4 Penyebab Makanan Halal Bisa Jadi Tak Baik

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 6 November 2019 06:01
4 Penyebab Makanan Halal Bisa Jadi Tak Baik
Ada empat kriteria dlarar yang bisa membuat makanan halal tidak baik dikonsumsi.

Dream - Semua makanan pada prinsipnya berhukum halal kecuali jika ada dalil yang secara tegas menyatakan keharamannya.

Dalam Islam, seorang Muslim ditekankan untuk mengonsumsi makanan halal lagi baik, halalan thayyiban. Konsep thayyib menandai kualitas dari makanan itu.

Halal adalah istilah yang dipakai untuk menandai makanan yang boleh dikonsumsi seorang Muslim. Sedangkan thayyib berkaitan dengan kualitas, apakah sebuah makanan berbahaya bagi seseorang atau tidak.

Dikutip dari NU Online, konsep ini sejalan dengan Surat Al Maidah ayat 4.

Mereka menanyakan padamu, " Apa yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah, " dihalalkan bagi mereka thayyibah (segala yang baik).

Makna ayat ini menandakan perlunya memperhatikan konsep thayyib pada makanan. Sebab, tidak thayyibnya makanan dapat menjadi sebab ketidakhalalannya.

1 dari 5 halaman

Dlarar Pembuat Makanan Jadi Haram

Pakar fikih dan hadis KH Ali Mustafa Ya'qub menjelaskan persoalan keamanan produk pangan dan dampak bahayanya dengan istilah ad dlarar. Meski halal, suatu produk bisa berbahaya pagi penggunanya jika tidak dlarar.

Dlarar sendiri jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia bermakna " menimpakan kepada orang lain sesuatu yang menyakitkan dan tidak disukai." Sehingga, istilah ini mengacu pada kandungan yang tidak disukai, dapat menimbulkan penyakit serta dampak buruk lainnya.

Kiai Ali dalam bukunya Kriteria Halal-Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut Al Quran dan Hadits merinci beberapa kategori dlarar pada makanan. Kriteria tersebut menjadi penanda makanan bisa digolongkan haram atau tidak.

Dlarar pertama yaitu dilihat dari aspek bahaya menurut prinsip syariat Islam, maqashid asy syariah. Produk pangan bisa menjadi tidak halal jika terdapat dlarar berupa menimbulkan bahaya atas lima hal: agama, jiwa, keturnan, harta, dan akal.

Sebagai contoh mengonsumsi makanan yang secara tegas dilarang dalam nash Alquran dan hadis dapat membahayakan agama. Demikian pula, mengonsumsi racun dapat menimbulkan kematian.

Atau pula mengonsumsi makanan yang berbahaya untuk keturunan. Hal ini tentu sangat dilarang.

2 dari 5 halaman

Bahaya dari Dampak yang Muncul

Dlarar kedua, berbahaya dari aspek dampak yang timbul. Setidaknya terdapat dua dampak bahaya pada makanan yang muncul cepat maupun lambat. Seperti mengonsumsi gula berlebih dapat memicu kegemukan ataupun diabetes.

Dlarar ketiga dilihat dari kondisi penggunanya. Maksudnya, bahaya mengonsumsi makanan muncul pada penggunanya sehingga sifatnya mutlak. Kerusakan yang terjadi bisa nyata, bisa juga bersifat relatif pada kondisi tertentu.

Seperti konsumsi gula pada penderita diabetes atau air pada penderita jantung. Gula atau air berlebih berbahaya bagi penyandang diabetes atau jantung.

Sedangkan dlarar keempat ditetapkan berdasarkan sifatnya. Dampak bahaya yang muncul dapat diamati secara langsung seperti sakit.

Keempat dlarar ini menunjukkan unsur bahaya bisa menjadi penyebab suatu makanan haram dikonsumsi. Jika produk pangan halal secara zatnya, makanan itu bisa diharamkan dalam kondisi tertentu.

Keharaman juga bisa ditetapkan pada proses pengolahan produk pangan. Misalnya, makanan diolah menggunakan zat kimia yang tidak pada tempatnya.

Sumber: NU Online

3 dari 5 halaman

Mengapa Ada Hukum Mubah dalam Syariat?

Dream - Umat Islam tentu sudah mengenal jenis-jenis hukum dalam syariat. Secara umum, jenis hukum syariat terbagi menjadi fardu (wajib), sunah, mubah, makruh, dan haram.

Kelima jenis ini berkaitan dengan terkait aturan boleh tidak mengenai suatu hal yang dikaitkan dengan pahala dan dosa. Dari kelima hukum tersebut, ada satu yang bersifat netral.

Hukum itu adalah mubah. Jika perkara dihukumi mubah, maka boleh dilakukan dan boleh pula ditinggalkan.

Karena sifatnya netral, mubah terkesan jadi jenis hukum yang ringan. Karena baik dilakukan ataupun ditinggalkan, sama-sama tidak berdampak pada catatan pahala maupun dosa.

Lantas, mengapa ada hukum mubah dalam syariat?

4 dari 5 halaman

Mubah Sebagai Sarana Keringanan

Dikutip dari NU Online, patut dipahami mubah adalah salah satu hukum Allah. Sebenarnya, hukum ini condong pada perbuatan yang dianjurkan namun tidak ada jaminan pahala.

Imam Ali Al Murshifi dalam Minahus Saniyah lebih menyarankan untuk mengganti perbuatan-perbuatan mubah dengan sunah. Ini untuk mencapai derajat yang tinggi.

Dengan penggantian mubah ke sunah maka dapat menambah catatan pahala. Dengan begitu, orang bisa termotivasi untuk melakukan hal-hal produktif.

Tentu saja, tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Termasuk pula dengan hukum mubah ini. Dalam salah satu karyanya, ulama sufi Ali Al Khowash menyinggung hikmah dari keberadaan hukum mubah.

" Allah tidak menjadikan perkara mubah kecuali hanya memberi kesempatan istirahat bagi anak-cucu Nabi Adam dari rasa lelah melakukan beban kewajiban. Sebab Allah telah mengisi rasa bosan dalam jiwa anak-cucu Nabi Adam dari menjalankan perintah agama. Seandainya Allah tidak mengisi rasa bosan di dalam jiwa anak-cucu Nabi Adam, pasti Allah tidak mensyariatkan hukum mubah kepada mereka, sebagaimana para malaikat. Mereka tidak merasa bosan beribadah kepada Allah, selalu bertasbih sepanjang malam dan siang tanpa bosan."

5 dari 5 halaman

Anjuran Menggantinya dengan Sunah

Penjelasan tersebut menunjukkan perkara mubah berfungsi sebagai selingan atau jeda. Bisa dikatakan mubah dapat menjadi waktu istirahat bagi seseorang agar tidak jenuh menjalankan kewajiban dan menghindari larangan Allah.

Seandainya mubah tidak ada, tentu kehidupan manusia sepenuhnya menjalankan yang wajib dan menjauhi yang terlarang. Aktivitas ini bisa menjadi monoton sehingga menimbulkan kebosanan.

Selain itu, mubah juga berperan sebagai rukhshah atau keringanan bagi seorang Muslim. Orang yang menggunakan rukhshah tentu tidak akan mendapatkan apa-apa.

Karena itulah, banyak ahli tarekat menyarankan pengikutnya untuk meninggalkan atau minimal mengurangi perkara mubah dan menggantinya dengan sunah. Sehingga, setiap ibadah yang dilakukan dapat meningkat dari segi kualitas.

Sumber: NU Online.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone