putri Pengayuh Becak Raih Doktor di ITS dengan IPK 4

Reporter : Cynthia Amanda Male
Sabtu, 14 September 2019 11:17
Putri Pengayuh Becak Raih Doktor di ITS dengan IPK 4
Kegigihan Laila didorong oleh sebuah kutipan Alquran.

Dream - Salah satu mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mendapatkan gelar doktor. Tapi yang membuat kita kagum luar biasa, saat mengetahui latar belakang ekonomi si mahasisiwi itu sangat sederhana.

Ya, dia adalah Lailatul Qomariyah. Mahasiswi Departemen Teknik Kimia ini berhasil meraih mimpinya dengan memenuhi biaya pendidikannya sendiri.

Selama menjalani pendidikan, mahasiswi 27 tahun ini juga giat memberikan les privat pada siswa SMP dan SMA di sekitar kampusnya.

Berbekal keinginan untuk mengubah nasib keluarganya, anak sulung pasangan Saningrat yang bekerja sebagai pengayuh becak dan Rusmiati sebagai buruh tani, berhasil memenuhi biaya pendidikannya sendiri dengan mengajar matematika, fisika, kimia, bahasa inggris dan lain-lain.

 

1 dari 6 halaman

Kegigihan Itu Didorong dari Kutipan Alquran

Perempuan asal Pamekasan, Madura ini mengawali pendidikannya di ITS melalui beasiswa Bidikmisi jalur prestasi. Lalu ia mengambil beasiswa program percepatan untuk lulusan sarjana yang memenuhi kualifikasi menjadi seorang Doktor selama 4 tahun, yaitu Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).

Kegigihan Laila didorong oleh sebuah kutipan Alquran. " Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa usaha dari kaum tersebut," kata Laila dikutip dari laman its.ac.id, Sabtu 14 September 2019.

2 dari 6 halaman

Sudah Menemukan Kecocokan

Akhirnya, ia berhasil meraih IPK 4.0 dalam program doktoral. Selepas diwisuda 15 September, mahasiswa kelahiran 16 Agustus 1992 ini ingin terus mengabdi di kampusnya.

" Aku sudah menemukan kecocokan di ITS, jadi meskipun banyak tawaran dari luar, saya tetap ingin melanjutkan pengabdian saya di kampus perjuangan ini," tuturnya.

3 dari 6 halaman

Gadis Berkebutuhan Khusus Raih Cum Laude dan IPK Nyaris Sempurna di UNY

Dream - Namanya Maria Clara Yubilea Sidharta. Usianya baru 19 tahun, tapi sudah membuat banyak orang bangga.

Gadis remaja ini dinobatkan sebagai lulusan termuda Universitas Negeri Yogyakarta. Belum cukup sampai di situ, Lala, nama panggilannya, juga meraih predikat Cum Laude dengan Indeks Prestasi Akademik 3,76 dalam wisuda periode Agustus lalu.

Sepintas, Lala tidak jauh beda dengan anak seusianya secara fisik. Tetapi, Lala adalah anak spesial karena divonis dokter sebagai anak berkebutuhan khusus dan punya tantangan berupa kesulitan berkomunikasi.

Meski berkebutuhan khusus, Lala ternyata anak genius. Setelah menjalani tes IQ, tingkat kecerdasan Lala sangat tinggi mencapai 145.

Berkat dorongan orangtuanya, Rahardjo Sidharta dan Patricia Lestari Taslim, Lala terus mengukir prestasi. Sang ibu selalu menekankan agar Lala tidak menganggap vonis sebagai anak berkebutuhan khusus sebagai musibah namun anugerah atau 'gifted'.

" Mama sering bilang, vonis (sebagai gifted) dan Tes IQ itulah awal musibah. Tapi ternyata dari penemuan dan bimbingan mama, musibah itu punya banyak potensi. Potensi yang Puji Tuhan dapat Lala maksimalkan," ujar Lala, dikuti dari uny.ac.id

4 dari 6 halaman

Pernah Dicap Penyebab Masalah

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Lala sempat dikenal sebagai pembuat masalah karena sulit diatur oleh guru. Kondisi itu membuat Lala harus beberapa kali pindah sekolah. Bahkan saat duduk dibangku SD, Lala harus pindah sebanyak lima kali.

