Kisah Nyata: Meninggal dalam Keadaan Berjoget, Jenazah Itu Kaku Saat Dimakamkan

Reporter : Cynthia Amanda Male
Rabu, 21 April 2021 12:01
Kisah Nyata: Meninggal dalam Keadaan Berjoget, Jenazah Itu Kaku Saat Dimakamkan
Tak satu pun makhluk dapat mengetahui bagaimana kelak mereka akan meninggal. Apakah ajal akan menjemput saat mereka berada dalam kondisi baik atau tidak?

Dream - Setiap Muslim tentu ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Namun, kematian merupakan rahasia mutlak Allah SWT. Tak satu pun makhluk dapat mengetahui bagaimana kelak mereka akan meninggal. Apakah ajal akan menjemput saat mereka berada dalam kondisi baik atau tidak?

Satu-satunya yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah berikhtiar dan berusaha istiqomah dalam menjaga keimanan hingga kelak kematian menghampiri. Kisah berikut ini mungkin juga bisa menjadi pelajaran bagi kita agar selalu menjaga keistiqomahan dan mengingat kematian.

Sebagai pemandi di Arab Saudi ini. Sebut saja namanya Fulanah. Sebagai pemandi mayat selama 13 tahun di Saudi ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Ketika ia membuka selimut yang menutupi mayat, ia seketika pingsan. Beberapa wanita datang dan berusaha menyadarkannya.

1 dari 8 halaman

Setelah sadar, Fulanah segera menemui ibu si mayat tersebut dan bertanya: " Wahai ukhti seumur hidupku aku belum pernah melihat kondisi jasad yang demikian, aku melihat jasad putrimu dalam keadaan menari (berjoget), apa yang dilakukan putrimu di masa hidupnya?"

Sang ibu dengan terisak menceritakan bahwa putrinya semasa hidupnya menggandrungi musik dan nyanyian. Ia terobsesi dengan musik, terlebih usianya yang baru menginjak remaja (ABG) sulit bagi sang ibu untuk menasihatinya.

Sang anak senang menonton lagu-lagu favorit yang sedang hits dalam video klip, menyukai penyanyi-penyanyi tersebut dengan penuh cinta. Hidupnya hanya diisi dengan nyanyian dan musik.

2 dari 8 halaman

Suatu hari gadis belasan tahun itu datang dalam sebuah pesta, karena memang ia diundang oleh kawannya. Dalam sebuah pesta tentu saja di dalamnya ada nyanyian dan musik. Maka ketika lagu kesayangannya dinyanyikan ia tidak dapat menahan diri.

Mulailah ia menari dan bernyanyi dengan riangnya. Dalam keadaan yang sangat bersemangat itu tiba-tiba ia terjatuh dan tubuhnya membentur meja di depannya. Ia tak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya berusaha menolong dan mereka mendapati gadis itu telah tiada.

Tubuhnya kaku tidak dapat digerakkan. Dengan posisi tangan meliuk di atas kepala (sebagaimana layaknya orang berjoget). 

3 dari 8 halaman

Setelah mendengar penjelasan sang ibu, pemandi mayat yang juga ustadzah ini berusaha tenang ketika memandikan mayat gadis malang tersebut. Ia pun berusaha memposisikan jasad sang gadis sebagaimana layaknya mayat yang akan dikafankan.

Namun yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan, Karena jasad gadis tersebut benar-benar kaku seperti batu, ia tidak dapat menekukkan tangan sang mayat, akhirnya ia pasrah membungkus mayat dalam keadaan sebagaimana adanya.

Jika akhir hidup manusia yang menggemari para penyanyi seperti di atas mendapatkan hukuman seperti itu. Semoga Allah menjadikan kita senatiasa istiqomah dalam ketaatan dan memberikan anugrah kematian khusnul khatimah. Aamiin.

4 dari 8 halaman

Kisah Nyata Pemandi Jenazah Banci di Priok, Saat Diperiksa Alat Vitalnya...

