Lebih Baik Mana, Seorang Kurban Kambing atau Sapi untuk Ramai-Ramai?

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 25 Juli 2019 20:00
Lebih Baik Mana, Seorang Kurban Kambing atau Sapi untuk Ramai-Ramai?
Umumnya, masyarakat Indonesia hanya mengenal kambing dan sapi untuk kurban.

Dream - Sebentar lagi umat Islam akan menyambut Idul Adha. Bisa dikatakan, hari raya ini merupakan pestanya umat Islam.

Keberkahan Idul Adha tidak hanya dirasakan oleh mereka yang mampu namun juga kaum miskin dan dhuafa. Hal ini terwujud lewat syariat kurban.

Sudah menjadi pengetahuan umum, kurban dilakukan dengan menyembelih kambing, sapi, atau unta. Masing-masing hewan ada takarannya yaitu seekor kambing untuk seorang pekurban, sedangkan sapi untuk tujuh orang.

Secara jumlah daging, tentu sapi lebih banyak daripada kambing. Tetapi jika melihat keutamaan, mana yang lebih baik antara berkurban sapi dengan patungan tujuh orang alias kolektif dengan kambing untuk seorang?

Dikutip dari NU Online, para ulama menyatakan urutan keutamaan hewan kurban adalah unta seorang, sapi seorang, kambing seorang, unta kolektif dan terakhir sapi kolektif. Pengurutan ini didasarkan pada sisi kuantitas atau jumlah daging.

Unta tentu lebih utama dari sapi karena dagingnya lebih banyak. Demikian pula, sapi lebih utama dibandingkan kambing.

1 dari 5 halaman

Dari Sisi Keberkahan Diterima Pekurban

Tetapi, jika dari sisi pekurban, individu lebih baik dan lebih utama dibandingkan dengan kolektif. Bahkan jika dilihat dari sisi kuantitas maupun kualitas kurban, tetap lebih baik secara individu.

Sehingga, kurban kambing yang dilakukan secara pribadi lebih utama daripada sapi tujuh orang. Meskipun dagingnya lebih banyak sapi.

Ini seperti dijelaskan oleh Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya Al Minhaj Al Qawim Hamisy Hasyiyah At Turmusi.

" Kurban yang paling utama adalah unta, sapi, domba, kambing kacang, unta kolektif kemudian sapi kolektif, sebab masing-masing dari apa yang telah disebutkan lebih baik dari urutan setelahnya, maksudnya karakternya memang demikian."

Syeikh Mahfuzh At Tarmasi memperjelas penjelasan Syeikh Ibnu Hajar lewat kitabnya Hasyiyah At Turmusi.

" Ucapan Syekh Ibnu Hajar; lebih baik dari setelahnya; maksudnya dan karena menyendirinya mudlahhi (orang yang mengeluarkan kurban) dengan mengalirkan darah kurban dalam kasus sebelum kurban kolektif. Atas dasar pertimbangan ini diketahui pendapat yang ditunjukan kitab matan sebagaimana lainnya bahwa satu ekor kambing lebih utama dari pada kurban kolektif, meski memperbanyak jumlah unta. Pengarang kitab Al Wafi menegaskan hal yang serupa atas dasar analisa fikihnya. Syekh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Al Tuhfah; ini pendapat yang jelas."

Sehingga, satu orang berkurban kambing lebih utama dari tujuh orang berkurban seekor sapi. Sebabnya, berkah tetesan darah hewan kurban didapatkan secara pribadi, tidak dibagi dengan mudlahhi yang lain.

Sumber: NU Online

2 dari 5 halaman

Sebentar Lagi Idul Adha, Lebih Baik Kurban atau Akikah Dulu?

Dream - Kurang dari sebulan, kita akan menyambut Hari Raya Idul Adha. Bersamaan dengan hari raya ini, terdapat anjuran untuk melaksanakan kurban.

Amalan setiap hari raya Kurban ini dihukumi sunah. Pelaksanaannya yaitu dengan menyembelih seekor kambing untuk satu orang atau seekor sapi untuk tujuh orang.

Syariat kurban dilaksanakan mulai tanggal 10 hingga 13 Zulhijah. Orang berkurban berhak atas sepertiga daging kurbannya dan sisanya dibagikan kepada orang lain.

Terdapat pemahaman di masyarakat yang mengutamakan akikah dengan kurban. Bahkan sampai ada anggapan kurban tidak akan sah jika akikah belum dilaksanakan.

Lantas, mana yang harus didahulukan antara kurban dan akikah jika waktu yang terdekat adalah Idul Adha?

 

3 dari 5 halaman

Perbedaan Kurban dengan Akikah

Dikutip dari NU Online, terdapat persamaan antara akikah dengan kurban. Dua amalan ibadah ini sama-sama berhukum sunah, dan sama-sama menyembelih hewan.

Perbedaannya terletak pada waktu pelaksanaannya. Kurban dilaksanakan dalam waktu terbatas yaitu pada bulan Zulhijah saja, sedangkan akikah pada saat ada bayi lahir dan dianjurkan pada hari ketujuh.

Akikah merupakan hak seorang anak kepada atas orangtuanya. Sehingga, anjuran ibadah ini sangat ditekankan kepada orangtua bayi dengan kelapangan rizki untuk sekadar berbagi kebahagiaan.

Para ulama memberikan kelonggaran pelaksanaan akikah yaitu ketika bayi berusia tujuh hari hingga sudah akil baligh. Apabila tidak ada rezeki yang cukup, orangtua bisa menunda akikah hingga anaknya baligh.

Apabila sudah baligh namun orangtua belum juga mampu, maka sunah akikah dibebankan kepada anaknya. Si anak bisa melakukan akikah sendiri atau bisa meninggalkannya.

 

4 dari 5 halaman

Lebih Baik Kurban Dulu

Sementara terkait mana yang lebih dulu dilaksanakan antara kurban dan akikah saat Idul Adha, maka yang didahulukan adalah kurban. Ini mengingat waktu pelaksanaan kurban yang terbatas.

Sementara jika ingin melaksanakan keduanya dalam satu waktu, Syeikh An Nawawi Al Bantani dalam kitab Tausyikh menjelaskan hal itu tidak bisa dilakukan. Dia mengutip pendapat dari Ibnu Hajar.

" Ibnu Hajar berkata, 'Seandainya ada seseorang menginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan akikah, maka hal ini tidak cukup."

Berbeda dengan pandangan Imam Ar Ramli yang membolehkan dua niat dalam satu amalan menyembelih hewan yaitu niat kurban dan akikah. Konsekuensinya terletak pada pembagian dagingnya.

Daging kurban lebih baik dibagikan dalam bentuk belum diolah atau masih mentah. Sementara akikah dibagikan dalam kondisi siap santap.

Sumber: NU Online

5 dari 5 halaman

Kurban Dibagikan dalam Bentuk Daging Segar, Ini Hikmahnya

Dream - Kurban mensyaratkan pembagian daging sebagai bahan pangan berkualitas. Ini dimaksudkan sebagai sarana berbagi kenikmatan antara seorang Muslim yang berkurban dengan orang lain, terutama yang membutuhkan.

Sepintas, ibadah ini memiliki kesamaan dengan akikah yaitu menggunakan kambing atau sapi. Tetapi, dua ibadah ini berbeda dalam ketentuan pelaksanaannya.

Salah satu perbedaannya adalah pembagian daging kurban. Pada akikah, daging bisa dibagikan dalam bentuk makanan siap santap sedangkan kurban diberikan dalam rupa daging segar.

Mengapa demikian?

Dikutip dari NU Online, Syeikh Abu Syuja dalam kitab Taqrib menyebut pembagian daging kurban kepada kaum fakir dan miskin dengan istilah memberi makan. Bukan berarti harus dalam bentuk sudah dimasak.

Daging kurban dibagikan segar atau mentah agar bisa diolah oleh yang menerimanya. Ini karena masing-masing orang punya selera sendiri-sendiri sehingga bisa mengolahnya sesuai keinginan.

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'