Menemukan Uang Receh di Jalan, Ambil Atau Biarkan? Ini Pendapat Gus Baha'

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 5 Agustus 2021 11:00
Menemukan Uang Receh di Jalan, Ambil Atau Biarkan? Ini Pendapat Gus Baha'
Pendapat Gus Baha' dapat menjadi pertimbangan.

Dream - Uang receh seringkali ditemukan tergeletak di jalanan, tanpa ada yang mau mengambilnya.

Banyak orang yang memilih mengabaikan uang receh tercecer di jalanan. Salah satu sebabnya, nominalnya yang kecil sehingga dianggap kurang bernilai.

Buat beli permen saja hanya dapat berapa butir. Tentu tidak cukup untuk kebutuhan, apalagi nasi bungkus.

Belum lagi jika mengikuti kaidah syariat, yang mewajibkan temuan barang untuk diumumkan. Tentu ini jadi merepotkan jika nilai uangnya sangat-sangat kecil.

Tetapi, Pakar Alquran dan Tafsir, KH Ahmad Bahauddin Nursalim, punya pendapat berbeda. Gus Baha' justru menganjurkan receh itu diambil dan dimanfaatkan.

Dalam pandangan Gus Baha', orang yang tidak mau memanfaatkan uang receh temuan di jalan adalah orang sombong. Apa maksud dari istilah ini?

Pendapat ini mungkin unik, namun bisa dijadikan pertimbangan. Bagaimana cara pandang Gus Baha' secara rinci mengenai masalah ini dapat disimak di sini, seperti dikutipkan secara utuh dari laman Iqra.id.

1 dari 3 halaman

Sombong?

Sabda Rasulullah, orang itu sombong sekali ketika mendapatkan satu kurma di pasar atau di pinggir jalan, kok enggak berani makan, itu sombong.

Itu wara'i (sifat warak) yang menjadikan bodoh, kata Rasulullah.

Kadang kan kita terlalu, misalnya ada uang, mohon maaf, misalnya Rp500. Meskipun orang melarat pun tidak akan dicari.

Saya ulangi lagi, meski yang kehilangan itu orang yang melarat sekalipun, (uang Rp500) tidak akan dicari. Terus kamu atas nama wara' tidak berani mengambil, apalagi meyakini haram.

Itu sifat wara' yang malah merusak Islam!

Mestinya, harus kamu ambil. Kalau kamu ingin, ya ambil saja. Atau kalau kamu tasawuf ya ambil terus kasih anak kecil, karena kalau orang Islam begitu semua, ya repot!

2 dari 3 halaman

Contoh dari Rasulullah

Bagaimanapun Islam itu mengharamkan tadlyi'ul maal, menyia-nyiakan harta. Saya ulangi lagi, Islam melarang sesuatu tidak ada gunanya.

Makanya, Nabi pernah menemukan satu kurma jatuh, sabdanya Nabi, " Andaikan saya tidak ragu, yakin itu bukan sedekah pasti saya makan" .

Kemudian semenjak itu, Sayyidina Ali ketika ada kurma jatuh satu, ya dimakan. Katanya, menghilangkan takabbur (sombong).

Ketika ada yang tanya " Mitsluka laa ya'kulu hadza" , semestinya orang selevel Anda tidak makan seperti ini.

 

3 dari 3 halaman

Jangan Wara' Yang Malah Menyia-nyiakan Harta

Sebagian sifat wara' itu menjadikan bodoh. Karena kalau kamu terlalu wara' itu terjadi idha'atul maal, yakni ada harta yang sia-sia.

Makanya ulama mengatakan, luqothoh, barang temuan itu kalau barangnya ada nilainya. Misalnya menemukan uang Rp1 juta, lalu (harus) diumumkan.

Tapi, kalau sepele ya dimakan. Nanti kalau ada orangnya komplain ya dikembalikan. Kalau nggak ya nggak.

Tapi, masak ada pisang goreng satu jatuh, terus ada orang yang punya komplain itu kan orang terlalu pelit.

Beri Komentar