Jika Almarhum Masih Ada Utang Puasa, Siapa yang Wajib Membayar?

Reporter : Dwi Ratih
Selasa, 20 April 2021 17:00
Jika Almarhum Masih Ada Utang Puasa, Siapa yang Wajib Membayar?
Ketahui jawaban lengkapnya berikut ini!

Dream - Ramadan yang datang setahun sekali jadi momen istimewa buat umat Muslim di seluruh dunia. Semua berlomba beribadah karena pahalanya dilipatgandakan selama bulan suci.

Sehingga tak heran kita menlihat banyak orang melakukan sholat tarawih, tadarus Alquran, maupun i'tikaf selama Ramadan.

Namun sayang, ada di antara kita yang terpaksa tidak puasa saat Ramadan karena berhalangan, mislanya sakit. Jika berhalangan, maka seorang Muslim wajib mengganti puasa Ramadan di bulan lain.

Tetapi, ada kondisi lain orang yang memilikin utang puasa meninggal sebelum membayarnya. Bagaimana hukumnya?

1 dari 4 halaman

Terkait hal ini, bagaimana status utang puasa orang yang meninggal tersebut?

Dikutip dari laman Konsultasi Syariah, setidaknya terdapat beberapa hadis terkait hal ini. Hadis pertama diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA.

" Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya."

Juga hadis riwayat Bukhari dan An Nasa'i, dari Ibnu Abbas RA.

" Bahwa Sa'd bin Ubadah RA bertanya kepada Nabi SAW, 'Sesungguhnya ibuku mati dan beliau memiliki utang puasa nadzar.' Kemudian Rasulullah SAW bersabda, 'Lunasi utang puasa ibumu."

Dua hadis di atas menunjukkan adanya dua jenis utang puasa yaitu puasa biasa dan puasa nazar (sumpah).

Masing-masing hadis menunjukkan kewajiban keluarga untuk membayar utang puasa tersebut dengan mengqadhanya.

 

2 dari 4 halaman

Pendapat berbeda

Ulama berbeda pendapat soal kewajiban mengqadha puasa orang yang meninggal bagi keluarga si mayit.

Pendapat pertama menyatakan qadha puasa bagi orang yang meninggal berlaku untuk semua jenis puasa baik Ramadan, nazar, maupun kafarah. Pendapat ini dipegang oleh ulama Mazhab Syafi'i.

Pendapat ke dua, qadha hanya berlaku bagi puasa nazar yang belum ditunaikan si mayit dan puasa Ramadan cukup dibayar dengan fidyah. Pendapat ini diyakini oleh Mazhab Hambali.

3 dari 4 halaman

Tak Perlu Takut Berolahraga Saat Puasa

Dream - Puasa selama Ramadan bukan berarti harus meninggalkan olahraga. Meski energi berkurang karena selama puasa tidak makan dan minum, kita tetap bisa berolahraga dengan sedikit penyesuaian.

" Hal yang diperlukan hanyalah membagi waktunya saja. Sebaiknya, sebelum berbuka atau setelahnya," ujar Head of Nutrifood Research Center, Astri Kurniati.

Waktu ideal berolahraga saat puasa bisa diperpendek dari hari-hari biasa. Saban minggu, minimal 150 menit atau 30 menit dalam sehari.

" Kalau jumlah kalori enggak kurang dari hari biasa. Kalau cuma duduk di depan laptop seharian, dianjurkan 1500-1700 kalori. Sedangkan yang aktif, 2000 kalori," tambah Astri.

4 dari 4 halaman

Menurut Astri, berpuasa tidak membuat seseorang kekurangan kalori, tapi mikronutrisi, seperti protein, vitamin, mineral dan serat. Oleh karena itu kita perlu mengoptimalkan nutrisi dengan berbagai makanan kaya nutrisi seperti nasi merah, buah, sayur, daging, tahu dan tempe.

" Porsi ideal saat sahur adalah karbohidrat kompleks dan protein seperempat piring serta sayur setengahnya. Kalau berbuka, karbohidratnya diganti yang sederhana dari buah-buahan paling bagus," kata Astri.

Karbohidrat kompleks dan makanan berserat bisa menunda rasa lapar dengan memperlambat proses pencernaan. Sehingga energi bisa diproses perlahan-lahan. Sedangkan, protein menjaga stamina selama seharian.

" Kamu pun tidak perlu ragu dalam menjalani diet, asalkan, asupan makanannya sehat dan sesuai dengan metabolisme tubuhnya," ujar Astri.

Beri Komentar