Konsekuensi Hukum Puasa Saat Sakit, Mulai Haram hingga Wajib

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 8 Mei 2019 06:00
Konsekuensi Hukum Puasa Saat Sakit, Mulai Haram hingga Wajib
Orang sakit mendapatkan keringanan untuk tidak melaksanakan puasa.

Dream - Islam bukanlah agama yang memberatkan umatnya. Kewajiban ibadah bisa tidak berlaku untuk orang dengan kategori tertentu.

Dalam istilah fikih, dikenal istilah rukhshah atau keringanan untuk tidak menjalankan kewajiban agama untuk orang tertentu. Salah satu orang yang bisa mendapatkan rukhshah adalah mereka yang sakit.

Rukhshah berlaku untuk semua ibadah. Tidak terkecuali untuk puasa Ramadan. Surat Al Baqarah ayat 286 menyatakan demikian.

" Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya."

Meski terdapat rukhshah, ada sebagian orang yang tetap menjalankan puasa meski sedang sakit. Puasa ini mengandung konsekuensi hukum tertentu, mulai dari haram, makruh, hingga wajib.

1 dari 1 halaman

Hukum Tetap Berpuasa Saat Sakit

Dikutip dari NU Online, Allah memberikan keringanan kepada mereka yang sakit untuk tidak berpuasa. Karena jika dipaksakan puasa, kondisi sakitnya dikhawatirkan semakin parah hingga dapat berujung kematian.

Praktik memaksakan diri berpuasa dalam keadaan sakit parah tidaklah dipandang sebagai ibadah. Melainkan justru dianggap sedang bermaksiat.

Syeikh An Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Kasyifatus Saja menjelaskan terdapat beberapa hukum terkait orang sakit tetap berpuasa.

" Bagi orang sakit, berlaku tiga kondisi. Pertama, bila diduga adanya mudarat yang membolehkan bertayamum maka dimakruhkan berpuasa bagi orang yang sakit dan diperbolehkan baginya berbuka. Kedua, bila mudarat yang diduga tersebut terwujud dengan dugaan yang kuat dapat menimbulkan kerusakan dan hilangnya manfaat suatu anggota badan maka haram berpuasa bagi orang tersebut dan wajib berbuka (alias haram berpuasa). Bila ia tetap terus berpuasa sehingga meninggal dunia maka ia meninggal dalam keadaan bermaksiat. Ketiga, bila sakit yang diderita adalah sakit yang ringan seperti pusing, sakit telinga dan gigi maka tidak diperbolehkan berbuka (alias wajib berpuasa) kecuali bila dikhawatirkan akan bertambah sakitnya dengan berpuasa."

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'