Keponakan Mahfud MD dan 'Mati Corona ala Madura'

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 2 Agustus 2021 11:34
Keponakan Mahfud MD dan 'Mati Corona ala Madura'
Masyarakat Madura masih beraktivitas normal laiknya sebelum ada pandemi, padahal kematian demi kematian selalu disiarkan setiap hari.

Dream - Pulau Madura sempat menjadi epicentrum penularan Covid-19 varian Delta di Indonesia. Angka kasus Covid-19 harian di Pulau Garam, khususnya Kabupaten Bangkalan, sempat mengalami lonjakan sangat tinggi beberapa bulan lalu.

Kasus kematian dari hari ke hari di Madura juga selalu muncul. Anehnya, masyarakat Madura rupanya masih menganggap Covid-19 tidak ada.

Hal ini menimbulkan keheranan pada Firman Syah. Keponakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, ini tidak habis pikir dengan cara orang Madura menghadapi Covid-19.

Dia mengaku sempat menjalani isolasi mandiri. Begitu selesai dan bisa keluar rumah, Firman mengaku kaget melihat masyarakat di tempat tinggalnya di Kabupaten Pamekasan, beraktivitas secara normal.

Firman menuliskan pengalamannya dalam sebuah artikel yang sempat tersebar di media sosial maupun aplikasi percakapan WhatsApp. Artikel tersebut diunggah kembali oleh Duta.co.

Berikut tulisan Firman.

1 dari 3 halaman

Artikel

Mati Corona Ala Madura

Oleh: Firman Syah Ali

AKHIR-AKHIR ini banyak sekali orang meninggal dunia di Madura, diantara mereka ada saudara, tetangga, teman sekolah bahkan mantan saya. Berita-berita kematian itu sebagian saya dengar sendiri secara langsung melalui pengeras suara Masjid, sebagian melalui cerita tamu selama saya menjalani Isolasi Mandiri, namun sebagian besar saya baca di media sosial.

Selama saya menjalani isolasi mandiri, saya sama sekali tidak keluar rumah, saya berada di kompleks tanean lanjang Bani Hasyim Dusun Seccang, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Kab Pamekasan. Begitu saya selesai Isolasi Mandiri barulah saya keluar rumah.

Begitu keluar rumah saya kaget melihat aktivitas warga normal seperti biasa, padahal berita duka terus bertalu-talu dari ujung ke ujung.

Pasar Blumbungan tetap ramai bahkan macet, orang-orang santai ceria tanpa masker, tukang amal masjid teriak-teriak dengan kalimat-kalimat yang lucu.

Belok kiri ke arah Aeng Pennay saya jumpai banyak rombongan mantenan tanpa masker, sebagian diantaranya naik pick up bak terbuka penuh sesak juga tanpa masker, bergembira ria dalam rombongan mantenan sanak saudaranya itu.

2 dari 3 halaman

Tak Melapor ke Puskesmas

Saya main ke rumah sepupu, dia baru datang dari tahlilan. Saya bertanya “ sakit apa yang kamu tahlili itu?”, dengan santai dia jawab “ yaa sakit yang sekarang ini”. Buahahaha istilahnya bukan corona kalau di Madura, tapi “ penyakit yang sekarang ini”.

Mereka tidak dilaporkan ke puskesmas, dimandikan biasa, disholati dan ditahlili biasa, sehingga tidak masuk data resmi korban Corona di Kabupaten setempat.

Begitu usai tahlilan biasanya beberapa tetangga dan keluarga almarhum menyusul meninggal dunia, namun tetap saja tidak disebut corona, mereka disebut mati kena penyakit yang sekarang ini.

Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, disebut mati sesak nafas, mati capo’ cap (influenza) dan banyak lagi istilah lainnya, yang intinya orang madura menghindari istilah Corona yang dengan sendirinya menghindari protokol Covid-19 terhadap jenazah keluarga/tetangganya.

Bahkan yang terbaru di Pamekasan muncul tradisi baru, yaitu menghentikan siaran berita duka melalui pengeras suara. Bahkan di beberapa grup WA masyarakat Madura saya dimusuhi dan dimarahi ramai-ramai gara-gara selalu posting berita duka, padahal orang yang saya posting berita dukanya itu merupakan orang-orang yang mereka kenal juga.

3 dari 3 halaman

Cara Madura?

Akhirnya saya berpikiran jangan-jangan ini cara orang madura untuk melindungi dirinya dari serangan pembunuh imun. Mereka tidak mau imun mereka runtuh terkapar gara-gara dengar nama corona, protokol kesehatan dan berita duka.

Mereka ingin anggap itu semua tidak ada. Atau ini mungkin cara mencapai Herd Immunity alami ala Madura? Wallahu a’lamu.

Ya seperti dalam semua peristiwa lainnya, orang Madura selalu punya cara sendiri.

Saat saya menulis artikel ini, saya sedang duduk santai di rumah sepupu sambil mendengarkan musik dangdut dari tetangganya yang sedang hajatan mantenan.

Undangannya banyak sekali, satupun tidak ada yang mengenakan masker dan jaga jarak. Padahal baru saja tetangga shohibul hajat meninggal dunia akibat “ penyakit sesak nafas” atau “ panyaket se sateyah”.

Dan itu terjadi dimana-mana bukan hanya di dekat rumah sepupu saya ini. Waallahualam.

Beri Komentar