Kagetnya Rasulullah Lihat Tenda Iktikaf Para Istri di Masjid Nabawi

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 29 Mei 2019 06:01
Kagetnya Rasulullah Lihat Tenda Iktikaf Para Istri di Masjid Nabawi
Peristiwa ini menjadi dasar dibolehkannya wanita beriktikaf selama diizinkan oleh suaminya.

Dream - Setiap kali datang sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah semakin giat beribadah. Nabi Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan masjid dan khusyuk beriktikaf di dalamnya.

Ada kisah menarik ketika Rasulullah menjalankan iktikaf. Kisah itu berkaitan dengan para istri Rasulullah.

Suatu hari usai sholat Subuh di hari-hari akhir Ramadan, Rasulullah akan kembali ke Masjid Nabawi. Di sana, Sang Nabi akan menjalankan iktikaf.

Ketika Rasulullah hendak menuju Masjid Nabawi, tiba-tiba salah satu istrinya, 'Aisyah RA mencegatnya. Ada yang ingin dibicarakan 'Aisyah dengan Rasulullah.

Rupanya, 'Aisyah juga ingin beriktikaf di Masjid Nabawi. Dia pun menyampaikan keinginan itu dan berharap Rasulullah mengizinkan.

Rasulullah pun membolehkan 'Aisyah beriktikaf di Masjid Nabawi. 'Aisyah begitu gembira mendapat izin dari Rasulullah.

Dia lalu membangun tenda di halaman Masjid Nabawi. Di tenda itulah 'Aisyah melaksanakan iktikaf.

 

1 dari 1 halaman

Ditiru Istri-istri Lainnya

Ternyata, apa yang dilakukan 'Aisyah diketahui istri Rasulullah yang lain, Hafshah. Istri Rasulullah yang juga putri dari sahabat Umar bin Khattab juga tertarik menjalankan iktikaf.

Dia pun mendirikan tenda persis di samping tenda milik 'Aisyah. Bedanya, Hafshah tidak lebih dulu meminta izin kepada Rasulullah yang merupakan suaminya.

Langkah Hafshah mendirikan tenda juga diikuti oleh dua istri Rasulullah lainnya. Mereka pun membangun tenda untuk iktikaf di halaman Masjid Nabawi tanpa seizin Rasulullah.

Setelah menjalankan sholat Subuh keesokan harinya, Rasulullah kaget mendapati empat tenda berdiri di halaman Masjid Nabawi. Rasulullah kemudian mencari tahu milik siapa saja tenda-tenda itu.

Setelah tahu pemiliknya, Rasulullah meminta tenda-tenda itu dipindahkan. Rasul juga menghentikan iktikafnya dan baru melanjutkannya lagi pada sepuluh hari di bulan Syawal.

Sumber: NU Online

Beri Komentar