Kisah Mulia Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Bersyukur

Reporter : Ulyaeni Maulida
Selasa, 30 Juni 2020 13:46
Kisah Mulia Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Bersyukur
Kisah Abu Qilabah mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala cobaan yang menimpa.

Dream – Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah sahabat Nabi. Salah satunya kisah dari Abu Qilabah, sahabat Nabi yang mengajarkan tentang arti bersyukur.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqat, kisah ini diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad, ia mengatakan, " Suatu hari, aku pernah berada di daerah perbatasan, wilayah Arish di negeri Mesir. Aku melihat sebuah kemah kecil, yang dari kemahnya menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang sangat miskin. Lalu aku pun mendatangi kemah yang berada di padang pasir tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya.

Kemudian aku melihat seorang laki-laki. Namun bukan laki-laki biasa. Kondisi laki-laki ini sedang berbaring dengan tangan dan kakinya bunting, telinganya sulit mendengar, matanya buta, dan tidak ada yang tersisa selain lisannya yang berbicara.

Dari lisannya ia mengucapkan, 

 Bersyukur© Dream.co.id

“ Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…”

1 dari 4 halaman

Rasa Syukur Abu Qilabah Di Tengah Segala Cobaan Hidup

 sahabat Nabi© Instagram/Rumahzakat

Kemudian aku pun menemuinya, dan berkata kepada orang itu, “ Wahai saudaraku, nikmat Allah mana yang engkau syukuri?”

Kemudian laki-laki pemilik kemah itu menjawab, “ Wahai saudara, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan, niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku atau gunung api yang pasti aku akan terbakar atau dijatuhkan langit kepadaku yang pasti akan meremukkanku. Aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur.”

Aku kembali bertanya, “ Bersyukur atas apa?”

“ Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal, ”jawabnya.

“ Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “ Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?” ucapku.

“ Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?”

“ Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?”

“ Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?”

“ Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” Tanyanya.

Ia terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Dan aku semakin takjub dengan kekuatan iman yang dimilikinya.

2 dari 4 halaman

Abu Qilafah Meminta Pertolongan

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis. Ia berkata: “ Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku.

Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja. Dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…” Aku pun menyanggupi permintaannya. Dan pergi mencari keberadaan anaknya. Setelah beberapa waktu, akhirnya kudapati sebuah kenyataan pedih.

Ternyata anak lelaki itu telah tewas dimakan oleh serigala. Yang kini sisa tubuhnya dikerubuni oleh burung gagak.

Betapa sedihnya aku memikirkan bagaimana nasib lelaki tua tersebut.

3 dari 4 halaman

Aku pun bingung bagaimana caraku untuk mengatakannya kepada laki-laki pemilik kemah itu. Aku kembali dan berkata kepadanya,

“ Wahai saudaraku, sudahkah engkau mendengar kisah tentang Nabi Ayub?” Laki-laki itu menjawab, “ Iya, aku tahu kisahnya.” Kemudian aku bertanya lagi, “ Sesungguhnya Allah telah memberinya cobaan dalam urusan hartanya. Bagaimana keadaannya dalam menghadapi musibah itu?” Ia menjawab, “ Ia menghadapinya dengan sabar.” Aku kembali bertanya, “ Wahai saudaraku, Allah telah menguji Ayub dengan kefakiran. Bagaimana keadaanya?” Ia menjawab, “ Ia bersabar.” Aku kembali bertanya, “ Ia pun diuji dengan tewasnya semua anak-anaknya, bagaimana keadaannya?” Ia menjawab, “ Ia tetap bersabar.” Aku kembali bertanya, “ Ia juga diuji dengan penyakit di badannya, bagaimana keadaannya?” Ia menjawab dan bailk bertanya, “ Ia tetap bersabar.

Sekarang katakan padaku di mana anakku?” Kemudian aku berkata, “ Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau.”

4 dari 4 halaman

Abu Qilabah pun Wafat

Kemudian Laki-laki pemiliki kemah ini mengatakan, “ Alhamdulillah, yang Dia tidak meninggalkan keturunan bagiku yang bermaksiat kepada Allah sehingga ia diazab di neraka.” Kemudian ia menarik napas panjang lalu meninggal dunia.

Aku pun membaringkannya di tangannya dan berpikir apa yang harus aku perbuat. Aku sendirian dan bagaiman aku mengurus jenazah ini. Kemudian aku tutupi dengan jubahku dan beberapa saat kemudian lewat empat orang laki-laki mengendarai kuda.

Mereka berkata, “ Wahai saudara, apa yang terjadi padamu?” Kemudian aku pun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami dan aku meminta bantuan kepada mereka untuk mengurus jenazah laki-laki ini. Mereka bertanya, “ Siapa dia?” Lalu aku menjawab, “ aku juga tidak mengenalnya, dia dalam keadaan sakit dan memprihatinkan.”

Kemudian keempat laki-laki ini meminta untuk membuka penutup wajahnya, karena mungkin salah satu dari mereka mengenalnya. Ketika aku membuka penutup wajahnya, tiba-tiba mereka tersentak, lalu mencium dan menangisinya, dan berkata, “ Subhanallah, wajah yang senantiasa bersujud kepada Allah. Mata yang selalu menunduk atas apa yang diharamkan Allah. Tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur.” Aku pun bertanya, “ Kalian kenal dengan laki-laki ini?” Mereka menjawab, “ Engkau tidak mengenalnya?”

Aku menjawab bahwa aku tidak tau siapa laki-laki ini. Kemudian mereka berkata, “ Ini adalah Abu Qilabah, sahabat dari Ibnu Abbas. Laki-laki ini, pernah dimintai oleh khalifah untuk menjadi seorang hakim. Namun, ia menolak jabatan tersebut.”

Kemudian Abdullah bin Muhammad bersama empat laki-laki tadi pun memandikan, mengkafani, dan menyholatkannya, sebelum akhirnya memamkamkan beliau.

Wallahu a’lam.

 

 

(Diambil dari berbagai sumber)

Beri Komentar