Kisah 2 Pilot Selamat Usai Pesawat Tabrak Gunung dan Terbakar Hebat

Reporter : Sugiono
Sabtu, 16 Januari 2021 15:33
Kisah 2 Pilot Selamat Usai Pesawat Tabrak Gunung dan Terbakar Hebat
Mereka lolos dari maut setelah pesawat menabrak gunung dan terbakar.

Dream - Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa agar selalu diberikan keselamatan, namun tetap saja Tuhan yang menentukan segalanya.

Kisah dua pilot, Sigit Hani Hadiyanto dan Dwi Krismawan, cukup membuat tercengang. Mereka lolos dari maut setelah pesawat mereka menabrak gunung.

Tragedi pada 28 Januari 1997 silam membuat tubuh keduanya terbakar sangat parah. Hingga kini, bekas luka bakar tersebut masih terlihat begitu jelas.

1 dari 6 halaman

Pesawat Normal dan Laik Terbang Saat Tabrak Gunung

Waktu itu, Kapten Sigit Hani Hadiyanto yang bertugas sebagai instruktur penerbang, mendampingi Dwi Krismawan melakukan penerbangan kloter kedua.

Sigit yang baru setahun mengawali karier sebagai instruktur penerbang sejak 1996, telah melakukan pemeriksaan sebelum lepas landas bersama.

Kapten Sigit Hani Hadiyanto.© Metro TV News

Saat melakukan pemeriksaan pesawat, Sigit tidak menemukan masalah. Pesawat tidak mengalami kerusakan teknis hingga dinyatakan laik terbang.

Meski demikian, yang namanya musibah tidak bisa terhindarkan. Pesawat tersebut mengalami kecelakaan, tanpa sengaja menabrak daratan.

" Kalau di penerbangan kita ada istilah khususnya yang kita alami, CFIT (Controlled Flight Into Terrain). Pesawat itu tidak mengalami masalah teknis apa pun.

" Tapi kondisi ternyata membuat kita terlalu dekat dengan Gunung Gede di Bogor. Kemudian pesawatnya jadi crush dan sayapnya terbakar," kata Sigit seperti dikutip dari kanal YouTube metrotvnews.

2 dari 6 halaman

Pingsan dan Terbakar di Dalam Kokpit Pesawat

Begitu terjadi tabrakan, kedua pilot tersebut hilang kesadaran. Api yang menjalar dari sayap pesawat kian membesar dan membakar tubuh keduanya.

" Memang pada saat impact atau crush itu, kemungkinan kita berdua kehilangan kesadaran. Dan tadi yang saya sampaikan, sayangnya terus kemudian pesawatnya terbakar. Dan kita berdua masih di dalam akhirnya kami menderita luka bakar seperti ini," ujar Sigit.

Sigit yang pertama kali siuman. Dia langsung mencari keberadaan Dwi yang ternyata sudah keluar dari kokpit duluan. Setelah itu baru dia berani keluar dari kokpit pesawat.

" Begitu saya siuman, kondisi pesawat sudah berhenti di lereng gunung. Saya menengok ke sebelah kiri karena murid saya di situ.

" Saya panggil namanya, ternyata merespon dan sudah di luar. Berarti satu situasi itu sudah tertangani. Baru saya keluar sendiri," imbuhnya.

3 dari 6 halaman

Jalani Operasi, Sempat Minder Bertemu Orang

Usai kebakaran hebat itu, Sigit harus menjalani serangkaian operasi dan perawatan paru-paru. Jari jemarinya sudah tak bisa bergerak leluasa seperti sedia kala. Kapten Sigit mengalami luka bakar 27 persen.

" Saya menderita luka bakar sekitar 27 persen, di lengan kiri, lengan kanan dan di kepala dengan grade tiga. Which is yang paling serius," ungkap Sigit.

Setelah menjalani perawatan yang cukup lama, Sigit akhirnya diperbolehkan menjalani pekerjaannya lagi.

Namun ada keraguan yang muncul di hatinya. Dia khawatir orang lain akan takut atau bereaksi berbeda melihat kondisi dirinya.

" Sebetulnya ada keraguan di diri saya sendiri. Saya ingat waktu mau berangkat ke kantor, karena dekat hanya jalan kaki.

" Saya berhenti cukup lama di pintu mess, antara mau berangkat atau tidak. Saya tidak yakin, bagaimana orang akan bereaksi dengan kondisi saya ini. Tantangan ada di diri saya," katanya.

4 dari 6 halaman

Minta Suntik Mati, Takut Tak Punya Masa Depan

Sementara itu, Dwi yang saat itu berusia 26 tahun, bingung harus berbuat apa lagi. Luka bakar 50 persen telah mengubah tubuhnya.

Dwi Krismawan.© Metro TV News

Dwi mengaku mengalami depresi sampai pernah meminta suntik mati lantaran takut akan masa depannya.

Menurut Dwi, tingkat luka bakarnya cukup tinggi, antara grade dua dan tiga atau sekitar 50 persen.

" Saya terjebak dalam kokpit itu hampir 60 menit. Jadi sampai jaringan tanduk, jaringan tulang, sampai paru-paru saya penuh dengan flek.

" Tenggorokan sempat dilubangi. Sampai divonis sama dokter, Dwi nggak bisa ngomong karena pita suara rusak," ungkap Dwi.

5 dari 6 halaman

Berusaha Bangkit dari Keterpurukan

Setelah berusaha bangkit dari keterpurukan, kini Sigit menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Standarisasi Kelaikan Keudaraan dan Operasi Pesawat Udara Kementerian Perhubungan. Dia bertanggung jawab terhadap standarisasi dan operasi penerbangan di seluruh wilayah Indonesia.

Cinta dan kasih sayang istrinya Menuk Sudarwati yang begitu tulus dan tak memandang fisik membuat Sigit tetap bisa bertahan. Pasangan ini telah dikaruniai tiga putri yang membanggakan.

" Dia (istri) yang selalu meyakinkan saya, bahwa setiap persoalan itu ada jalan keluarnya. Minimal dari pekerjaan saya, ada yang bisa saya kontribusikan.

" Setiap hari dia mendampingi saya. Alhamdulillah kami juga sudah diberi momongan tiga buah hati. Saya dengan segala kerendahan hati, berharap bisa untuk istri saya," paparnya.

6 dari 6 halaman

Berjuang untuk Kemanusiaan

Sedangkan Dwi saat ini menyibukkan diri untuk mengabdi pada masyarakat. Terutama untuk anak-anak korban kekerasan maupun yang terjerat kasus dan menjadi tersangka.

Selain itu, ia juga mengajar bahasa Inggris secara sukarela. Kini Dwi telah bangkit. Meski fisik berubah, tapi hatinya tetap penuh cinta dan kasih sayang untuk sesama.

" Akhirnya kami dirikan Yayasan Ikatan Cinta Indonesia. Semenjak itu kami keliling Indonesia memberi edukasi tentang child protection, mendampingi anak-anak yang membutuhkan pendampingan di pengadilan. Serta melatih komputer di penjara anak. Di atas tanah itu ingin saya dirikan sekolah," tutur Dwi.

" Saya bersyukur, ada kesulitan dari kehidupan saya, dan Tuhan hadirkan penolong yang luar biasa," pungkas Dwi.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar