Macam-Macam Riba, Pengertian dan Hukumnya dalam Islam

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Selasa, 4 Agustus 2020 11:00
Macam-Macam Riba, Pengertian dan Hukumnya dalam Islam
Berikut macam-macam riba yang perlu diwaspadai

Dream - Bagi kebanyakan orang, menabung dan melakukan transaksi ekonomi lainnya menjadi sebuah hal lumrah yang sering terjadi. Kekhawatiran terhadap munculnya riba juga kerap mengikuti dalam prosesnya.

Pada hakikatnya, riba muncul dalam kegiatan menabung atau peminjaman di bank sehingga menimbulkan bunga yang harus dibayar.

Riba sendiri bisa diartikan sebagai sebuah penetapan nilai tambahan (bunga) atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Dalam islam, riba merupakan perbuatan haram yang tak boleh dilakukan. Dibalik hukumnya, riba menyimpan banyak dampak negatif bagi para pelakunya.

Berikut Dream akan menyajikan informasi mengenai macam-macam riba, pengertian serta hukum yang mendasari larangan riba dalam Islam.

1 dari 4 halaman

Pengertian Riba

Emas merupakan salah satu barang ribawi© Pexels.com

Menurut pengertian secara bahasa, riba diartikan sebagai ziyadah (tambahan) atau nama’ (berkembang).

Riba adalah sebuah penambahan nilai (bunga) atau melebihkan jumlah pinjaman saat dikembalikan dengan nilai tertentu yang diambil dari  jumlah pokok pinjaman yang harus dibayarkan oleh si peminjam.

Jika sang peminjam tak mampu melunasi riba pada waktu yang ditentukan, pihak pemberi pinjaman (bank atau perseorangan) akan menambahkan kembali biaya hingga pembayaran bisa dilunasi.

Dapat disimpulkan riba membuat peminjam harus membayar nilai lebih dari total pinjaman yang ia lakukan.

2 dari 4 halaman

Macam-Macam Riba

Secara umum, riba terbagi menjadi dua jenis, yakni riba buyu‘ (jual beli) dan riba ad-duyun (utang piutang)

Berikut penjelasan mengenai macam-macam riba yang perlu Sahabat Dream waspadai:

Riba buyu‘ (jual beli)

Dalam riba, ada enam jenis barang yang masuk dalam kategori barang ribawi, yakni emas, perak, gandum halus, gandum kasar, kurma dan garam.

Ada tiga macam riba dalam kondisi jual beli, yaitu:

1. Riba Fadhl

Jenis riba ini terjadi tatkala terjadi kegiatan jual beli atau pertukaran barang-barang ribawi namun dengan kadar atau takaran yang berbeda.

Contoh kasusnya: Menukar emas 24 karat dengan 18 karat, atau menukar pecahan uang sebesar 100 ribu dengan pecahan dua ribu namun jumlahnya hanya 48 lembar, sehingga total uang yang diberikan hanya 96 ribu.

2. Riba Yad

Riba yad terjadi saat proses jual-beli barang ribawi maupun non ribawi disertai penundaan serah terima kedua barang yang ditukarkan, atau penundaan terhadap penerimaan salah satunya.

Riba yad terjadi ketika proses transaksi tidak menegaskan berapa nominal harga pembayaran. Jadi, saat proses tersebut, tidak ada kesepakatan sebelum serah terima.

Contoh kasusnya, ada orang yang menjual motor dan menawarkan barang seharga 12 juta jika dibayar tunai, namun jika dicicil menjadi 15 juta. Baik si penjual maupun pembeli sama-sama tidak menyepakati berapa jumlah yang harus dibayarkan hingga akhir transaksi.

3. Riba Nasi'ah

Riba nasi'ah terjadi tatkala ada proses jual-beli dengan tempo tertentu. Transaksi tersebut dilakukan dengan dua jenis barang ribawi yang sama namun dengan penangguhan penyerahan atau pembayaran.

Contoh kasusnya, si B membeli emas dengan jangka waktu dan tempo yang ditentukan, baik dilebihkan atau tidak. Padahal seharusnya jika sudah membeli emas, ia harus membelinya kontan atau menukarnya secara langsung.

Contoh lainnya, misal ada dua orang yang ingin bertukar emas 24 karat. Pihak pertama sudah memberikan emas pada pihak kedua. Namun pihak kedua mengatakan baru akan menyerahkannya sebulan lagi. Kondisi ini masuk dalam kategori riba nasi’ah. Karena harga emas bisa saja berubah sewaktu-waktu.

3 dari 4 halaman

Riba terbagi menjadi dua, dari hutang piutang dan jual beli© Pexels.com

Riba ad-duyun (hutang piutang)

Dalam kegiatan hutang piutang, ada istilah muqrid dan muqtarid. Muqrid adalah pemberi hutang, sedangkan muqtarid adalah penerima hutang. Proses ini dikatakan sebagai riba jika mendatangkan keuntungan bagi si pemberi hutang.

Ada dua macam riba dalam proses hutang piutang, yaitu:

1. Riba Qardh

Riba qardh terjadi ketika ada penambahan yang dihasilkan atas pengembalian pokok pinjaman yang disyaratkan kepada muqrid (pemberi hutang). Maksudnya, sang muqrid (pemberi hutang) mengambil keuntungan yang disyaratkan kepada muqtarid (penerima hutang). Contohnya, seorang rentenir memberi pinjaman 100 juta dengan syarat bunga 20 persen selama 6 bulan.

2. Riba Jahilliyah

Riba Jahiliyah terjadi ketika ada penambahan hutang melebihi nilai pokok pinjaman karena muqtarid (penerima hutang) tidak mampu membayar hutangnya tepat waktu.

Contohnya, jika muqtarid meminjam uang 20 juta rupiah dan harus dikembalikan dalam 6 bulan. Jika tak bisa melunasi tepat waktu, pengembalian uang bisa ditunda namun harus memberikan tambahan dari total pinjaman.

4 dari 4 halaman

Dalil Al-Quran tentang Larangan Riba

Islam melarang umatnya untuk bertransaksi jual-beli maupun hutang piutang jika terdapat riba didalamnya. Larangan tersebut tertuang dalam banyak dalil ayat Al-Quran:

1. QS. Ali Imran:130

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."

2. QS. Al Baqarah:279 

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya."  

3. QS. Al Baqarah:276 

" Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa."

4. QS. An-Nisa:161

" Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih."

 

Sumber Brilio dan dari berbagai sumber

Beri Komentar