Kisah Mereka yang Terpaksa Tinggal di Kota Pusat Wabah Corona

Reporter : Sugiono
Rabu, 4 Maret 2020 13:49
Kisah Mereka yang Terpaksa Tinggal di Kota Pusat Wabah Corona
Kisah-kisah mereka yang terjebak atau sengaja tetap tinggal di Wuhan.

Dream - Hampir 60 juta warga Kota Wuhan di Provinsi Hubei, China, diisolasi dalam jangka waktu yang tidak terbatas sejak awal Februari 2020 akibat wabah virus corona baru.

Kota yang jumlah penduduknya lebih padat daripada London atau New York itu menjadi pusat penyebaran wabah virus corona baru, yang kemudian disebut dengan COVID-19.

Hingga saat ini, lebih dari 3.000 orang meninggal akibat COVID-19. Sementara yang terinfeksi telah mencapai angka lebih dari 90.000 kasus di seluruh dunia.

Rekor kasus COVID-19 terbanyak masih dipegang oleh China. Menurut data Worldometers, terdapat 80 ribu lebih kasus COVID-19 di China, dengan kematian mencapai 2.900 orang. Angka-angka ini akan terus bertambah.

Wabah COVID-19 ini telah mendorong pemerintah China melakukan langkah-langkah pengendalian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka telah mengisolasi seluruh Wuhan serta kota-kota lain dalam dua bulan terakhir.

Hampir 60 juta orang di Wuhan di bawah pengawasan dan batasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Transportasi umum, toko-toko, supermarket dan penerbangan semuanya lumpuh. Bagi mereka yang terisolasi, suasana Kota Wuhan mirip dengan film horor.

Dilansir ABC News Australia, berikut ini kisah-kisah mereka yang terjebak atau sengaja tetap tinggal di Wuhan.

1 dari 4 halaman

Menangis Setiap Hari

Wabah COVID-19 menimbulkan kecemasan dan ketegangan yang tak henti-hentinya bagi para dokter dan perawat yang harus merawat pasien yang terinfeksi.

Belum lagi aturan yang mengharuskan mereka untuk tidak menyebarkan informasi secara sembarangan mengenai kasus virus corona yang mereka tangani.

Namun seorang perawat yang tidak mau disebut identitasnya mengatakan bahwa kondisi mereka dalam merawat pasien corona sungguh memprihatinkan.

" Kami tidak lagi mendapat pasokan obat dan alat medis yang memadai sejak kota ini diisolasi. Belum pasien juga mudah marah dan tidak tahu berterima kasih," katanya.

" Rekan-rekan kami juga banyak yang dikarantina dan diisolasi. Banyak dari mereka adalah tim dokter rumah sakit. Mereka sangat sakit. Kami jadi sangat emosional dan hanya bisa menangis setiap hari," ujarnya.

Perawat itu menambahkan banyak rekan-rekannya yang memilih lari dari tugas karena sudah tidak tahan. " Kami mungkin mengikuti jejak mereka satu hari nanti," katanya.

2 dari 4 halaman

Tinggal di Rumah Dianggap Berkontribusi Pada Negara

Sementara itu, bagi sebagian warga Wuhan maupun warga China pada umumnya, tetap tinggal di dalam rumah dianggap telah berkontribusi pada negara.

Mereka bahkan mendukung langkah-langkah pemerintah melakukan isolasi terhadap seluruh kota Wuhan sebagai langkah mengurangi penyebaran virus COVID-19.

" Mereka percaya bahwa tinggal di dalam rumah selama masa epidemi merupakan kontribusi yang dapat dilakukan untuk ibu pertiwi," kata Lu Xinhua, seorang mantan tahanan politik di Wuhan.

3 dari 4 halaman

Tak Mau Lari dari Tanggung Jawab

Pelatih kuda balap asal Melbourne, Australia, Rui Severino, tak sengaja terjebak di pusat penyebaran virus COVID-19, Wuhan.

Namun dia memutuskan tetap berada di kota itu agar bisa selalu dekat dengan kuda-kuda dan tim pelatih kudanya.

" Secara psikologi memang susah bagi saya. Karena tidak bisa ke mana-mana akibat diisolasi," kata Severino.

Namun Severino merasa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya karena ada tim dan tanggung jawab yang besar di Wuhan.

" Saya percaya isolasi ini tidak akan mengganggu privasi maupun hak-hak asasi saya," katanya.

4 dari 4 halaman

Terjebak Saat Meliput Tahun Baru China

Ke Mo, fotografer asal Australia, seharusnya hanya seminggu di Wuhan untuk meliput Tahun Baru China. Tapi karena ada wabah COVID-19, dia terpaksa tinggal di kota itu sampai batas waktu tidak ditentukan.

Dia telah melewatkan beberapa evakuasi yang dilakukan pemerintah Australia. Karena prioritas evakuasi hanya diberikan kepada orang tua, wanita dan anak-anak.

" Saya memahami hal itu, dan saya senang jika pemerintah (Australia) mendahulukan mereka yang lebih membutuhkan (dievakuasi)," katanya.

Namun, sebagai warga negara asing yang seharusnya berada di Wuhan selama seminggu, Mo telah kehabisan uang. Dia mulai meminjam uang dari teman dan rekannya untuk bertahan hidup.

Untuk sementara, Mo tinggal di hotelnya secara gratis. Untuk makan, Mo mengaku mulai sulit menemukan bahan makanan berkualitas.

" Daging yang biasa saya beli sebelumnya sudah habis. Sekarang hanya ada telur, sayuran, dan sedikit buah yang tersisa," katanya.(Sah)

Beri Komentar