Keterbatasan Tak Kendurkan Semangat Dokter Gaza

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 23 Juli 2014 05:05
Keterbatasan Tak Kendurkan Semangat Dokter Gaza
Para dokter yang bekerja di sana dituntut untuk memiliki kesabaran yang tinggi. Tidak cukup itu, mereka juga diharuskan berimprovisasi saat menangani pasien korban perang.

Dream - Rumah Sakit Shifa di jantung Kota Gaza menjadi harapan terakhir para korban agresi militer Israel akhir-akhir ini. Shifa, rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, hanya memiliki 11 ruang gawat darurat dan 6 ruang operasi.

Rumah sakit dengan 600 tempat tidur itu seakan tidak henti-hentinya menerima para korban serangan udara dan artileri Israel.

Para dokter yang bekerja di sana dituntut untuk memiliki kesabaran yang tinggi. Tidak cukup itu, mereka juga diharuskan berimprovisasi saat menangani pasien korban perang.

" Jika kita berada di tengah operasi (dan) lampu mati, apa yang orang-orang Palestina lakukan?" kata Mads Gilbert, relawan dokter asal Norwegia yang telah bekerja di Shifa selama 17 tahun.

" Mereka mengambil ponsel mereka dan menggunakan cahayanya sebagai lampu penerang meja operasi."

Korban luka akibat serangan Israel biasanya datang secara bergelombang. Lebih dari 3.000 warga Palestina sudah terluka dalam pertempuran selama dua minggu ini, kata pejabat kesehatan setempat. Banyak dari mereka dirujuk di Shifa, termasuk yang terluka parah.

Beberapa korban luka terpaksa dirawat di lorong dekat ruang gawat darurat. Seorang petugas medis membalut kaki seorang pekerja darurat yang menggeliat kesakitan di atas matras di lantai.

Seorang anak kecil dengan luka pecahan peluru tiba dan pekerja darurat tersebut terpaksa memberikan matrasnya untuk anak itu. Di dekat mereka, seorang wanita menangis histeris sementara sang suami menggendong anaknya yang telah mati. Yang lainnya menuntun seorang gadis remaja yang lengannya hancur terkena ledakan roket Israel.

Jihad Juwaidi, dokter bedah Shifa mengatakan ruang operasi yang hanya enam biji dipenuhi pasien dengan cepat. Bahkan, bagi yang terluka parah sekali pun harus antre untuk dioperasi.

" Memilih siapa yang akan diobati pertama sangat menyayat hati," kata Allam Nayef, yang bekerja di salah satu unit perawatan intensif Shifa.

" Kadang-kadang Anda harus memilih salah satu yang memiliki kesempatan terbaik untuk bertahan hidup," kata Nayef. " Di situasi yang serba buru-buru ini, kami kadang membuat keputusan yang buruk."

Nayef dan rekan-rekannya bekerja 24 jam secara bergantian setiap hari. Mereka hanya ditemani tempat penyimpanan dan sebuah sofa kecil untuk sekedar melepas lelah sebelum gelombang korban lainnya datang. (Ism)

1 dari 1 halaman

Butuh Kecerdikan

Dream - Semua orang di Shifa - dokter, perawat dan polisi Hamas - sudah tahu tugas-tugas mereka selama krisis. Rumah sakit Shifa dianggap relatif aman karena serangan udara Israel tidak mungkin menjadikannya target.

Bekerja di Shifa membutuhkan kecerdikan. Hanya tiga dari empat tempat tidur ICU Nayef memiliki ventilator. Satu rusak sejak lama dan tidak dapat diperbaiki. Nayef bilang dia pernah membuat kawat khusus untuk pacu jantung dari kabel Ethernet.

Gilbert, relawan Norwegia, membantu Shifa beberapa kali dalam setahun. Kali ini, ia membawa lampu bedah meski barang tersebut termasuk item yang dilarang Israel.

Gilbert merasakan ikatan emosional yang kuat dengan rekan-rekan Palestina. Menurutnya, mereka memberikan pelayanan yang baik dalam situasi yang menantang, tapi merasa terluka oleh sikap dunia yang apatis terhadap Gaza. Gilbert, 67 tahun, saat ini satu-satunya dokter asing di Shifa.

" Saya bukan pahlawan," kata dia. " Orang-orang inilah yang pahlawan. Ketika kita pergi, mereka tinggal di belakang."

Krisis telah menghadirkan kebersamaan dan membungkam perselisihan, kata Nayef, yang belum menerima gajinya dalam beberapa bulan.

" Jika kita bekerja hanya untuk gaji, tidak satu pun dari kita akan berada di sini sekarang," katanya. " Kami di sini untuk melayani karena pasien ini. Mereka adalah keluarga kita, teman-teman kita, tetangga kita."

Beri Komentar