Ada Luka Dibalut Perban, Bagaimana Hukum Wudhunya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 27 Februari 2019 06:02
Ada Luka Dibalut Perban, Bagaimana Hukum Wudhunya?
Kulit yang terluka tentu diperlakukan berbeda dengan kulit normal ketika wudhu.

Dream - Wudhu adalah amalan bersuci yang harus dikerjakan jika seorang Muslim hendak sholat. Caranya dengan membasuh bagian tubuh yang menjadi anggota wudhu.

Tentu tidak akan menjadi masalah bagi seseorang dengan kulit tanpa luka untuk melakukan wudhu. Berbeda dengan orang yang punya luka.

Apalagi jika luka tersebut sampai dibalut baik dengan plester obat atau perban. Seseorang harus berhati-hati dalam berwudhu agar lukanya tidak terpengaruh.

Syarat sah wudhu adalah membasuh seluruh anggota tubuh. Lantas, bagaimana jika ada luka yang dibalut?

Dikutip dari NU Online, luka yang dibalut lebih dulu dibedakan menjadi ringan atau berat. Jika dibalut dengan plester obat tergolong ringan, maka plester harus dilepas dan dibersihkan dari sisa-sisa kotoran.

Ini agar air dapat menyentuh kulit pada anggota wudhu yang wajib dibasuh. Juga pada kulit di sekitar luka.

 

1 dari 1 halaman

Begini Caranya

Hal ini dijelaskan oleh Syeikh Yahya bin Abi Al Khair bin Salim Al Yamani dalam kitab Al Bayan Madzhab Al Imam As Syafi'i.

" Ketika melekatkan perban, lalu ia hendak melaksanakan mandi wajib atau wudhu, maka jika ia tidak khawatir adanya bahaya (ketika perban dilepas) maka wajib untuk melepas perban tersebut dan wajib pula membasuh bagian yang dapat dibasuh dari luka tersebut dan wajib tayammum atas bagian yang tidak dapat dibasuh."

Sedangkan apabila luka termasuk berat yang dibalut dengan perban, maka tidak wajib dilepas. Karena apabila dilepas dikhawatirkan dapat menimbulkan bahaya.

Indikasi bahaya tersebut dibagi menjadi empat. Keempatnya yaitu hilangnya nyawa, hilangnya fungsi anggota tubuh, luka jadi makin lama sembuh, atau luka bertambah parah.

Syeikh Yahya juga menjelaskan hal ini dalam kitab yang sama.

" Jika perban tersebut dilepas ia khawatir salah satu dari rusaknya tubuh (hilangnya nyawa) atau anggota tubuh atau kesembuhan yang lama atau bertambah parahnya luka -ketika kita berpijak pada pendapat bahwa hal tersebut sama seperti khawatir rusaknya tubuh- maka tidak wajib untuk melepas perban, namun tetap wajib membasuh anggota tubuh di luar ikatan perban dan mengusap dengan air pada perban tersebut."

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Detik-Detik Jokowi Umumkan Kabinet Indonesia Maju