Seluruh Keluarga Dikarantina karena Virus Corona, Anak Ini Meninggal Tak Terurus

Reporter : Sugiono
Jumat, 31 Januari 2020 12:36
Seluruh Keluarga Dikarantina karena Virus Corona, Anak Ini Meninggal Tak Terurus
Liburan di desa untuk merayakan Tahun Baru China berujung duka.

Dream - Seorang remaja cacat di Kota Huahe, Provinsi Hubei, China, meninggal setelah ditinggalkan di rumah sendirian selama enam hari tanpa perawatan.

Beijing Youth Daily melaporkan remaja 17 tahun bernama Yan Cheng itu tinggal sendirian karena keluarga yang seharusnya menjaganya dikarantina setelah diduga terjangkit virus corona.

Cheng menderita cerebral palsy, yaitu cacat motorik parah yang membuat penderitanya harus dibantu dalam melakukan aktivitasnya sepanjang waktu.

Menurut pejabat setempat, Cheng meninggal pada Rabu, 29 Januari 2020. Pihak berwenang telah melakukan penyelidikan atas kasus ini.

1 dari 5 halaman

Keluarga Dikarantina karena Virus Corona

Kisah menyedihkan ini berawal ketika Cheng bersama ayahnya, Yan Xiaowen, dan adiknya yang menderita autis berangkat dari Wuhan ke desa leluhur mereka di Kota Huahe, daerah Hongan, pada 17 Januari, untuk merayakan Tahun Baru China.

Xiaowen tiba-tiba menderita demam tiga hari kemudian. Dia dan anaknya yang autis dikarantina di sebuah fasilitas perawatan. Tinggal Cheng sendirian di rumah tanpa perawatan, makanan, dan teman yang menjaganya.

Ibu Cheng meninggal akibat bunuh diri sekitar setahun setelah kelahiran adik laki-lakinya yang menderita autis.

2 dari 5 halaman

Khawatir Tak Dapat Perawatan yang Layak

Khawatir bahwa Cheng tidak mendapatkan perawatan yang layak dari pejabat partai setempat yang dipercaya menjaga kesejahteraan bocah itu, Xiaowen memohon bantuan melalui Weibo, jaringan mirip Twitter, pada hari Selasa.

" Saya memiliki dua putra cacat. Putra pertama saya Yan Cheng menderita cerebral palsy. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia tidak bisa berbicara atau menjaga dirinya sendiri. Dia sudah berada di rumah sendirian selama enam hari, tanpa ada yang memandikannya atau mengganti pakaiannya. Dia mungkin belum makan atau minum," tulis Xiaowen.

Di postingan tersebut, Xiaowen juga menyertakan foto dirinya bersama Cheng. Selain itu, dia juga mengunggah foto KTP dan kartu kesehatan Cheng.

" Pemerintah dan rumah sakit tidak memiliki cadangan pakaian pelindung. Saya khawatir anak saya akan segera mati. Tolong semuanya, bantu kirim pakaian pelindung ke desa Yanjia di Kota Huahe, daerah Hongan, Provinsi Hubei!"

3 dari 5 halaman

Hanya Diberi Makan Dua Kali

Xiaowen menulis di postingan lain bahwa dia telah diberitahu oleh pejabat partai desa bahwa putranya hanya diberi makan dua kali antara hari Jumat dan Selasa. Namun tak lama setelah menulis permintaan tolong tersebut, akun Weibo Xiaowen dihapus.

Menurut pejabat partai desa, mereka memang berencana untuk mengirim Cheng ke fasilitas karantina pada hari Rabu sehingga anak itu bisa dirawat di tempat yang sama dengan ayahnya. Tapi sayang anak itu meninggal dunia pada sore harinya di rumahnya.

4 dari 5 halaman

Sempat Dijenguk dan Dirawat Bibi

Laporan Beijing Youth Daily juga menyebut bahwa bibi Cheng sudah tiga kali memberi makan dan dua kali mengganti pakaiannya dalam seminggu terakhir hidupnya.

Namun bibinya tidak bisa terus-terusan memantau keponakannya karena dia sendiri juga dalam kondisi tidak sehat.

Bibinya mengaku terakhir kali mengunjungi keponakannya itu pada hari Selasa. Saat itu kondisi Cheng menurun dengan cepat.

" Dia berbaring di kursi santai tapi kepalanya menggantung. Wajah dan mulutnya kotor, begitu pula selimutnya. Saya mencuci muka dan mulutnya dengan air hangat, mengganti pakaian dalamnya, dan memberinya sedikit air dan setengah mangkuk nasi, tetapi dia tidak bisa makan lagi," kata bibinya.

5 dari 5 halaman

Mengaku Sudah Melakukan yang Terbaik

Seorang pegawai kotapraja Huahe mengatakan kepada Beijing Youth Daily bahwa pihaknya telah mengadakan penyelidikan atas kematian remaja itu.

" Sekarang, pengawasan sangat ketat. Tidak mungkin kami meninggalkan seorang anak laki-laki dengan cerebral palsy di rumah tanpa ada yang merawatnya," kata pegawai itu.

" Kami, tentu saja, telah melakukan pekerjaan kami. Tetapi faktanya dia telah meninggal. Otoritas yang lebih tinggi sedang menyelidiki kasus ini dengan adil," tambahnya.

Sumber: Asia One

Beri Komentar