Kisah Berliku Hijaber Cantik `Yaz The Paz`

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 17 Juni 2014 10:51
Kisah Berliku Hijaber Cantik `Yaz The Paz`
Muslimah blasteran Turki dan Kuba ini mengaku sangat sulit saat awal mengenakan hijab. Apalagi muslim Amerika Serikat harus hidup dalam tekanan setelah pengeboman Gedung WTC.

Dream - Muslimah Amerika Serikat ini berkibar di kalangan hijaber dunia. Namanya Yasemin. Namun para hijaber dunia lebih mengenal guru hijab profesional yang kaya tips ini dengan nama `Yaz The Spaz`.

Muslimah blasteran Turki dan Kuba ini mengaku sangat sulit saat awal mengenakan hijab. Mulai memutuskan untuk berhijab, mencari identitas, hingga menjadi stylist hijab paling terkenal di Negeri Paman Sam. Itu semua membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perjalanannya sungguh berliku.

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga muslim, Yaz The Spaz sudah mendapat segala wejangan tentang berhijab. Sejak kecil dia selalu menerima nasihat dari sang ibu bahwa seorang muslimah wajib mengenakan penutup aurat jika sudah masuk masa puber alias balig.

Ibunya telah menanamkan nilai-nilai dan keindahan mengenakan hijab. Untuk menjadi berlian yang murni, bersih dan lembut maka tugas wanita Muslim untuk menutupi dirinya sendiri. Jadi, dengan pesan yang selalu didengungkan tersebut, jika waktunya sudah tiba memakai hijab, akan terasa biasa saja.

Inilah yang selalu dianut Yaz The Paz dari sang ibu. " Beliau inspirasi saya, panutan, motivator, dan segalanya bagi saya," tutur Yaz The Paz dikutip Dream.co.id dari blognya, www.yazthepaz.com, Selasa 17 Juni 2014.

Meski sejak kecil telah mendapat berbagai nasihat, bukan berarti Yaz langsung menjadi remaja yang penurut. Sebelum berhijab, kehidupan Yaz saama seperti remaja Amerika lainnya. Dia kerap menerjang aturan. Keluar rumah dengan tujuan tak jelas. Hingga akhirnya tibalah masa akil balig itu. Yaz wajib berhijab mulai 2001.

Tahun pertama, Yaz sangat sulit menjalani hidup dengan hijabnya. Semua teman sudah terbiasa melihatnya tanpa hijab. Tiba-tiba dia muncul dengan kerudung di kepala. Jadi agak sulit bagi mereka untuk mengenali tampilan baru Yaz.

Namun, lama-lama Yaz merasakan ada perubahan dalam hidup setelah menutup aurat. Dia bahkan meras aperubahan itu bagai berbalik 180 derajat dari gaya hidup semula. Yaz merasa lebih rendah hati, punya rasa malu, harga diri, serta menghormati orang lain.

Meski demikian, dia tetap saja belum mantap untuk berhijab. Kerudung-kerudung yang dia kenakan pada masa awal itu baru sebatas penutup kepala. Gayanya masih sebatas seperti bandana, di mana lehernya masih terlihat secara jelas. Dia menyadari transisi untuk berhijab penuh masih butuh waktu.

Hati belum sepenuhnya mantap berhijab. Namun cobaan kembali datang. Bersama muslim Amerika dan dunia, Yaz turut terimbas tragedi pengeboman gedung World Trade Center pada 2002. Hidup sebagai muslim, terutama di Amerika, saat itu memang sangatlah berat. Seluruh mata seolah memandang curiga.

Lagi-lagi, orangtua Yaz berperan. Dia selalu dinasihati untuk bersabar dan selalu aktif di segala kegiatan dan organisasi sosial di sekolah. Inilah cara yang ditempuh Yaz untuk mencegah orang lain memandang remeh muslim, apalagi menyebutnya 'teroris'.

Tiga tahun berikutnya, Yaz mulai menemukan jati diri dalam berhijab. Gaya kerudungnya bahkan mulai berkembang. Dari sekedar gaya bandana berubah menjadi gaya persegi yang menutupi bagian bawah dagu. Gaya Yaz kemudian bergeser ke gaya semi Arab dengan syal longgar persegi panjang menggantung di atas kepala.

Hingga saat ini, muslimah yang menikah tahun lalu ini telah membuat berbagai gaya hijab modis yang mencerminkan berbagai budaya sambil tetap menjaga fungsi asli hijab sebagai penutup aurat muslimah. " Ketika berhijab, saya pikir sangat penting untuk memiliki berbagai model. Ketika mengenakan hijab, kita harus merasa nyaman, cantik, dan percaya diri," kata dia.

Tak hanya untuk diri sendiri, sarjana Biologi ini juga membagi pengalaman ini kepada muslimah lain. Terutama bagi mereka yang baru mulai berhijab. Menurut YazThePaz, banyak gadis-gadis yang ragu memakai hijab karena merasa takut jelek. Namun itu merupakan perasaan yang umum terjadi namun.

Yaz selalu mengajarkan bahwa kecantikan datang dari dalam. Jadi memakai atau tidak memakai hijab, sebagai seorang muslim, kecantikan selalu ada di hati yang tercermin melalui tindakan dan kerendahan hati.

" Saya harap saya bisa menginspirasi banyak gadis dan perempuan untuk menjadi cantik baik di luar maupun dalam. Mari kita tumbuh bersama untuk menjadikan kita lebih baik di daripada semuanya," tutur Paz. (Ism)

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair