Kisah Tuna Netra Pemanjat Pohon Kelapa

Reporter : Ayik
Rabu, 12 November 2014 14:46
Kisah Tuna Netra Pemanjat Pohon Kelapa
Sekiranya 20 pohon kelapa dan pianng yang setiap hari dipanjatnya.

Dream - Tak memiliki penglihatan tak membuat Rasmito meninggalkan pekerjaan sebagai pemanjat buah kelapa dan pinang. Kakek berusia 57 tahun itu kini tinggal di sebuah desa Ciparepare Timur, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

Pekerjaan yang membutuhkan keahlian ini dijalani sejak puluhan tahun lalu. Sang istri, Lijah yang berusia 52 tahun setia mendampingi Rasmito dan memberinya semangat. Kakek yang telah memiliki 3 cucu ini bertahan tinggal di sebuah rumah eks transmigrasi. Setiap minggu harus memanjat pohon kelapa dan pinang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Berbagai macam pekerjaan telah Rasmito lakukan, mulai dari penjual kayu, pemikul kayu hingga pekerjaan yang membahayakan dirinya, karena harus memanjat pohon yang tinggi-tinggi.

Karena Rasmito tidak bisa melihat, cara yang digunakannya untuk membedakan buah yang sudah matang dan belum dengan meraba. Sekiranya 20 pohon kelapa dan pianng yang setiap hari dipanjatnya.

Bagi Rasmito. meski keadaan yang tak bisa melihat ia tak mau menjadi seseorang yang tak berguna. Apalagi menjadi pengemis yang minta belas kasihan orang lain.

Penasaran dengan perjuangan Rasmito? Yuk simak kisah selengkapnya Baca di sini

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res

Ayo berbagi traffic di sini!

Beri Komentar