Ketentuan Pembakaran Kalam Ilahi Menurut Syariat

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 23 Oktober 2018 18:00
Ketentuan Pembakaran Kalam Ilahi Menurut Syariat
Pembakaran Kalam Ilahi pernah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan.

Dream - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Yunahar Ilyas, menjelaskan hukum pembakaran kalimat suci, seperti Kalimat Tauhid ataupun ayat Alquran.

Dia menyatakan, terdapat ketentuan yang bisa menjadikan tindakan pembakaran tersebut dibenarkan memurut hukum syariat.

Yunahar memberikan contoh pembakaran Alquran di zaman Khalifah Usman bin Affan. Waktu itu, Khalifah Usman memang meminta para sahabat membakar seluruh mushaf pribadi sehingga hanya ada satu mushaf Alquran.

" Beliau meminta kepada sahabat yang mempunyai mushaf pribadi, Ali bin Abi Thalib dan lain-lain untuk mengumpulkan dan membakarnya karena sudah ada mushaf standar resmi yang dibuat. Itu kepentingannya," kata Yunahar di Gedung MUI, Jakarta, Selasa 23 Oktober 2018.

Ketika itu, tak ada sahabat yang protes dengan keputusan Khalifah Usman. Sebab, mereka sudah mengetahui maksud dan tujuan dari perintah tersebut.

Selain itu, tambah Yunahar, Kalam Allah juga boleh dibakar jika terdapat pada potongan kertas yang tercecer. Pembakaran itu untuk menyelamatkan Kalam Allah dari potensi terinjak-injak.

" Bisa saja orang memusnahkannya untuk menjaga kemurniannya," kata Yunahar.

Menurut dia, kasus pembakaran bedera dengan kalimat Tauhid yang tengah menjadi viral tentu ada latar belakang sosialnya. Tetapi, Yunahar mengingatkan kondisi tersebut tidak boleh dilihat secara sederhana.

" Tidak bisa kita menyederhanakan seperti sebuah lembaran yang ditemukan terus dibakar, apalagi dibakarnya dalam sebuah acara yang ditonton banyak orang, diviralkan sehingga menimbulkan kegaduhan," ujar dia.

2 dari 2 halaman
asset dream.co.id
Beri Komentar
#Q&A - Dream Inspiring Woman 2018