Mengenal Maryam, Dara Super-Jenius dari Iran

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 13 Agustus 2014 14:02
Mengenal Maryam, Dara Super-Jenius dari Iran
Profesor matematika di Universitas Stanford, California, Amerika Serikat, ini menerima Fields Medal, 'Nobel' untuk ahli matematika. Dialah perempuan pertama di dunia yang meraih medali itu.

Dream - Maryam Mirzakhani. Dialah perempuan asal Iran yang berotak cemerlang. Profesor matematika di Universitas Stanford, California, Amerika Serikat, ini menerima Fields Medal, semacam 'Hadiah Nobel' untuk ahli matematika dunia.

Kecerdasan perempuan kelahiran Iran pada 1977 ini setidaknya bisa dilacak dari latar pendidikan. Dia masuk SMA di Farzanegan, Organisasi nasional untuk Pembangunan Bakat Luar Biasa (NODET) di Teheran, Iran. Pada tahun 1999, dia meraih gelar sarjana bidang matematika dari Sharif University of Technology di Teheran.

Lulus strata satu, dia kemudian hijrah ke Amerika Serikat untuk menuntut ilmu di kampus kenamaan dunia, Universitas Harvard. Dia meraih gelar PhD bidang matematika dalam usia yang relatif muda, 27 tahun, pada 2004. Kala itu, dia berada di bawah bimbingan matematikawan yang juga peraih Fields Medal, Curtis McMullen.

Karier intelektualnya terus menanjak. Dalam usia 31 tahun, dia meraih gelar profesor matematika di Universitas Stanford. Kala itu tahun 2008. Maryam dikenal sebagai ilmuwan matematika yang punya kontribusi penting dalam teori modulus ruang.

Sebenarnya bukan kali ini saja Maryam meraih penghargaan bergengsi. Jauh sebelum kondang sebagai profesor, namanya telah mencengangkan dunia melalui berbagai kejuaraan. Saat masih berusia 17 tahun, dia meraih medali emas dalam olimpiade matematika internasional di Hongkong.

Setahun berselang, tepatnya 1995, Maryam kembali meraih medali emas dalam olimpiade matematika internasional. Kali ini di Toronto, Kanada. Dalam olimpiade itu pula, dia dinobatkan sebagai siswa Iran pertama yang bisa meraih nilai sempurna.

Meski berpretasi gemilang, Maryam sebenarnya tak bercita-cita sebagai ilmuwan matematika saat kecil. " Sebagai seorang anak-anak, saya bermimpi untuk menjadi penulis. Hobi yang paling saya sukai membaca novel, bahkan saya membaca apapun yang saya temui. Saya tidak pernah berpikir saya akan belajar," tutur Maryam dilansir The Guardian.

Perempuan yang lahir dalam tiga bersaudara ini merasa bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Kedua orangtua selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk memiliki pekerjaan yang terpandang. " Tetapi mereka tidak banyak peduli pada keberhasilan dan prestasi," kata dia.

Dia mengaku terkesan pada matematika saat saudaranya mengajari soal penambahan angka dari 1 hingga 100. Dia tertarik solusi yang diajarkan oleh saudaranya itu. " Itu merupakan pertama kali saya menikmati indahnya sebuah solusi, meskipun saya tidka bisa menemukannya sendiri," kata Maryam.

Maryam mengaku harus melalui kehidupan sulit saat negaranya berperang melawan Irak. namun dia merasa beruntung bisa melalui masa-masa sulit tersebut. " Saya sangat beruntung dalam banyak hal. Perang berakhir saat saya lulus SD," kata dia.

" Saya tidak akan memiliki banyak kesempatan jika saya lahir sepuluh tahun lebih awal. Saya masuk SMA ternama di Teheran, Farzanegan, dan punya guru yang sangat bagus," tutur Maryam.

Di Tanah Air itulah Maryam mengenyam dasar-dasar matematika, hingga meraih gelar sarjana. Setelah itu, dia mengejarnya di negeri Paman Sam, Amerika. Saat ini, dia mampu memecahkan rekor sebagai perempuan pertama peraih Fields Medal, sebuah penghargaan bergengsi dunia di bidang matematika.

Dialah perempuan pertama di dunia yang meraih penghargaan bergengsi tersebut. Selama 52 kali medali itu diberikan, selalu ilmuwan pria yang mendapatkannya. Kali ini, pecahlah rekor itu, Maryam mendapatkannya sebagai profesor matematika yang mempelajari geometri modulus ruang, sebuah geometri dan aljabar kompleks. Selamat Maryam! (Ism)

Beri Komentar