Dream - Kisah nyata ini terjadi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Rahmat namanya. Salah satu pengurus Lembaga Amil Zakat (LAZ) Tabung Amanah Umat (Tamu) yang berkantor di kawasan Bekasi.

Lembaga yang dia kelola itu membuka jasa pemulasaraan jenazah muslim, gratis. Sebagai seorang pengurus LAZ yang juga menjadi petugas perawatan jenazah, Rahmat banyak memiliki pengalaman.  

Satu pengalaman yang membuat dia merasa begitu prihatin adalah tatkala memandikan jenazah seorang banci.

Kisah ini terjadi sekitar lima tahun lalu. Waktu itu, Rahmat mendapat telepon dari seseorang yang meminta bantuan memandikan jenazah di kawasan Priok. Orang itu mengaku mendapat nomor telepon Rahmat usai mendengar iklan di radio.

" Waktu itu ada tetangganya yang menelepon dan meminta bantuan," ujar Rahmat saat berbincang dengan Dream, Kamis, 18 Februari 2016.

5 dari 8 halaman

Mendapat kabar itu, Rahmat segera meluncur ke lokasi. Dia sama sekali tidak menaruh curiga tentang siapa sebenarnya sosok jenazah yang akan diurus.

" Awalnya saya tidak diberitahu. Jadi ke sana dengan asumsi membantu orang yang tidak mampu. Barangkali tidak bisa membayar jasa pemandian," kata dia.

Sesampai di lokasi, Rahmat tetap tidak merasa curiga. Dia hanya mendapat informasi para pengurus masjid dan musala di sekitar lokasi, tidak ada yang mau mengurus jenazah.

Mungkin saja, lantaran warga setempat sudah tahu kebiasaan orang itu semasa hidup.

" Saya kaget, kok yang datang kayak orang-orang salon semua," kata dia.

Tapi, Rahmat berusaha berbaik sangka jenazah adalah sosok pria normal. Dia yang kala itu dibantu oleh seorang sopir, kemudian masuk ke rumah duka dan akan menangani jenazah.

" Pas itu saya dikasih tahu kalau jenazah itu adalah banci," kata dia. 

6 dari 8 halaman

Rahmat sempat mengalami kebingungan apakah akan melanjutkan prosesi pengurusan jenazah atau tidak. Dia langsung menghubungi ustaz yang menjadi rujukan dan meminta saran. 

" Kata ustaz, diurus saja karena itu fardlu kifayah. Tetapi, harus dipastikan dulu apakah alat kelaminnya masih asli atau tidak. Kalau masih ada dan asli, kita mandikan. Kalau tidak, ya jangan dimandikan," ucap Rahmat.

Akhirnya Rahmat memeriksa alat kelamin jenazah itu. Setelah mendapat kepastian alat kelamin masih ada, Rahmat lantas segera memandikan jenazah tersebut.

7 dari 8 halaman

Rahmat lantas segera memandikan jenazah tersebut. Rahmat menemukan lagi masalah baru. 

" Tapi, ada masalah karena di bagian dadanya ada cairan silikon. Akhirnya cairan itu dikeluarkan. Dadanya palsu tapi alat kelaminnya masih asli," kata dia.

Rahmat menjadi semakin prihatin usai memandikan dan mengkafani jenazah. Tidak ada satupun orang yang mau menyalatkan jenazah itu, termasuk dari para pelayat yang notabene berperilaku seperti jenazah.

8 dari 8 halaman

Rahmat pun kemudian menyalatkan jenazah tersebut bersama sopirnya. Pengurusan jenazah bahkan dilakukan sampai pada memakamkan.

Tidak ada warga sekitar yang membantu dia. Pun demikian para pelayat.

" Yang mengantarkan ke pemakaman itu ya banci juga, yang kebanyakan bercanda secara tidak pantas. Bahkan mereka sampai berebut tali pocong," tutur Rahmat.

Lebih lanjut, Rahmat mengatakan pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Pelajaran bukan hanya untuk Rahmat, melainkan juga bagi para muslim agar tidak terjebak dalam lingkaran praktik Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). 

Beri Komentar