Kisah Shovia, Gadis Tomboy Penghafal Alquran

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 14 September 2021 10:02
Kisah Shovia, Gadis Tomboy Penghafal Alquran
Sebelum memberikan Alquran tempat di hati, Shovia berada di lingkungan pertemanan yang dikhawatirkan orang tuanya akan membuat masa depannya berantakan.

Dream - Shovia Nurul Aini, gadis berusia 16 tahun yang memiliki sifat tomboi. Dia bisa dikatakan jauh dari kata anggun dan agamais. Namun, Shovia mengaku nyaman ketika berada dekat dengan Alquran.

Sebelum memberikan Alquran tempat di hati, Shovia berada di lingkungan pertemanan yang dikhawatirkan orang tuanya akan membuat masa depannya berantakan.

Dari situ, kedua orangtuanya pun memutuskan untuk memberangkatan Shovia ke pondok pesantren Rumah Tahfidz Samparan, Bantul, Yogyakarta.

 

1 dari 5 halaman

Atas dasar keterpaksaan gadis ini memulai kehidupan dan pembelajaran baru. Lambat laun ketenangan justru mulai Shovia dapatkan. Hal itu dirasakan saat dirinya masih duduk kelas 2 SMP. Semakin tahun semakin mendapatkan kenyamanan, seolah Alquran adalah teman.

Meski letih terkadang juga pernah dirasakan dirinya saat menghafal, anak ketiga dari lima bersaudara itu mengingat kembali bahwa Alquran adalah kenyamanan, maka semangat kembali ia dapatkan.

" Saat pikiran tidak tenang, juga seringkali menghambat hafalannya. Rasa takut akan membebani orang lain, sering kali ia rasakan ketika mendapat masalah," tulis keterangan kisah Shovia dikutip Selasa, 14 September 2021.

Shovia kerap merasa sungkan untuk membagikan cerita entah dengan saudara ataupun orangtua, dan akhirnya berujung pada over thinking. Penenangnya pun hanya satu, yakni Al Quran.

2 dari 5 halaman

Gadis asal Ngabean, Triharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta ini sudah memantabkan diri menjadi penghafal Al Quran dan menjadikannya teman hidup. Hal ini ia buktikan dengan kesungguhannya menjadi seorang Hafidzah. Ia diketahui sudah menghafal 16 juz.

Tak hanya ingin menjadi seorang Hafidzha, Shovia memiliki keinginan lain di bidang kesehatan. Bukan hanya sekedar membantu perekonomian keluarga, ia juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan di bidang kesehatan.

" Ingatlah alasanmu saat mulai goyah akan tujuanmu.," kata Shovia di ujung perbincangannya.

3 dari 5 halaman

Kisah Riski, Tukang Ojek Asal Cirebon Calon Animator 3D Masa Depan

Dream - Tak ada yang melarang seorang menjadi sukses, semua individu pasti akan menemukan jalannya masing-masing. Hal inilah yang dipercaya Riski Rismawan, santri Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Jurusan Desain Grafis Kampus Sawangan, Depok.

Riski, sapaan akrabnya, telah menjadi piatu sejak usianya 17 tahun. Sejak saat itu, ia menjadi tulang punggung keluarga dan rela masa remajanya terenggut demi bisa menopang kebutuhan sehari-hari.

Berbagai pekerjaan pun ia lakoni, mulai dari mengumpulkan barang bekas agar bisa dijual, membajak sawah milik orang, hingga menjadi tukang ojek. Semuanya ia lakukan demi menghidupi seluruh anggota keluarganya.

4 dari 5 halaman

Keluarga Jadi Sumber Kekuataan

Riski hidup bersama ayah, nenek, dan satu adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp500 ribu per bulan. Ia juga kerap mencari barang rongsokkan untuk penghasilan tambahan, namun usahanya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan serta pendidikana kedua anaknya.

Sebelum meninggal dunia, sang ibunda berkeinginan membangun rumah agar seluruh keluarga bisa tinggal di tempat yang layak. Kondisi rumah Riski saat ini sungguh memprihatinkan, atapnya kerap kali mengalami kebocoran saat hujan datang, dindingnya rapuh dan tak terta rapi.

Atas dasar itu, Riski bertekad untuk menjadi orang sukses di kemudian hari. Ia juga harus menyekolahkan sang adik lantaran ayahnya kini sudah memasuki usia renta.

5 dari 5 halaman

Bercita-cita Jadi Animator 3D

Meski hidup dengan serba keterbatasan, semangat belajar Riski tak pernah redup. Atas dasar motivasi dari keluarga dan temannya, Riski mulai tertarik untuk mengikuti program LAZ Al Azhar dalam pengentasan pengangguran untuk usia produktif Rumah Gemilang Indonesia (RGI) di Kampus Sawangan, Depok.

Ia bergabung bersama ratusan pemuda yang memiliki visi dan misi yang sama yaitu mengubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik serta menjadi pribadi dengan spiritualitas yang baik.

Riski memiliki mimpi menjadi seorang animator 3D yang andal. Ia juga diketahui kerap mengikuti kelas sharing session bersama CEO dan Founder The Little Giant, Aditia Triantoro yang juga merupakan animator dari film animasi Nussa dan Rara.

" Saya sangat terinspirasi dengan kisah perjalanan Mas Adit. Dia aja harus berjuang selama 17 tahun baru bisa mencapai titik kesuksesan seperti sekarang, dan saya yakin melalui belajar di RGI adalah bagian dari step kesuksesan saya" , jelas Riski.

Beri Komentar