Sang ibu, Patricia, mengaku awalnya tidak menyadari anaknya tergolong berkebutuhan khusus. Dia hanya tahu Lala dicap sebagai pembuat masalah.

" Yang saya tahu, Lala itu trouble maker. Saya memaksakan dia harus sekolah umum dan sekolah negeri. Namanya juga ibu, saya jujur saja waktu itu otoriter ingin anak saya sekolah. Apalagi saya mantan guru, dan suami saya berprofesi sebagai dosen," kata Patricia.

Patricia baru tersadar ketika Lala mogok sekolah jelang Ujian Nasional. Saat itu, Lala tidak mau sekolah karena merasa tidak nyaman.

5 dari 6 halaman

Dipaksa Ikut UN, Nilai Bagus Semua

Setelah dipaksa, Lala akhirnya mau mengikuti Ujian Nasional. Tetapi, tanpa persiapan apapun Lala justru lulus dengan nilai sangat memuaskan.

" Saat itulah saya mulai memahami, bahwa kita harus ekstra tenaga mendampingi karena kebutuhan dia berbeda," ucap Patricia.

Patricia lalu mengonsultasikan kondisi Lala ke dokter. Dia juga menguji tingkat kecerdasan Lala lewat tes IQ.

Pada 2013, Lala pertama kali menjalani tes kecerdasan dengan hasil memuaskan yaitu IQ 131. Hasil tersebut selalu naik di tes berikutnya hingga pada 2017 lalu, Lala dinyatakan memiliki IQ 145.

Sejak divonis sebagai anak berkebutuhan khusus, Lala dan orangtuanya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dengan sistem homeschooling. Dalam belajar, Lala selalu dibimbing Patricia.

Meski homeschooling, sistem itu tidak membuat Lala menjadi anak kurang pergaulan. Lala punya banyak teman karena terlibat dalam sejumlah kegiatan.

Beberapa di antaranya, Lala bergabung dengan Komunitas Sesama Homeschoolers, juga ikut komunitas menari maupun musik. Dia pun kerap menghabiskan waktu bersama teman-temannya di Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

" Saat itu, saya juga suka menulis di blog," kata Lala.

6 dari 6 halaman

Cepat Belajar

Tak butuh waktu lama bagi Lala untuk lulus SMP dan SMA. Pada 2013, Lala menuntaskan ujian Kejar Paket B (setara SMP), dan pada 2015 lulus Kejar Paket C dengan nilai yang bagus.

Tak hanya itu, Lala juga menguasai Bahasa Inggris, Perancis dan Jepang secara otodidak. Dia belajar bahasa dari percakapan sehari-hari dan berselancar di internet.

Lepas ujian Kejar Paket C, Lala meminta kepada orangtua agar bisa kuliah. Dia ingin kembali berkumpul dengan teman-temannya yang normal.

" Kami kemudian berpikir, ada baiknya memang dia kuliah. Saran dari hasil tes IQ, mengambil jurusan bahasa. Akhirnya diambillah bahasa yang belum ia kuasai, yaitu Pendidikan Bahasa Jerman," kata Patricia.

Kampus UNY dipilih sebagai tempat kuliah Lala karena menerapkan sistem inklusif. Lala pun bisa berkembang menjadi mahasiswi berprestasi.

Tidak jarang Lala jadi rebutan teman-temannya ketika ada tugas kelompok. Mereka ingin belajar bersama Lala.

" Jadi lingkungan di UNY inklusif. Ada dua alasan sebenarnya. Pertama karena Lala masih imut, anak usia 15 tahun, dan kedua karena Lala cepat belajarnya. Setahun belajar Jerman, dia sudah fasih," kata Patricia.

Beri Komentar
Suasana Cair Roger Danuarta dan Ayah Cut Meyriska di Meja Makan