Menerima Imbalan Usai Diminta Membaca Alquran, Bolehkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 23 Oktober 2019 20:00
Menerima Imbalan Usai Diminta Membaca Alquran, Bolehkah?
Cukup banyak acara keagamaan Islam yang kerap melibatkan qari' atau pembaca Alquran.

Dream - Di setiap acara keagamaan seperti pengajian atau tabligh akbar, qiraat atau membaca Alquran tak pernah terlewat dari susunan acara pembukaan.

Ayat-ayat Alquran dibaca dengan nada merdu untuk mengingatkan tujuan dari acara yang digelar.

Bisa membaca Alquran dengan suara merdu tidaklah mudah. Butuh latihan panjang agar bisa melakukannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang memahirkan diri agar bisa menjadi pembaca Alquran atau qari'. 

Tidak sedikit qari' yang diundang ke sebuah pengajian pulang dengan membawa uang. Itu sebagai imbalan atas kesediaannya melantunkan ayat Alquran pada sebuah acara.

Membaca Alquran terhitung sebagai ibadah. Tetapi, bagaimana hukumnya jika qari' menerima uang dari profesinya?

Dikutip dari NU Online, peristiwa menerima upah dari Alquran, baik dari membacanya maupun mengajarkannya pernah dialami sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Hal itu terekam dalam riwayat Imam Bukhari.

Diriwayatkan dari Sahabat Abi Said Al-Khudri Radliyallahu ‘Anhu bahwa sekelompok sahabat mendatangi suatu kabilah dari beberapa kabilah Arab, namun mereka tidak mempersilakan masuk terhadap para sahabat. Hal itu terus berlangsung, sampai suatu ketika pemuka kabilah tersebut digigit (ular), lalu mereka berkata 'Apakah kalian membawa obat atau adakah orang yang bisa meruqyah?' Para sahabat pun menjawab 'Kalian tidak mempersilakan masuk pada kami, kami tidak akan meruqyahnya (mengobatinya) sampai kalian memberikan upah pada kami.' Lalu mereka pun memberikan beberapa potongan kambing sebagai upah, lalu seorang sahabat membaca Surat Al Fatihah, dan mengumpulkan air liurnya lalu mengeluarkannya (baca: melepeh) hingga sembuhlah pemuka kabilah yang tergigit ular, dan mereka memberikan kambing. Para sahabat berkata, 'Kami tidak akan mengambilnya, sampai kami bertanya pada Rasulullah.' Mereka pun menanyakan perihal kejadian tersebut pada Rasulullah, beliau lalu tertawa dan berkata, 'Apa itu Ruqyah? Ambillah, dan berilah bagian untukku'.

1 dari 6 halaman

Pandangan Ulama

Menanggapi riwayat ini, ulama Mesir Syeikh Abdullah bin Shidiq Al Ghumari menjadikannya sebagai hujjah atau dasar dibolehkannya menerima upah dari membaca Alquran. Dia menjelaskan pandangannya ini dalam kitab Al Hawi fi Al Fatawi Al Ghumari.

" Berdasarkan hadis ini, dapat ditarik kepahaman bahwa mengambil upah atas membaca Alquran adalah hal yang diperbolehkan, sebab Nabi membiarkan sahabat untuk mengambil kambing sebagai ganti atas bacaan mantra berupa Surat Al Fatihah dan beliau mengambil bagian (atas kambing tersebut) bersama mereka, lalu beliau mengglobalkan hukum dengan berkata, 'Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah (membaca) kitab Allah'. Dalil ini merupakan paling kuat yang mengindikasikan pengglobalan hukum (boleh). Sedangkan hadis " Bacalah Alquran, jangan menjadikannya kering, jangan menjadikannya mahal dan jangan (mencari) makan dengan Alquran" adalah hadis yang lemah, sanadnya terputus. Jika dikira-kirakan keshahihan hadis tersebut, maka sesungguhnya hadis yang telah aku jelaskan di atas lebih shahih dan lebih kuat, sebab terdapat dalam dua kitab shahih (Bukhari Muslim), sedangkan hadis ini terdapat dalam kitab Musnad Ahmad, sedangkan kitab musnad tidak tertentu (mencantumkan) hadis shahih saja, tapi di dalamnya juga terdapat hadits yang lemah, seperti halnya keterangan yang telah diketahui."

Meski hadis dan penjelasan di atas mengerucut pada dibolehkannya mengambil upah dari Alquran, hal ini menjadi perdebatan di kalangan ulama Mazhab.

2 dari 6 halaman

Perbedaan Pendapat

Seperti pada Mazhab Hanafi yang tidak membolehkan mengambil upah. Pendapat mereka, mengambil atau memberi upah atas bacaan Alquran terlarang, bahkan tergolong perbuatan penyebab dosa.

Sementara tiga mazhab lainnya yaitu Maliki, Hambali, dan Syafi'i tetap membolehkan mengambil upah dari Alquran. Demikian pula dengan para ulama kontemporer yang membolehkan akad ijarah (sewa jasa) atas membaca maupun mengajar Alquran.

Hal ini dijelaskan dalam Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah.

" Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa tidak boleh membaca Alquran dengan adanya imbalan dan hal tersebut tidak mengakibatkan wujudnya pahala, orang yang mengambil dan memberi upah sama-sama terkena dosa. Realita yang terjadi pada masa kita berupa membaca Alquran di sisi kubur dan di tempat umum merupakan hal yang tidak diperbolehkan secara syara'. Akad ijarah (menyewa jasa) atas bacaan Alquran merupakan hal yang batal dan hukum asal dari akad ijarah atas mengajar Alquran adalah tidak diperbolehkan. Tetapi ulama muta’akhirin (kontemporer) memperbolehkan akad ijarah atas mengajar Alquran dengan dalil istihsan. Begitu juga pada hal-hal yang berhubungan dengan syiar agama, seperti menjadi imam dan muazin karena merupakan suatu kebutuhan. Imam Malik dan Imam Syafi'i memperbolehkan mengambil upah atas bacaan Alquran dan mengajarkannya. Pendapat demikian juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Qalabah, Abu Tsur, dan Ibnu Mundzir, sebab Rasulullah pernah menikahkan seseorang dengan bacaan Alquran yang ia kuasai dan hal tersebut diposisikan sebagai mahar, maka diperbolehkan mengambil upah atas Alquran dalam akad Ijarah."

Sumber: NU Online

3 dari 6 halaman

Keutamaan Mengucap Hamdalah Saat Menerima Makanan

Dream - Berbagi makanan dengan sesama mungkin sudah menjadi kebiasaan kita. Ada perasaan lega ketika berbagi makanan dengan terutama kepada mereka yang membutuhkan.

Makanan merupakan salah satu bentuk rahmat Allah yang diberikan kepada setiap makhluknya. Dengan makanan, seseorang bisa memperoleh energi untuk melanjutkan aktivitasnya.

Sebagai manusia kita patut bersyukur ketika masih diberi rezeki makanan. Apalagi jika kita mendapatkannya dari orang lain.

Dikutip dari Bincang Syariah, terdapat anjuran bagi umat Islam untuk mengucap hamdalah setiap kali mendapatkan makanan. Memang terkesan sepele, tapi ternyata banyak juga yang tidak melakukannya.

Padahal, mengucap hamdalah sebenarnya merupakan salah satu wujud bersyukur dan ungkapan terima kasih kita sebagai hamba kepada Allah. Mengucap hamdalah berarti kita membenarkan telah menerima nikmat-Nya.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Abu Hurairah bercerita mengenai pengalamannya membawakan cangkir kepada Rasulullah Muhammad SAW.

" Aku memberikan cangkir kepada Nabi SAW. Kemudian beliau memuji Allah dan menyebut nama-Nya (membaca basmalah)."

4 dari 6 halaman

Termasuk Ketika Memesan Makanan

Anjuran mengucap hamdalah tidak hanya ketika ada orang memberi makanan. Juga ketika kita membeli makanan lewat pesanan.

Selain mengucap terima kasih para orang yang mengantarkan, hendaknya kita juga mengucap hamdalah. Bahkan sebelum ucapan terima kasih itu disampaikan.

Dengan begitu, kita sudah menjalankan sunah Rasul sekaligus memperlakukan orang lain dengan baik. Tak hanya itu, mengucap hamdalah juga menujukkan kepribadian yang lapang dada.

Ungkapan syukur lewat hamdalah tidak sebatas dari mulut saja melainkan hingga hati. Karena di dalam kalimat tersebut juga mengandung unsur zikir mengingat Allah.

Syeikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Syarh Riyadhush Shalihin memberikan penjelasan demikian.

" Di antara faedah hamd (hamdalah) yaitu tatkala seseorang memulai melakukan sesuatu dengan pujian kepada Allah niscaya Allah Ta’ala akan menjadikan keberkahan di dalamnya."

Sumber: Bincang Syariah

5 dari 6 halaman

Doa Saat Cuaca Sedang Panas

Dream - Dalam beberapa hari belakangan, sebagian kota di Indonesia mengalami cuaca panas. Suhu udara sampai di atas 35 derajat Celcius.

Cuaca panas dirasakan di sejumlah wilayah. Terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Cuaca panas tidak bisa dianggap sepele. Karena suhu ekstrem bisa menimbulkan sejumlah gangguan pada fungsi tubuh.

Salah satu gangguan yang bisa terjadi yaitu heatstroke. Tidak sedikit kasus orang meninggal akibat suhu ekstrem.

Menjaga kondisi tubuh tetap fit saat cuaca panas tentu jadi salah satu langkah yang direkomendasikan. Selain itu, dianjurkan membaca doa ini.

6 dari 6 halaman

Doa Cuaca Panas

 Doa Cuaca Panas

Allahumma khaffif 'anna wa 'anil muslimin, allahumma qina syarra hadza al har, wahminaa minhu wa mimma yaḥmilu min adza. Allahumma la taj'al fihil maradh wa lal halak li ahadin min 'ibadika. Allahumma khaffif hararatas syamsi, wa atsaraha 'alayna. Allahumma ajirna min nari jahannama ya rahim. Allahumma ajirna min harri jahannama ya ghafiraad dzanbi, wa qabilat taubah, ya ghafur, ya rahim.

Artinya,

" Ya Allah, ringankanlah dari kami dan kaum muslimin. Ya Allah, selamatkan kami dari bahaya panas ini, lindungilah kami dari panas ini dan dari penyakit yang dibawanya. Ya Allah jangan Engkau jadikan pada panas ini penyakit dan kebinasaan bagi siapapun dari para hamba-Mu. Ya Allah, ringankanlah panas matahari ini dan dampaknya bagi kami. Ya Allah, selamatkan kami dari api neraka wahai Yang Maha Pengasih. Ya Allah, selamatkan kami dari panas neraka wahai Yang Maha Mengampuni dosa, Maha Menerima tobat. Ya Allah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih."

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara