Kisah Rasulullah Tegur Sahabat Lantaran Mengolok Bilal

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 23 Agustus 2019 20:00
Kisah Rasulullah Tegur Sahabat Lantaran Mengolok Bilal
Abu Dzar mendapat teguran itu langsung merasa menyesal.

Dream - Salah satu adab yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW dalam hubungan antarmanusia adalah menghormati orang lain. Salah satu caranya dengan tidak memanggil orang dengan julukan buruk, apalagi sampai mengolok.

Rasulullah bahkan tidak segan memberikan teguran tegas kepada sahabatnya yang tega mengolok orang lain. Salah satu sahabat yang pernah terkena teguran dari Rasulullah adalah Abu Dzar Al Ghiffari, yang riwayatnya diabadikan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

" Aku pernah menghina seseorang, dengan menyindir asal-usul keturunan dari ibunya," kata Abu Dzar dalam riwayat tersebut.

" Aku berkata, 'Hei kamu, anaknya orang hitam!'" kata Abu Dzar.

Panggilan itu ditujukan kepada seseorang yang memiliki kulit hitam. Para ulama menyebut orang yang dipanggil Abu Dzar adalah Bilal bin Rabah.

Dalam kitab syarah Irsyadus Sari tulisan Imam Al Qasthalani dijelaskan Abu Dzar mengeluarkan kalimat itu lantaran merasa jumawa. Sebab dia merasa berasal dari suku yang lebih terpandang.

1 dari 5 halaman

Teguran Keras Rasulullah

Mendengar ucapan Abu Dzar, Rasulullah segera menegurnya.

" Benarkah kau baru saja menghina pria itu, dengan mengejek pribadi ibunya? Ketahuilah wahai Abu Dzar, perbuatanmu itu adalah perilaku orang-orang jahiliyah yang tercela," kata Rasulullah.

Abu Dzar langsung menyesal mendapat teguran itu. Rasulullah lalu melanjutkan tegurannya.

" Pembantu-pembantu kalian itu juga saudara kalian," ucap Rasulullah.

Rasulullah kembali meneruskan ucapannya.

" Allah telah menjadikan mereka menjadi tanggungan kalian. Siapapun yang menjadikan saudaranya sebagai budak atau tanggungannya, maka tuannya harus memberi makanan sama seperti yang ia makan, pakaian sebagaimana yang ia pakai, serta tidak membebani mereka dengan pekerjaan yang bikin mereka payah," tegas Rasulullah.

" Kalau di antara kalian ada yang membebani mereka dengan kerja yang sangat berat, maka bantulah mereka," demikian pesan Rasulullah.

Abu Dzar sangat menyesal dengan teguran itu. Dia benar-benar merasa bersalah kepada Bilal.

(Sah, Sumber: Islami.co)

2 dari 5 halaman

Amalan yang Buat Sahabat Rasulullah Berlomba-lomba Melakukannya

Dream - Wakaf, amalan sunah berupa berbagi harta untuk kebajikan kini kembali digalakkan di kalangan kaum muda Islam di Indonesia. Muslim muda Indonesia makin gemar berbagi sebagai bentuk implementasi ajaran agama.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, keinginan untuk berwakaf juga semakin dimudahkan. Banyak lembaga amil bahkan perbankan membuka program wakaf.

Sebenarnya, apa keutamaan wakaf hingga disyariatkan dalam Islam?

Dikutip dari NU Online, para pakar fikih menerangkan wakaf merupakan amalan sedekah harta permanen dengan pemanfaatan yang dibekukan khusus untuk hal-hal yang dibolehkan menurut syariat. Ketika harta telah diwakafkan, maka statusnya tidak boleh dijual maupun dihibahkan.

 

3 dari 5 halaman

Dalil Pensyariatan Wakaf

Beberapa dalil yang menjadi dasar pensyariatan wakaf seperti Surat Ali Imron ayat 92.

" Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Ayat ini diperjelas dengan hadis riwayat Muslim.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, " Ketika anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya."

 

4 dari 5 halaman

Apa Itu Wakaf?

Ulama menafsirkan sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya) dalam hadis di atas sebagai wakaf. Ini karena wakaf merupakan satu-satunya sedekah yang dapat dimanfaatkan secara permanen oleh penerimanya.

Hal ini bisa terjadi karena syariat mengharuskan pemanfaatannya dibekukan, murni hanya untuk pihak penerima wakaf. Pahala wakaf akan mengalir kepada orang yang melakukan seiring harta wakaf tersebut dijaga kelestariannya oleh banyak orang.

Inilah yang membedakan wakaf dengan sedekah biasa atau hibah. Pada sedekah, tidak ada jaminan pahalanya lestari. Karena bisa jadi penerimanya langsung memanfaatkan harta sedekah sampai habis seketika.

Demikian pula dengan hibah sesuatu seperti tanah. Bisa jadi penerima hibah menjual tanah yang didapatnya sehingga pahala bagi pemberi hibah seketika terhenti begitu tanah berpindah kepemilikan.

Syeikh Khatib As Syarbini dalam kitab Mughni Al Muhtaj menjelaskan demikian.

" Sedekah jariyah diarahkan kepada wakaf menurut para ulama seperti yang dikatakan imam Ar Rafi'i, sesungguhnya selain wakaf dari beberapa sedekah tidak mengalir pahalanya, bahkan pihak yang diberi sedekah memiliki benda dan manfaatnya secara langsung. Adapun wasiat dengan beberapa manfaat meski tercakup oleh hadis, akan tetapi jarang diterapkan. Maka mengarahkan sedekah dalam hadis atas arti wakaf lebih utama."

 

5 dari 5 halaman

Wakaf di Masa Rasulullah, Amalan Ngetren

Di masa Rasulullah, wakaf menjadi amalan yang sangat digemari para sahabat. Setelah Rasulullah bersabda mengenai keutamaan wakaf, para sahabat berlomba-lomba mewakafkan hartanya seperti kebun kurma, sumur, dan masih banyak lagi.

Bisa dibilang, wakaf jadi tren kala itu. Tidak ada satupun sahabat yang mampu secara keuangan yang tidak berwakaf. Bahkan dalam catatan Imam Syafi'i, ada 80 sahabat dari golongan Anshar yang mewwakafkan harta mereka.

Syeikh Musthafa Al Khin dalam Al Fiqh Al Manhaji mengutip riwayat yang menjelaskan bagaimana para sahabat Rasulullah kala itu gemar sekali berwakaf.

" Dan telah masyhur berwakaf di antara sahabat dan menyeluruh, sehingga sahabat Jabir berkata, 'tidaklah tersisa dari para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan (finansial) kecuali mewakafkan hartanya.' Al Imam As Syafi'i berkata, 'telah sampai kepadaku bahwa 80 sahabat dari Anshar bersedekah dengan sedekah yang diharamkan (dijual dan dihibahkan).' As Syafi'i mengucapkan redaksi 'sedekah yang diharamkan' ini untuk arti wakaf."

Begitu luar biasanya keutamaan wakaf bagi umat Islam. Meski pewakifnya telah tiada, manfaatnya tetap bisa dirasakan oleh umat Islam hingga akhir zaman.

Beri Komentar
Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo