Jeritan Muslimah Perancis

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 23 Oktober 2014 10:00
Jeritan Muslimah Perancis
Memang ada yang tetap bertahan dan terus berjuang. Tapi Sebagian lain, memilih hengkang dari Perancis untuk memperoleh jaminan atas keyakinannya.

Dream - Sudah satu dekade larangan hijab berlaku di Perancis. Banyak muslimah di sana terus berjuang untuk meluruskan kesalahpahaman tentang hijab.

Namun usaha itu rupanya belum cukup. Sampai akhirnya sebagian dari muslimah Perancis lelah dengan perlakuan tidak adil itu.

Memang ada yang tetap bertahan dan terus berjuang. Tapi Sebagian lain, memilih hengkang dari Perancis untuk memperoleh jaminan atas keyakinannya.

" Saya berkata kepada diri sendiri, masa depan saya mungkin tidak di sini. Jika saya tidak diterima di sini, saya akan pergi," kata muslimah Perancis, Sarah B dalam sesi wawancara dikutip OnIslam.net, Rabu 22 Oktober 2014.

" Saya tidak ingin selamanya berjuang untuk diterima. saya ingin hidup damai dan bebas seperti perempuan lainnya."

Sarah yang sudah lima tahun menetap di Perancis mulai berpikir serius pindah ke negara lain. Mungkin Kanada, Inggris atau kembali ke kampung halamannya di Maroko.

" Jujur saya mencintai Prancis. Negara ini menawarkan banyak hal tapi saya juga berhak atas kebebasan saya. Saya berhak menjadi diri sendiri. Sakit rasanya," kata dia.

Sarah mengaku sudah cukup menderita menjadi korban Islamofobia sejak memutuskan berhijab. Bahkan, ia harus rela melepas hijabnya ketika kuliah.

Opsi lain selain memilih meninggalkan Perancis, sebagian muslimah di sana berencana mengambil pekerjaan di dunia maya. Sehingga mereka terhindar dari masyarakat.

Adalah Laila Glovert, 33 tahun, yang memilih meninggalkan Perancis empat tahun lalu menuju London.

Wanita yang menjadi mualaf sejak usia 13 tahun ini, trauma setelah menjadi korban kekerasan Islamofobia di jalanan Paris.

" Saya tidak akan pernah kembali ke Prancis. Hanya satu hal yang membuat kembali, yakni mengunjungi anak-anak. Itupun saat liburan," kata Glovert yang kini bekerja sebagai konsultan kesehatan di klinik perokok. (Ism)

Beri Komentar