Kisah Pedih Pasien Covid-19 yang Harus Gunakan Ventilator untuk Bertahan Hidup

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 12 Juni 2020 08:00
Kisah Pedih Pasien Covid-19 yang Harus Gunakan Ventilator untuk Bertahan Hidup
Untuk pasien dengan kondisi parah tersebut, harus dimasukan ke ruang isolasi di unit perawatan intensif dan memakai ventilator untuk membantu mereka bernapas.

Dream - Kita sudah hampir berada di pertengahan tahun 2020 dan pandemi Covid-19 belum juga usai. Sampai saat ini, sekitar 7,2 juta orang telah terinfeksi virus corona jenis baru. Sebanyak 3,4 juta orang telah pulih dan 408 ribu orang meninggal dunia.

Individu yang terinfeksi akhir-akhir ini sering kali tidak menunjukkan gejala, sementara lainnya mengalami gejala ringan yang mirip flu, seperti demam, batuk, dan hilang nafsu makan. Pasien dengan gejala paling parah sering kali mengalami kesulitan bernafas yang mirip seperti pneumonia.

Untuk pasien dengan kondisi parah tersebut, harus dimasukan ke ruang isolasi di unit perawatan intensif dan memakai ventilator untuk membantu mereka bernapas. Meskipun mesin ventilator membantu para pasien tetap hidup, penderitaan yang mereka rasakan tidak banyak diketahui.

1 dari 3 halaman

Kapan Ventilator Diperlukan

Ilustrasi Pengguna Ventilator© World of Buzz

Ventilator pada dasarnya berguna untuk membantu proses pernapasan tubuh ketika terdapat penyakit yang menyerang fungsi paru-paru. Proses ini memberi pasien waktu untuk melawan infeksi dan kembali pulih.

Seorang dokter akan menempatkan ventilator ketika pasien mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kesulitan pernapapasan. Kesulitan pernapasan dilihat dari kecepatan pernapasan pasien akan meningkat, pasien akan terlihat tertekan dan CO2 dalam darah naik, jelas Prof. David Story, Wakil Direktur Pusat Perawatan Terpadu Universitas Melbourne, dilansir oleh World of Buzz.

Dia mengatakan bahwa laju pernapasan normal adalah sekitar 15 napas per menit dan jika laju naik menjadi sekitar 28 kali per menit ini adalah sinyal bahwa ventilator diperlukan.

2 dari 3 halaman

Cara Kerja Ventilator

Ilustrasi Pengguna Ventilator© World of Buzz

Untuk menepatkan pasien dalam ventilator, dokter akan melakukan prosedur medis yang disebut " intubasi" , dimana pasien dibius dan diberikan pelemas otot. Alat bantu napas berupa tabung endotrakeal kemudian ditempatkan melalui mulut dan ke dalam batang tenggorok (trakea) dan melekat pada ventilator yang memantau oksigen untuk didorong ke paru-paru.

Ventilator juga memiliki pelembab udara yang berguna menambah panas dan kelembaban ke pasokan udara sehingga sesuai dengan suhu tubuh pasien. Demikian yang ditulis oleh BBC dalam laporannya mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jika menempatkan tabung melalui hidung atau mulut terbukti sulit atau tidak membantu pasien, lubang dibuat di leher pasien dan tabung trakeostomi ditempatkan melalui lubang tersebut, menurut National Heart, Lung and Blood Association (NHLBA).

3 dari 3 halaman

Kenyataan Pahit Dibalik Pemasangan Ventilator

Ilustrasi Pengguna Ventilator© World of Buzz

Namun ternyata, penggunaan ventilator yang berkepanjangan dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Pertama-tama, tabung pernapasan membuat pasien sulit untuk batuk, memungkinkan bakteri memasuki paru-paru mereka yang dapat menyebabkan pneumonia. Seolah-olah pasien Covid-19 tidak memiliki masalah dengan paru-parunya, ventilator dapat menyebabkan masalah tambahan.

Menurut NHLBA, berikut ini adalah beberapa masalah tambahan yang bisa dihadapi pasien dengan ventilator, seperti dilansir World of Buzz:

Atelektasis – suatu kondisi di mana paru-paru tidak berkembang penuh. Ini menyebabkan kantung udara runtuh.

Gumpalan darah – tetap dalam satu posisi untuk waktu yang lama dapat menyebabkan gumpalan darah dan infeksi kulit yang serius.

Kerusakan paru-paru – mendorong terlalu banyak udara ke paru-paru atau dengan terlalu banyak tekanan dapat membahayakan paru-paru. Terlalu banyak oksigen juga dapat merusak paru-paru.

Kelemahan otot – ventilator melepaskan beban dari diafragma dan otot pernapasan lainnya, menyebabkan mereka menjadi lemah.

Kerusakan pita suara – karena tabung pernapasan ditempatkan melalui hidung atau mulut ke batang tenggorok, tabung itu bisa merusak pita suara.

Penumpukan cairan – kantung udara di dalam paru-paru, yang biasanya diisi dengan udara dapat terisi dengan cairan. Ini disebut edema paru.

Pneumothorax – suatu kondisi di mana udara bocor keluar dari paru-paru dan ke dalam ruang antara paru-paru dan dinding dada. Ini bisa menyebabkan rasa sakit dan sesak napas. Ini dapat menyebabkan satu atau kedua paru-paru runtuh.

Lebih lanjut, pasien COVID-19 yang menggunakan ventilator sering ditempatkan di perut mereka untuk membantu aliran darah melalui paru-paru, membantu lebih baik menyesuaikan aliran udara dengan suplai darah, kata Dr. Greg Martin, seorang profesor perawatan kritis paru di Emory University dan presiden- terpilih Perhimpunan Kedokteran Perawatan Kritis.

Tidak lupa bahwa saat pasien menggunakan ventilator, mereka tidak dapat lagi melakukan fungsi dasar aktovitas sehari-hari seperti makan dan pergi ke kamar mandi sendiri, ini berarti bahwa mereka harus mengenakan popok atau dihubungkan ke kateter.

Burton Bentley II, CEO Elite Medical Experts mengatakan kepada Business Insider bahwa kadang-kadang, paru-paru pasien melawan mesin ventilator, dan mereka harus dimasukkan ke dalam kondisi koma yang diinduksi secara medis.

Ini mungkin bahkan tidak mendekati apa yang sebenarnya dialami oleh pasien COVID-19 yang kritis saat mereka harus menggunakan ventilator, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa inilah yang harus dilalui ribuan orang di seluruh dunia.

Ketika negara kita perlahan memberlakukan new normal di tengah kasus COVID-19 yang belum mereda, mari kita ingat bahwa kita masih belum aman dari COVID-19. Oleh karena itu, kita perlu menjaga diri kita sendiri dan orang yang kita cintai dan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Beri Komentar