Kegigihan Jurnalis Cantik Berhijab di Tanah Amerika

Reporter : Sandy Mahaputra
Selasa, 17 Juni 2014 08:01
Kegigihan Jurnalis Cantik Berhijab di Tanah Amerika
Meski mendapat perlakuan diskriminatif, Heba menyatakan antusias untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang reporter sukses.

Dream - Bermaksud meliput secara khusus Konvensi Tahunan Partai Republik di Texas, wartawan muda muslim Amerika, Heba Said malah mendapat cemoohan dari peserta konvensi. Mereka menyebutnya sebagai Islamist (kata yang berkonotasi negatif soal Islam di Amerika), hanya karena mengenakan hijab.

" Saya menghadiri konvensi sebagai seorang reporter yang berharap bisa menyajikan diskusi panel Partai Republik, tapi saya malah mendapat kata-kata kebencian," tulis Heba, seorang jurnalis senior di University of Texas, Arlington dan editor opini harian sekolah The Shorthorn.

Reporter muslim berusia 22 tahun itu menjadi target ejekan dan menghadapi diskriminasi karena berbusana Islam di Konvensi Partai Republik, Texas yang berakhir seminggu yang lalu.

Sudah mendaftar sebagai awak media untuk meliput Konvensi, reporter muslim ini ingin berbagi pengalaman mengikuti diskusi panel dengan para delegasi kepada seluruh pembaca. Namun, mimpi siswa senior berantakan, berubah menjadi mimpi buruk berupa pelecehan rasial.

" Saat aku berjalan melalui lorong-lorong, orang berhenti sejenak, mengerutkan kening dan menggelengkan kepala saat melihatku," tulis Heba dalam kolomnya.

Tidak sampai di situ, Heba menulis, para panelis melemparkan kata Islamist di panel diskusi tersebut seolah-olah itu kata-kata biasa. Dan satu orang bahkan bertanya kepada Heba bukankah dia merasa terasing di pertemuan itu?

" Bagian terburuknya adalah cara delegasi memandangku, seolah-olah aku adalah sesuatu menakutkan ketika aku mendekati mereka," tambahnya.

Namun klaim wartawan itu tersebut dibantah Ketua Partai Republik Texas, Steve Munisteri. " Aku tidak menemukan hal tersebut," kata dia kepada Yahoo News.

" Saya tidak pernah mendengar atau menyaksikan satupun pernyataan dan perbuatan yang anti-Muslim," imbuhnya.

Meski mendapat perlakuan diskriminatif, Heba menyatakan antusias untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang reporter sukses.

Mahasiswa Muslim yang akan lulus tahun depan dengan gelar ilmu politik dan minor dalam bahasa Arab ini akan melanjutkan studi ke sekolah hukum. Atau setidaknya menjadi seorang koresponden politik.

Meskipun tidak ada catatan resmi, Amerika Serikat adalah rumah bagi 7-8 juta Muslim. Jajak pendapat Gallup sebelumnya menemukan bahwa mayoritas muslim Amerika setia kepada negara mereka dan optimis tentang masa depan mereka di Amerika Serikat.

Sejak serangan 9/11 di Amerika Serikat, banyak muslim mengeluh menghadapi diskriminasi dan stereotip dalam masyarakat karena identitas mereka. Laporan terbaru Council on American-Islamic Relations (CAIR) mencatat Islamophobia (ketakutan akan kebangkitan Islam) di AS meningkat.

(Ism, Sumber: Onislam.net)

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'