Mengganti Nama Ketika Sudah Dewasa, Bagaimana Menurut Islam?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 4 September 2019 20:00
Mengganti Nama Ketika Sudah Dewasa, Bagaimana Menurut Islam?
Nama merupakan doa orangtua pada anak.

Dream - Setiap bayi terlahir di dunia mendapatkan nama dari orang tua. Nama merupakan doa orang tua untuk kebaikan anak.

Tetapi, tidak sedikit orang yang mengubah namanya ketika dewasa. Alasannya bisa beragam, mulai dari sering sakit hingga bermakna buruk.

Memang tidak jarang kita temukan seorang anak punya nama bermakna buruk. Padahal nama tersebut diberikan sendiri oleh orang tuanya.

Ini terjadi karena orang tua kadang memilihkan nama dengan kata yang enak didengar. Padahal nama tersebut bermakna buruk.

Ketika sudah dewasa, anak tersebut kemudian memutuskan mengganti namanya. Lantas, bagaimana Islam memandang persoalan ini?

1 dari 5 halaman

Islam Menghendaki Nama Baik

Dikutip dari NU Online, Islam memang menganjurkan memberikan nama yang baik kepada seorang anak. Karena nama memiliki arti penting dalam Islam.

Sebagian besar dari kita memahami nama merupakan doa. Lebih dari itu, nama berfungsi sebagai panggilan, sehingga sangat dianjurkan untuk memilih yang terbaik.

Dalam hadis riwayat Abu Daud dan An Nasai, Abu Wahib Al Jusyami mengatakan Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda demikian.

Namailah (anakmu) dengan nama para nabi. Nama yang paling disukai Allah SWT adalah 'Abdullah' dan Abdurrahman'."

Sedangkan dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda seseorang yang diberi nama dengan nama para nabi terutama Nabi Muhammad akan mendapaatkan keringanan siksa di hari akhir. Karena Allah malu untuk menyiksanya.

2 dari 5 halaman

Hukum Mengubah Nama

Sedangkan orang dewasa yang ingin mengubah namanya karena bermakna buruk, hal itu dibolehkan dalam Islam. Ini seperti dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub karya Syeikh M Amin Al Kurdi.

" Mengubah nama-nama yang haram itu hukumnya wajib, dan nama-nama yang makruh hukumnya sunah."

Pandangan senada juga disinggung Imam Al Baijuri dalam kitabnya Hasyiyah Al Baijuri.

" Disunahkan memperbagus nama sesuai hadis, 'Kamu sekalian akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian. Oleh karena itu, pilihlah sebutan yang baik untuk nama kalian.' Dimakruhkan nama-nama yang berarti jelek, seperti himar (keledai) dan setiap nama yang diprasangka buruk (tathayyur) penafian atau penetapannya... Haram hukumnya menamai seseorang dengan 'Abdul Ka'bah,' 'Abdul Hasan,' atau 'Abdu Ali' (Hamba Ka’bah, Hamba Hasan atau Hamba Ali). Menurut pendapat yang lebih shahih, (seseorang) wajib mengubah nama yang haram karena berarti menghilangkan kemungkaran, walau Syekh Ar-Rahmani ragu perihal kewajiban atau kesunahan mengubah nama demikian."

Pendapat di atas menunjukkan kebolehan mengganti nama karena nama lama menggandung makna buruk bahkan diharamkan dalam Islam. Namun demikian, kita tidak perlu resah dengan nama pemberian orangtua yang tidak dari bahasa Arab ataupun kurang keren.

Selama nama kita mengandung makna baik, sebaiknya tidak perlu mengubah nama. Apalagi nama merupakan doa orangtua pada kita.

Sumber: NU Online.

3 dari 5 halaman

Meyakini Larangan Nikah Saat Muharram, Bagaimana Hukumnya?

Dream - Muharram adalah bulan mulia dalam Islam. Bulan ini mengandung banyak rahmat sehingga dianjurkan untuk memperbanyak amalan sholeh.

Tetapi, ada sebagian masyarakat justru memandang Muharram sebagai bulan keramat. Bahkan sampai ada ritual khusus memperingati bulan ini.

Mereka memanfaatkan Muharram untuk melakukan ritual seperti mencuci pusaka atau larung sesaji. Ini dijalankan dengan alasan untuk menolak bala.

Mereka juga meyakini pesta pernikahan tidak boleh dilakukan pada bulan ini. Dalam pandangan mereka, jika tetap digelar dapat mendatangkan bahaya dan rumah tangga tak bakal langgeng.

Jika meyakini hal ini, bagaimana hukumnya dalam syariat Islam?

Dikutip dari Bincang Syariah, sebagian masyarakat tradisional meyakini Muharram sebagai bulan renungan, mengingat kembali status manusia sebagai hamba. Sehingga, tidak baik membuat perayaan penuh rasa suka di bulan ini.

Pandangan ini dikaitkan dengan kepercayaan lama terkait dewa-dewa. Tidak jarang hal ini menjadi dilema bagi masyarakat yang notabene beragama Islam.

Di satu sisi, ada dorongan untuk melestarikan budaya leluhur. Di sisi lain, ada kewajiban untuk mempertahankan akidah.

4 dari 5 halaman

Tetap Boleh Melangsungkan Pernikahan

Mengenai masalah ini, dalam syariat Islam terdapat konsep sebab akibat. Terkait sebab sendiri dibagi menjadi tiga yaitu bersifat syar'i, 'adiy, dan 'aqliy.

Pembahasan ini diarahkan kepada sebab bersifat 'adiy. Sebab 'adiy berkaitan dengan adat atau kebiasaan yang dapat menimbulkan akibat tertentu.

Kepercayaan mengenai larangan menikah di bulan Muharram masuk kategori ini. Sedangkan mengenai larangan tersebut, Ibnu Ziyad memberikan tanggapan dalam fatwanya yang terekam dalam Ghayah Talkhis Al Murad.

" Jika ada seseorang menanyakan 'Apakah malam ini/itu atau hari ini/itu bagus untuk melangsungkan akad, atau pindah rumah?' maka tidak perlu diberi jawaban. Karena Allah sangat melarang keyakinan seperti itu, tidak perlu menghiraukan orang yang mempercayainya. Syaikh Ibn Al Farkah menuturkan dari Imam As Syafi'i bahwa beliau berpendapat jika seorang ahli nujum berkata dan berkeyakinan bahwa tidak ada yang bisa membuat takdir selain Allah namun biasanya Allah mentakdirkan hal ini/itu terjadi jika seperti ini/itu, maka menurut saya hal ini tidak dilarang."

Pandangan ini menjelaskan larangan menikah di bulan Muharram tidaklah hal yang perlu diperhatikan. Orang yang ingin melaksanakan pernikahan saat Muharram dibolehkan untuk menjalankannya dan tidak perlu memperhatikan kepercayaan orang lain mengenai bala.

(ism, Sumber: Bincang Syariah)

5 dari 5 halaman

Mengisi Muharram dengan Amalan Utama Ini

Dream - Bulan Muharram telah hadir menyapa kita. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Kemuliaan dalam Muharram sangat penting untuk diraih. Ada amalan yang sangat dianjurkan untuk meraih keutamaan tersebut.

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, Abu Hurairah menyampaikan kisah pertemuan Rasulullah dengan seseorang.

" Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, 'Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal? Rasulullah menjawab, 'Puasa di bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram'."

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie