Niat Menggabungkan Puasa Syaban dan Qadla Ramadan

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 19 April 2019 18:00
Niat Menggabungkan Puasa Syaban dan Qadla Ramadan
Terdapat empat kriteria dari pendapat para ulama mengenai penggabungan ini.

Dream - Syaban sudah mendekati usia tengah bulan. Tidak lama lagi, umat Islam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan.

Syaban sendiri merupakan bulan yang kerap dilupakan oleh umat Islam karena diapit dua bulan mulia, Rajab dan Ramadan. Padahal, banyak keutamaan terkandung dalam bulan ini.

Untuk meraih keutamaannya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah di bulan ini. Salah satunya adalah puasa sunah.

Sayangnya, tidak sedikit dari saudara kita yang memiliki tanggungan utang puasa Ramadan tahun lalu. Tentu utang ini harus dilunasi dengan cara diqadha.

Dikutip dari NU Online, orang kerap memanfaatkan puasa sunah di bulan Syaban untuk mengqadha utang puasa mereka. Sehingga, mereka melaksanakan satu puasa dua niat sekaligus, qadha Ramadan yang hukumnya wajib dengan sunah Syaban.

Penggabungan niat ini banyak dibahas oleh para ulama fikih. Dalam fikih sendiri, penggabungan niat itu disebut dengan istilah at tasyrik fin niyyah.

 

1 dari 2 halaman

Empat Kriteria

Imam Suyuti dalam Al Asbah wan Nadhair membagi pandangan ulama mengenai penggabungan niat puasa ini menjadi empat kriteria. Pertama, kedua puasa itu sah dan baik dan kedua, sah bagi ibadah fardlunya, tidak pada sunahnya.

Kriteria ketiga, sah pada sunahnya namun tidak pada fardlunya. Sedangkan kriteria keempat, tidak sah dua-duanya.

Imam Suyuti mencontohkan kriteria pertama seperti ketika seseorang masuk masjid dan jemaah telah dimulai. Dia meniatkan sholat fardlu sekaligus sholat tahiyatul masjid.

Dalam pandangan Mazhab Syafi'i, keduanya dianggap sah. Dan masing-masing ibadah, meskipun dikerjakan sekali dengan niat yang digabung tetap mendapatkan pahala.

 

2 dari 2 halaman

Bagaimana dengan Puasa Sunah Plus Qadla Sendiri

Kriteria kedua, sah untuk yang fardlunya saja dan tidak pada sunahnya, dicontohkan dengan ibadah haji untuk pertama kali. Dia berniat haji wajib sekaligus haji sunah. Dari keduanya, niat yang dianggap sah hanyalah haji wajibnya.

Kriteria ketiga yaitu sah hanya sunahnya saja dan tidak pada fardlunya, dicontohkan dengan zakat diniatkan sekaligus sedekah. Niat yang diterima adalah sedekahnya.

Sedangkan kriteria keempat, tidak sah keduanya, dicontohkan dengan niat sholat fardlu sekaligus sholat sunah rawatib. Kedua niat itu dinyatakan tidak ada yang sah.

Sedangkan untuk menggabungkan niat puasa qadla Ramadan dengan sunah Syaban dapat disamakan dengan kriteria pertama. Kedua niat puasa dianggap sah.

" Namun sebagian ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Ada yang mengatakan yang dianggap sah adalah puasa qadla Ramadan dan puasa sunahnya tidak sah dan memasukkannya dalam kelompok ke dua. Ada pula ulama yang mengatakan sah puasa sunahnya dan utangnya belum gugur sebagaimana kategori ketiga. Bahkan ada yang mengatakan tidak sah keduanya dan amalnya sia-sia seperti kategori ke empat."

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting