Amalan yang Buat Sahabat Rasulullah Berlomba-lomba Melakukannya

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 21 Agustus 2019 14:01
Amalan yang Buat Sahabat Rasulullah Berlomba-lomba Melakukannya
Manfaat wakaf bisa dirasakan umat Islam hingga waktu yang tak terbatas.

Dream - Wakaf, amalan sunah berupa berbagi harta untuk kebajikan kini kembali digalakkan di kalangan kaum muda Islam di Indonesia. Muslim muda Indonesia makin gemar berbagi sebagai bentuk implementasi ajaran agama.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, keinginan untuk berwakaf juga semakin dimudahkan. Banyak lembaga amil bahkan perbankan membuka program wakaf.

Sebenarnya, apa keutamaan wakaf hingga disyariatkan dalam Islam?

Dikutip dari NU Online, para pakar fikih menerangkan wakaf merupakan amalan sedekah harta permanen dengan pemanfaatan yang dibekukan khusus untuk hal-hal yang dibolehkan menurut syariat. Ketika harta telah diwakafkan, maka statusnya tidak boleh dijual maupun dihibahkan.

 

1 dari 7 halaman

Dalil Pensyariatan Wakaf

Beberapa dalil yang menjadi dasar pensyariatan wakaf seperti Surat Ali Imron ayat 92.

" Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Ayat ini diperjelas dengan hadis riwayat Muslim.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, " Ketika anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya."

 

2 dari 7 halaman

Apa Itu Wakaf?

Ulama menafsirkan sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya) dalam hadis di atas sebagai wakaf. Ini karena wakaf merupakan satu-satunya sedekah yang dapat dimanfaatkan secara permanen oleh penerimanya.

Hal ini bisa terjadi karena syariat mengharuskan pemanfaatannya dibekukan, murni hanya untuk pihak penerima wakaf. Pahala wakaf akan mengalir kepada orang yang melakukan seiring harta wakaf tersebut dijaga kelestariannya oleh banyak orang.

Inilah yang membedakan wakaf dengan sedekah biasa atau hibah. Pada sedekah, tidak ada jaminan pahalanya lestari. Karena bisa jadi penerimanya langsung memanfaatkan harta sedekah sampai habis seketika.

Demikian pula dengan hibah sesuatu seperti tanah. Bisa jadi penerima hibah menjual tanah yang didapatnya sehingga pahala bagi pemberi hibah seketika terhenti begitu tanah berpindah kepemilikan.

Syeikh Khatib As Syarbini dalam kitab Mughni Al Muhtaj menjelaskan demikian.

" Sedekah jariyah diarahkan kepada wakaf menurut para ulama seperti yang dikatakan imam Ar Rafi'i, sesungguhnya selain wakaf dari beberapa sedekah tidak mengalir pahalanya, bahkan pihak yang diberi sedekah memiliki benda dan manfaatnya secara langsung. Adapun wasiat dengan beberapa manfaat meski tercakup oleh hadis, akan tetapi jarang diterapkan. Maka mengarahkan sedekah dalam hadis atas arti wakaf lebih utama."

 

3 dari 7 halaman

Wakaf di Masa Rasulullah, Amalan Ngetren

Di masa Rasulullah, wakaf menjadi amalan yang sangat digemari para sahabat. Setelah Rasulullah bersabda mengenai keutamaan wakaf, para sahabat berlomba-lomba mewakafkan hartanya seperti kebun kurma, sumur, dan masih banyak lagi.

Bisa dibilang, wakaf jadi tren kala itu. Tidak ada satupun sahabat yang mampu secara keuangan yang tidak berwakaf. Bahkan dalam catatan Imam Syafi'i, ada 80 sahabat dari golongan Anshar yang mewwakafkan harta mereka.

Syeikh Musthafa Al Khin dalam Al Fiqh Al Manhaji mengutip riwayat yang menjelaskan bagaimana para sahabat Rasulullah kala itu gemar sekali berwakaf.

" Dan telah masyhur berwakaf di antara sahabat dan menyeluruh, sehingga sahabat Jabir berkata, 'tidaklah tersisa dari para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan (finansial) kecuali mewakafkan hartanya.' Al Imam As Syafi'i berkata, 'telah sampai kepadaku bahwa 80 sahabat dari Anshar bersedekah dengan sedekah yang diharamkan (dijual dan dihibahkan).' As Syafi'i mengucapkan redaksi 'sedekah yang diharamkan' ini untuk arti wakaf."

Begitu luar biasanya keutamaan wakaf bagi umat Islam. Meski pewakifnya telah tiada, manfaatnya tetap bisa dirasakan oleh umat Islam hingga akhir zaman.

4 dari 7 halaman

Anak Kecil Merusak Barang, Siapa Harus Tanggung Jawab?

Dream - Dalam transaksi jual beli terdapat mekanisme ganti rugi jika terjadi kerusakan. Tentu, tanggung jawab untuk mengganti kerugian dibebankan kepada orang yang merusaknya.

Kondisi ini juga diakui dalam syariat Islam. Sebagai contoh, kita memegang ponsel milik teman. Ketika benda tersebut mengalami kerusakan ketika dalam penguasaan kita, maka kita terkena tanggung jawab untuk melakukan penggantian.

Namun begitu, tidak setiap kerusakan bisa dikenai ganti rugi. Bagaimana jika kerusakan disebabkan oleh anak kecil?

Dikutip dari NU Online, ada ketentuan yang berlaku untuk mekanisme ganti rugi atas kerusakan barang akibat anak kecil. Mekanisme ini menentukan bisa tidaknya ganti rugi diterapkan.

5 dari 7 halaman

Jika Rusak Karena Dipinjamkan ke Anak

Semisal, Pak Budi memberikan ponselnya kepada balita tetangga untuk mainan. Apabila ponsel itu rusak karena dipakai untuk mainan balita itu, maka Pak Budi tidak bisa meminta ganti rugi.

Karena, sedari awal seharusnya penguasaan si anak atas ponsel Pak Budi berada dalam pengawasan. Sehingga, jika tiba-tiba si anak memukulkan ponsel ke lantai, maka anak itu tidak bisa diminta pertanggungjawaban.

Contoh lain, Pak Yusuf menyuruh orang yang tidak bisa menyetir untuk mengemudikan mobil. Lalu terjadi kecelakaan di tengah jalan.

Jika hal ini terjadi, yang bertanggung jawab adalah Pak Yusuf. Karena dia menyuruh orang tidak bisa menyetir untuk mengemudikan mobil.

Dua ilustrasi di atas menggambarkan pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan. Yaitu orang yang sudah paham dengan alat, tetapi dia menggunakannya tidak sebagaimana mestinya.

6 dari 7 halaman

Penjelasan Ulama

Syeikh Wahbah Az Zuhayli dalam kitab Nadhariyatu Ad Dlamman aw Ahkam Al Masuliyyah Al Madaniyyah wa Al Jinaiyyah fi Al Fiqh Al Islami memberikan penjelasan demikian.

" Dalam tanggung jawab berupa kerugian pada harta, maka tiada beda antara rusak akibat unsur kesengajaan atau tidak, dewasa atau masih kecilnya pengguna. Kecuali kalangan Malikiyyah, mereka berpendapat bahwa, " Tidak ada pertanggungjawaban atas kerugian yang diakibatkan kerusakan oleh anak kecil yang belum mumayyiz (kisaran usia balita), baik menyangkut jiwa atau harta benda. Ia menyerupai orang yang bukan ahli menggunakan."

 

7 dari 7 halaman

Berkaitan dengan Tujuan

Terkait dengan tujuan, seseorang menyerahkan ponselnya kepada balita tetangganya lantas terjadi kerusakan, maka balita tidak bisa dikenai tanggung jawab. Lain halnya jika ponsel seseorang diberikan temannya kepada balita dan rusak, maka orang yang memberikan ponsel itu terkena tanggung jawab mengganti.

Berbeda lagi jika anak berusia 10 tahun. Jika anak meminjam ponsel tetangga dan diizinkan, lalu terjadi kerusakan saat benda itu dalam penguasaannya, maka anak tersebut terkena tanggung jawab mengganti.

Tetapi karena si anak belum baligh, maka tanggung jawab itu boleh dimintakan kepada walinya atau orangtuanya.

(Sah, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi