Mantri Nyamuk UGM Masuk 100 Tokoh Berpengaruh Dunia

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 16 September 2021 14:28
Mantri Nyamuk UGM Masuk 100 Tokoh Berpengaruh Dunia
Penemuan Profesor Adi Utarini memberikan sumbangsih besar pada dunia dalam memerangi demam berdarah.

Dream - Profesor Adi Utarini kembali membuat bangga Indonesia. Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada itu masuk dalam jajaran 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dunia versi Time.

Profesor yang dijuluki Mantri Nyamuk ini memberikan sumbangsih besar bagi dunia lewat penelitiannya soal nyamuk untuk mengatasi demam berdarah. Prof Uut, begitu dia disapa, berhasil menekan tingkat penularan wabah dengan temuannya berupa nyamuk modifikasi.

Co-Chair Yayasan Bill dan Melinda Gates, Melinda French Gates, membuat ulasan cukup apik mengenai Prof Uut. Dia mengaku sempat berkunjung Yogyakarta dan bertanya kepada beberapa keluarga tinggal di dekat laboratorium Prof Uut mengenai temuan nyamuk modifikasi itu.

" Kebanggaan mereka menjadi bagian nyata dari karya dia (Prof Uut) menjadi bukti kepercayaan yang didapat Utarini dari masyarakatnya, dan atas urgensi yang dirasakan jutaan orang di seluruh dunia dalam memerangi demam berdarah," tulis French.

Temuan Prof Uut dinilai sebagai kemenangan besar dunia dalam menekan sebagian besar kasus penyakit palung menular tersebut dari tahun ke tahun. Bagaimanapun, dunia mengklaim demam berdarah sebagai penyakit yang paling sulit disembuhkan.

 

1 dari 6 halaman

Membanggakan

Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk itu melanda hampir 400 juta jiwa penduduk dunia. WHO sendiri telah menetapkan demam berdarah sebagai satu dari 10 ancaman terbesar dari kesehatan dunia.

" Utarini bekerja sama dengan tim peneliti internasional dari Program Nyamuk Dunia untuk mengekang ancaman ini dengan menginokulasi nyamuk dengan Wolbachia," tulis French

Wolbachia merupakan bakteri tidak berbahaya bagi manusia tetapi mencegah nyamuk menularkan demam berdarah melalui gigitannya. Teknik ini meraih sukses besar saat diaplikasikan kepada masyarakat.

" Saat ini, hampir semua orang di Yogyakarta tahu mereka yang pernah terkena deman berdarah. Utarini sendiri pernah dua kali," tulis French mengakhiri ulasannya untuk Time.

2 dari 6 halaman

Mantri Nyamuk UGM Adi Utarini Dinobatkan Sebagai Ilmuwan Berpengaruh Dunia

Dream - Nama Indonesia di dunia semakin harum, khususnya di bidang sains dan teknologi. Satu lagi putri bangsa menorehkan prestasi dan memberikan manfaat begitu besar bagi kesehatan masyarakat dunia.

Dialah Adi Utarini, pemilik gelar profesor dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Perjuangan puluhan tahun meneliti nyamuk untuk menekan demam berdarah mengantarkannya dinobatkan sebagai satu dari 10 ilmuwan berpengaruh dunia oleh jurnal ilmiah, Nature.

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia awal tahun ini, wanita yang biasa disapa Prof Uut ini berjuang memerangi infeksi lain yang mematikan, demam berdarah. Pada Agustus lalu, Prof Uut bersama timnya berhasil menyelamatkan banyak orang di sejumlah kota di Indonesia dari ancaman demam berdarah.

Caranya dengan melepaskan nyamuk yang telah dimodifikasi. Hasilnya, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa ditekan hingga 77 persen.

Upaya Prof Uut beserta tim mendapat pujian dari para epidemiolog. Strategi yang dia pakai sangat efektif memerangi DBD yang melanda banyak negara dan menjangkiti sekitar 400 juta orang setiap tahun.

" Sangat melegakan," ujar Prof Uut, dikutip dari Nature.

3 dari 6 halaman

Pendekatan Baru Dalam Pengendalian DBD

Metode yang digunakan Prof Uut disebut sebagai pendekatan baru dalam pengendalian DBD. Metode tersebut dijalankan dengan membiakkan nyamuk Aedes aegypti pembawa virus DBD, Zika, Cikungunya, tetapi diberi bakteri Wolbachia.

Bakteri Wolbachia akan membunuh virus-virus tersebut sehingga nyamuk tidak bisa menularkannya ke manusia. Nyamuk dibiarkan berkembang biak dan telurnya ditempatkan di sekitar kawasan pemukiman.

Metode ini sebelumnya diujicobakan di Australia dan Vietnam dengan hasil yang sungguh menakjubkan. Sementara di Yogyakarta sendiri dengan penduduk yang padat, butuh uji coba lebih banyak lagi.

Uji coba di Yogyakarta mulai dijalankan pada 2011. Sayangnya, Prof Uut dan timnya sempat menghadapi masalah perizinan dari pemerintah.

Prof Uut turun tangan dan berusaha bernegosiasi dengan sejumlah menteri. Izin pun keluar.

 

4 dari 6 halaman

Masyarakat Sangat Antusias

Ternyata, penelitian itu menarik perhatian masyarakat. Masyarakat begitu antusias untuk mengetahui hasil penelitian Prof Uut.

" Bahkan sebelum hasil akhir, kami sudah mendapat permintaan dari sejumlah komunitas, 'kapan Anda bisa melakukan ini di daerah saya?'," kata Prof Uut.

" Mimpi itu menjadi nyata," ucap dia melanjutkan.

Banyak yang kagum dengan keberhasilan Prof Uut. Termasuk para rekan sesama peneliti dari sejumlah negara.

" Itulah keberhasilan tim yang dipimpin Adi (Prof Uut)," ujar peneliti demam berdarah di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Oliver Brady.

 

5 dari 6 halaman

Sosok yang Mengagumkan

Direktur Program Nyamuk Dunia di Ho Chi Minh City Vietnam, Scoot O'Neill, memuji Prof Uut yang cenderung pendiam namun persuasif sebagai sosok perekat dan penyatu. O'Neill turut bergabung dalam penelitian yang dijalankan Prof Uut.

" Adi dan kelompoknya telah melaksanakan uji coba yang sangat berkualitas ini, yang memberikan kami bukti terbaik dari teknologi ini," katanya.

Nyamuk Wolbachia sekarang dilepaskan di seluruh Yogyakarta dan, untuk pertama kalinya, para peneliti demam berdarah memikirkan gagasan mereka dapat membasmi virus dari kota. Bahkan mungkin suatu negara.

" Orang-orang menggambarkannya sebagai memvaksinasi tanah," kata Brady.

 

6 dari 6 halaman

Tegar Diterpa Tragedi

Meski meraih kejayaan, Prof Uut sempat mengalami tragedi. Pada Maret lalu, suaminya, seorang farmakolog, meninggal karena Covid-19.

Dalam masa sulit, Prof Uut menghibur diri dengan bermain piano dan bersepeda. " Setiap kali saya memiliki masalah yang belum terpecahkan, saya mencoba untuk mendapatkan ide melalui itu," ucap Prof Uut.

Soal demam berdarah, dia optimistis. “ Saya percaya pada teknologi ini. Mungkin akhirnya ada cahaya dalam kegelapan," terang Prof Uut.

Beri Komentar