Kisah WNI Rasakan Bukber dan Ramadan Lebih Meriah di Rusia

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 7 Mei 2021 12:00
Kisah WNI Rasakan Bukber dan Ramadan Lebih Meriah di Rusia
Begini kisah para WNI di Rusia saat menjalankan ibadah bulan Ramadan.

Dream - Ramadan di negara Rusia tahun ini kembali semarak. Tidak seperti tahun lalu akibat pandemi, pemerintah Rusia mengizinkan masyarakat muslim untuk membuka masjid dan melaksanakan kegiatan buka bersama.

Pengalaman berpuasa di Rusia inilah yang dirasakan seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Dagestan, Rusia, Arif Sultan Magomedov.  

“ Di Dagestan, di setiap masjid di tiap kota, ada tempat untuk berbuka puasa gratis juga untuk sahur," ungkap Arif memulai ceritanya. 

Di Makhachkala, Ibu kota Dagestan, hampir setiap hari pengelola masjid Jami menggelar acara buka puasa yang dihadiri sekitar 700 jemaah. Kegiatan serupa juga hampir digelar setiap hari di berbagai kota lainnya dengan kapasitas yang lebih besar dibandingkan penyelenggaraan di masjid.

" Orangnya kumpul di stadium, buka puasa bersama, ada sekitar 2 hingga 3 ribu orang,” ungkapnya. 

Arif mengungkapkan masjid-masjid di Rusia tahun ini terlihat lebih meriah dibandingkan setahun yang lalu. Dagestan yang merupakan kawasan mayoritas muslim, menjadi pusat kegiatan keislaman ketika Ramadhan.

“ Di Dagestan, ada bangunan masjid yang luas, dengan area lebih 35 hektar. Di masjid itu, ada buka puasa untuk orang yang kerja di sana, turis maupun mahasiswa. Setiap hari ada sekitar seribu orang yang ada di sana,” kata Arif yang pernah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Maliki Ibrahim Malang itu.

Magomedov mengisahkan, muslim di Dagestan senang memberi takjil di jalan-jalan bagi mereka yang membutuhkan.

“ Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan perjalanan dari Makhachkala menyusuri beberapa kampung. Nah, waktu ifthar kurang dari 10 menit, itu di jalan di mana-mana banyak orang yang memberi kurma atau air, untuk berbuka bersama.”

1 dari 4 halaman

Islam Jadi Agama Terbesar di Rusia

Kisah sejarah muslim di Rusia memang unik. Amy Maulana, mahasiswa doktoral di Volgograd State University Rusia, mengungkapkan betapa ia menikmati kehidupan umat Islam di negeri itu.

“ Islam di Rusia itu merupakan agama terbesar setelah Kristen Ortodox. Jumlahnya ada sekitar 30 juta dari total penduduk Rusia, kemudian terdiri dari 40 kelompok etnis muslim yang tersebar dari kawasan Rusia," katanya.

Ia menambahkan bahwa Islam di Rusia secara umum ahlussunnah, sebagian besar bermadzhab Hanafi.

" Nah, khusus di kawasan Kaukasia Utara bermadzhab Syafii, yang mirip di Indonesia. Kemudian, berkembang juga tarekat Naqsyabandiah di kawasan Kaukasia Utara. Mereka ini bukan imigran dari Timur Tengah, tapi dari muslim dari nenek moyang mereka,” jelas Amy, yang merupakan Ketua PCI Nahdlatul Ulama Federasi Rusia dan Eropa Utara (FREU).

2 dari 4 halaman

Ramadan Jadi Momen Berharga

Amy menjelaskan kehidupan di Rusia saat ini sudah mulai berlangsung normal kembali. Pemerintah sudah mempersilakan komunitas muslim untuk melaksanakan ibadah, tidak ada halangan atau karantina dan kebijakan ketat lainnya.

Namun, lanjut Amy, beberapa tempat umum semisal di Universitas tetap diharuskan menggunakan masker. Begitu pula di kendaraan umum wajib pakai masker.

" Di Rusia sekarang ini, saya sudah jarang melihat orang pakai masker. Mungkin ini karena faktor semakin turunnya kasus Covid di Rusia dan juga gencarnya vaksinasi Sputnik.”

Menurut Amy, Ramadan menjadi ruang untuk berkumpul dengan teman-teman muslim dari lintas negara.

“ Relasi komunitas muslim Indonesia dengan muslim Rusia sangat dekat, semisal di kota-kota seperti Kazan, teman-teman sering ikut acara buka puasa bersama. Kita dekat dengan teman-teman muslim yang berasal dari Asia Tengah, semisal Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan dan sebagainya. Kita juga dekat dengan muslim Rusia dari berbagai etnis di sini.”

Ia menambahkan, mahasiswa muslim dari berbagai negara Afrika dan Asia juga menjadikan momentum buka bersama untuk saling mengenal.

“ Kita juga sering buka puasa bersama, yang menjadi momen spesial, karena kita bertemu dengan beberapa rekan dari berbagai negara di dunia, yang mayoritas muslim. Seperti teman-teman dari Senegal, Mali dan beberapa negara Arab, semisal Palestina, Suriah, Mesir, Irak, Iran, Yordania, itu semua kita kumpul. Termasuk teman-teman dari India, Pakistan dan Malaysia.”

3 dari 4 halaman

Ajarkan Mengaji

Di tengah kehidupan komunitas muslim Rusia, Amy menjelaskan bahwa diaspora muslim Indonesia juga ikut memberi kontribusi.

“ Kami juga mengajar mengaji di sini, Alhamdulillah ada beberapa teman santri yang sedang belajar di sini, dekat dengan beberapa mufti, baik dari Tatarstan. Juga mengajar mengaji di beberapa kota di Rusia.”

Amy yang juga Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Rusia itu menjelaskan diaspora muslim Indonesia sering melakukan kunjungan ke beberapa sekolah mengajarkan Islam dan budaya asal Tanah Air.

“ Kebetulan, ada satu anak Indonesia yang pernah juara MTQ, dan di sini kemudian ikut mengajar mengaji," katanya. 

Para pengajar itu memberikan pendidikan mengaji kepada anak-anak Rusia juga. Di Rusia juga terdapat madrasah hafalan alquran, baik di kota Kazan ataupun di kawasan Kaukus utara.

4 dari 4 halaman

Tali Persaudaraan Sangat Erat

Inamul Hasan, mahasiswa Indonesia di Rusia, punya kisah menarik tentang komunitas muslim di negeri itu. Ia mengaku muslim Rusia menganggap orang-orang Indonesia sebagai saudara.

“ Tradisi mereka, selain karena masih minoritas, persaudaraan di antara mereka sangat kental. Terutama orang Selatan, yakni komunitas muslim terbesar di Rusia. Kalau Anda punya satu saja seorang kawan dari Selatan, dan Anda, misal bertemu mereka di jalan atau di tempat umum maka, semua anggota kelompok mereka akan sama menyambut Anda sebagai teman.”

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar