Kisah Keluarga Pasien Covid, Wajah Ibu Berseri Sebelum Meninggal dalam Tidur

Reporter : Sugiono
Selasa, 8 Juni 2021 15:12
Kisah Keluarga Pasien Covid, Wajah Ibu Berseri Sebelum Meninggal dalam Tidur
Namun yang paling terpukul adalah sang ayah karena kehilangan teman hidup menjalani susah senang sejak 49 tahun lalu.

Dream - Tanggal 28 Mei 2021 akan menjadi hari yang tak akan dilupakan oleh Siti Raudhah Md Yatim sehingga akhir hayatnya.

Pada tanggal itulah sang ibu, Hajah Saby Musa, menghembuskan nafas terakhir setelah seminggu dirawat karena tertular Covid-19.

Menurut wanita 39 tahun dari Malaysia itu, semuanya berawal pada hari kedua Idul Fitri (14 Mei) lalu. Saat itu, ayahnya mengalami demam, disusul oleh adik lelaki dan ibunya dua hari kemudian.

1 dari 6 halaman

Kisah Keluarga Pasien Covid, Wajah Ibu Tampak Berseri Meninggal dalam Tidur

" Emak, abah dan adik tinggal serumah di Sungai Buloh, Selangor. Karena ketiganya demam, salah seorang kakak datang ke sana untuk membawa mereka ke klinik. Tapi waktu itu masih belum sempat swab test.

" Keesokannya, emak mulai menunjukkan gejala yang biasa dialami oleh pasien Covid-19. Pada 18 Mei, tersebar kabar kalau ada jemaah masjid dekat rumah emak dan abah juga positif Covid-19," kata Siti.

Siapa yang ada datang ke masjid mulai tanggal 10 hingga 14 Mei diminta melakukan swab test. Ibu, abah, adik lelaki, kakak dan abang ipar Siti melakukan swab test. Ternyata hasilnya yang keluar pada 21 Mei menunjukkan mereka semua positif Covid-19.

2 dari 6 halaman

Hanya Telepon dan Video Call yang Jadi Pengobat Rindu

Siti mengatakan hasil swab test tersebut merupakan kabar duka buat keluarga mereka. Apalagi mengingat kedua orangtuanya yang sudah lanjut dan mempunyai riwayat penyakit.

" Pada 22 Mei, emak, abah dan adik dibawa ke pusat karantina. Tapi keesokannya, emak dipindahkan ke rumah sakit Kuala Lumpur karena SpO2 (kandungan oksigen dalam darah) memburuk. Lagi pula emak ada riwayah darah tinggi, kencing manis dan juga stroke ringan.

" Maka berpisahlah emak dengan abah buat sementara waktu. Bayangkan emak di rumah sakit, adik dan abah di pusat karantina. Sementara kakak dan suaminya karantina di rumah. Hanya panggilan telefon saja yang menghubungkan kami semua," ujar Siti.

3 dari 6 halaman

'Sisir Rambut Emak dan Minta Maaf Atas Segala Kesalaha'

Beberapa hari kemudian, dokter meminta semua ahli waris untuk datang ke rumah sakit untuk membahas keadaan kesehatan ibunya Siti.

" Dokter berterus terang dan beritahu keadaan emak 50-50. Emak masih sadar namun dia perlu bantuan oksigen. Dokter bilang jika ada pasien yang lebih muda dari emak, mereka terpaksa memilih pasien tersebut karena peluang 'bertahan hidupnya' lebih tinggi," kata Siti.

Mendengar penjelasan dokter, Siti dan keluarganya hanya bisa pasrah. Dia ridha dan menyerahkan segala-galanya kepada Allah.

" Dengan memakai pakaian pelindung, saya diizinkan masuk bertemu emak. Waktu itu emak masih sadar dan bisa berbicara meski dengan tersengal-sengal.

" Saya sempat bacakan surat Yasin dan sisir rambut emak. Saya juga pakaikan kerudung, dan minta maaf atas segala kesalahan. Saya coba untuk tak menangis di depannya walaupun sudah tidak kuat menahannya," ujarnya.

4 dari 6 halaman

Di Video Call Itu, Emak Terlihat Ceria

Pada 28 Mei Subuh, ibunya sempat membuat panggilan telefon dengan ayahnya dan mereka saling bermaaf-maafan. Paginya setelah Subuh, kakaknya juga sempat buat video call dengan ibunya.

Kakaknya mengatakan wajah ibunya pada pagi itu terlihat sangat berseri. Mungkin kesehatannya ada sedikit kemajuan.

" Namun, sekitar pukul 7.50 pagi, kami dapat kabar yang tak disangka-sangka. Dokter memberitahu emak menghembuskan nafas terakhir dalam tidurnya.

" Ya Allah.... mudahnya cara emak pergi. (Meninggal) dalam tidur dan di hari Jumat pagi pula," cerita Siti dalam nada suara sedih.

5 dari 6 halaman

Sepeninggal Emak, Ayah Tak Mau Masuk Rumah dan Menjamah Makanan

Menurut Siti, dia sangat sedih dengan kepergian ibu yang disayanginya. Namun, ayahnya adalah orang yang paling sedih karena kehilangan teman hidupnya yang telah mengalami susah senang bersama sejak 49 tahun lalu.

" Abah diizinkan pulang pada 30 Mei, dua hari selepas emak pergi untuk selamanya. Waktu sampai di rumah, abah terlalu sedih dan tak mau masuk dalam rumah sebab emak sudah tak ada.

" Luluh hati kami lihat abah... mereka memang selalu melakukan semuanya bersama-sama. Pakaian pun mau yang sama. Betapa romantisnya mereka," ujar Siti.

6 dari 6 halaman

Selalu Temani Ayah Agar Tidak Merasa Sendirian

Kata Siti, lama juga dia berusaha untuk membujuk dan menenangkan ayahnya sebelum akhirnya mau masuk ke dalam rumah.

Untuk sementara waktu, Siti yang menemani ayahnya. Dia memasak yang biasa dimasak ibunya dan memastikan ayahnya tidak terlalu sering sendirian.

Kini, keadaan ayahnya semakin membaik, dan pelan-pelan sudah mau menjamah makanan yang dimasak oleh Siti.

" Saya merasakan pedihnya kehilangan anggota keluarga karena Covid-19. Namun kami menerimanya dengan ridha.

" Jadi bagi mereka di luar sana, harap kita semua ada kesadaran untuk sama-sama lawan Covid-19.

" Memang semua rindu keluarga tapi buat sementara ni, video call dulu. Kalau ada yang betul-betul 'pergi selamanya', sudah tidak bisa lihat wajah dan ngobrol seperti biasa," pungkasnya.

Sumber: mStar

Beri Komentar