Kisah Getir Sopir Ojol Antar Belanja Sejauh 29 Km, Uang Tipnya Bikin Miris

Reporter : Sugiono
Kamis, 16 April 2020 10:42
Kisah Getir Sopir Ojol Antar Belanja Sejauh 29 Km, Uang Tipnya Bikin Miris
Padahal orang yang memesan belanjaan tersebut bergelar bangsawan.

Dream - Bagi sebagian orang, belanja kebutuhan pokok lewat driver ojek online (driver ojol) lebih mudah dan menghemat tenaga. Setelah menentukan barang yang akan dibeli, driver ojol yang akan belanja kebutuhan kamu.

Driver ojol ini pula yang akan mengantarkan barang belanja pesanan kamu ke rumah. Nah, para driver ojol yang membantu kamu belanja barang ini disebut dengan personal shopper.

Bekerja menjadi personal shopper memang terlihat menyenangkan. Namun di balik itu semua, ada tantangan tersendiri yang harus mereka hadapi.

Selain berhujan panas setiap mengantarkan barang, para personal shopper ini juga berhadapan dengan pelanggan yang tidak ramah. Sementara mereka terkadang menerima upah yang tidak sepadan.

Seorang personal shopper di Malaysia membagikan pengalamannya ketika berhadapan dengan pelanggan bergelar bangsawan 'datin'.

1 dari 5 halaman

Biaya Layanan Dibayar Seikhlasnya

Personal shopper bernama Abdul Razak Juddin mengatakan insiden itu terjadi dua tahun lalu ketika dia belum menetapkan biaya atas jasanya.

Pria berusia 26 tahun itu mengatakan awalnya biaya layanannya lebih kepada 'seikhlasnya'. Karena banyak yang mengeluh biaya yang dikenakan dianggap tidak masuk akal saat itu.

" Waktu itu saat orang bertanya biaya layanannya, saya enggan mengatakannya. Karena jika menetapkan biaya, mereka bilang kemahalan. Jadi biarlah upah saya dibayar dengan itikad baik.

" Dengan harapan mereka paham tugas kami sebagai personal shopper. Tidak hanya harus antre panjang saat membayar, kami juga kepanasan dan kehujanan saat mengantarkan barang," kata Abdul Razak.

2 dari 5 halaman

Dapat Pelanggan Tidak Ramah

Mengenai kisah 'datin' yang viral di media sosial, pria asal Tawau, Sabah, mengatakan ia menerima pesanan untuk membeli kebutuhan dari seorang wanita yang tinggal di bungalow berlantai dua di daerah itu.

Tidak ingin berkomentar lebih lanjut tentang identitas kliennya, Abdul Razak mengatakan datin tersebut menghubunginya berulang kali.

" Dia tanya 'Kamu sekarang di mana, sudah siap belum? Jangan tipu saya, nanti saya viralkan nama kamu'. Waktu itu saya kaget mendengarnya," kata Abdul Razak.

Dia pun langsung menata barang belanja di motornya, mengambil gambar nota pembelian dan mengantarkan ke rumah datin tersebut.

3 dari 5 halaman

Seperti Seorang Kuli dengan Upah Tak Sepadan

Perjalanan ke bungalow datin berjarak 29 kilometer tidak terlalu jauh bagi Abdul Razak. Tetapi dia sangat lelah setelah bertemu dengan wanita berwajah garang itu.

" Datin suruh saya taruh belanjaan senilai 195.90 ringgit (Rp708 ribu) itu ke dapur. Kemudian dia bilang, 'Nah! Ini ambil 200, sisanya buat upah kamu bawa belanjaan ke dapur.

" Ya Allah, pada saat itu hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaan saya menerima sisa 4.10 ringgit (Rp15 ribu) sebagai upah untuk membeli dan mengantarkan belanjaan yang dia pesan hingga ke dapur rumahnya," kenang Abdul Razak yang mulai menjadi personal shopper sejak 2015 ini.

4 dari 5 halaman

Mensyukuri Rezeki dari Allah

Abdul Razak mengakui bahwa saat itu biaya layanannya memang seikhlas hati pelanggan yang menggunakan jasanya. Tapi perlakuan datin tersebut kepadanya lebih seperti seorang kuli. Sungguh menyedihkan.

Selain itu, upah 4.10 ringgit itu belum menutupi biaya bensin sepeda motor sekitar 60 kilometer, tenaga dan waktu yang dihabiskannya dalam perjalanan.

" Tapi saya percaya pada rezeki. Upah 4.10 ringgit itu saya belikan permen dan es krim untuk dua anak saya. Hari itu memang rezeki mereka," katanya.

5 dari 5 halaman

Terharu dengan Perkataan Anak-anak

Namun yang membuat Abdul Razak merasa sedih dengan upah tersebut adalah ucapan anak laki-lakinya yang masih berusia empat tahun.

" Saya terharu karena anak-anak mengerti tentang kelelahan ayahnya. Anak saya yang berusia empat tahun bilang sambil tunjuk uang 10 sen 'Ini adalah upah Ayah, simpan saja untuk beli bensin nanti saat bekerja'. Saya menangis mendengarnya," kata Abdul Razak.

Menurut Abdul Razak, sejak kejadian itu, ia telah menetapkan biaya layanan minimal 10 ringgit (Rp36 ribu). Tergantung pada jumlah barang dan jarak pengiriman.

Ini termasuk kemampuannya untuk mengambil barang curah karena hanya menggunakan sepeda motor untuk melakukan pengiriman barang.

Sharing saya ini hanya ingin menunjukkan bahwa meskipun kami tidak menetapkan nilai upah, kami sebagai personal shopper punya harga diri. Kami juga manusia, punya hati dan perasaan," katanya.

Sumber: MStar.com.my

Beri Komentar