Menguras Air Mata! Suami-Istri Pasien Covid-19 Wafat Bersama, Gandengan Tangan

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Sabtu, 4 Juli 2020 12:30
Menguras Air Mata! Suami-Istri Pasien Covid-19 Wafat Bersama, Gandengan Tangan
Mereka 53 tahun bersama. Saling mencintai. Meninggal di waktu bersamaan.

Dream - Ini kisah mengharukan pasangan yang terinfeksi virus corona. Mereka meninggal hampir berbarengan dalam kondisi saling berpegangan tangan.

Pasangan itu adalah Betty dan Curtis Tarpley. Mereka sudah berusia senja. Betty umur 80 tahun, Curtis setahun lebih muda. Bertahun-tahun mereka hidup dengan cinta.

Pasangan yang tinggal di Texas, Amerika Serikat, ini telah 53 tahun membangun rumah tangga. Mereka jatuh cinta, menikah, mengejar karier, dan merawat dua anak bersama-sama.

Betty dan Curtis meninggal hanya berselang beberapa menit. Mereka mengembuskan nafas terakhir saat dirawat di rumah sakit karena positif Covid-19.

" Mereka suka melancong, sekarang cerita mereka berkeliling dunia," kata putra mereka, Tim Tarpley, dikutip dari ABC News.

" Aku bersyukur atas waktu yang kami miliki dan hubungan kami merupakan yang terbaik selama beberapa minggu terakhir ini," tambah dia.

1 dari 8 halaman

Betty dikarantina setelah merasa sakit beberapa minggu yang lalu. Pada 9 Juni, Betty mengeluh sakit kepala dan sakit gigi sehingga dilarikan ke Texas Health Harris Methodist Hospital Fort Worth.

Betty dinyatakan positif Covid-19. Dua hari kemudian, Curtis juga dirawat. Curtis yang bertahun-tahun sakit semula kondisinya terlihat biasa saja. Sementara, kondisi Betty terus menurun.

Staf rumah sakit mengizinkan Tim dan saudarinya, Tricia, untuk menjenguk Betty dan Curtis. Saat itulah Betty memberi tahu Tim bahwa dirinya sudah siap apabila dipanggil oleh Sang Khalik.

" Sungguh memilukan mendengarnya," kata Tim. Dia berusaha memberi semangat kepada sang ibunda. Namun Betty rupanya sudah tahu kondisinya sangat parah.

2 dari 8 halaman

Tim menyampaikan kabar itu kepada Curtis, tapi tidak lama kemudian, kondisi ayahnya juga ngedrop. Betty dan Curtis kemudian menjalani perawatan intensif. Pada 18 Juni, staf rumah sakit merasakan pasangan ini sudah tidak bisa bertahan lama lagi.

" Ini manusiawi untuk dilakukan," kata Blake Throne, seorang perawat unit perawatan intensif yang merawat Curtis. " Kami merasa harus mengumpulkan mereka."

Perawat kemudian mendekatkan Betty dan Kurtis. Perawat juga meletakkan tangan Betty ke genggaman Curtis. Saat tim medis memberi tahu Curtis bahwa Betty terbaring di sampingnya, mereka merasa sangat terenyuh.

" Mata Curtis terbuka dan alisnya naik. Dia bersemangat dan mencoba untuk berbalik dan menatapnya," tambah Throne.

3 dari 8 halaman

Betty meninggal dunia 20 menit berikutnya. Sementara, Curtis menyusul sang istri satu setengah jam kemudian.

" Mereka sedang menjalani banyak pengobatan pada saat itu. Saya pikir mereka tidak perlu kata-kata untuk mengetahui bahwa mereka masih memiliki satu sama lain," kata Tim.

" Para perawat luar biasa dan saya berharap mereka tahu betapa kami menghargai upaya mereka untuk melangkah maju dan melampaui untuk orang tua saya," tambah dia.

Tim menambahkan, orang tuanya sejak Februari lalu sudah banyak menghabiskan waktu di rumah. Tidak bepergian lagi. Dia tidak tahu bagaimana orangtuanya bisa tertular virus corona.

4 dari 8 halaman

Pasien Covid-19 Alami 'Tegangan Tinggi' Selama 4 Jam Sampai Pingsan

Dream - Pria di Prancis yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona mengalami kondisi sangat memprihatinkan. Pasien Covid-19 berusia 62 tahun tersebut mengalami ereksi selama empat jam lebih.

Para ahli meyakini pria asal Prancis itu menjadi pasien Covid-19 pertama yang mengalami priapisme atau ereksi yang berlangsung lama tanpa adanya rangsangan seksual. Dalam kondisi itu, seorang pria mengalami ereksi lebih dari empat jam secara terus-menerus.

Pasien Covid-19 asal Prancis tersebut memang mengalami ereksi lebih dari empat jam. Dia dalam kondisi tidak sadarkan diri. Para ahli meyakini ereksi yang berlangsung selama lebih dari empat jam tersebut sebagai akibat komplikasi Covid-19.

5 dari 8 halaman

Menurut petugas medis, ereksi berjam-jam itu terjadi karena adanya pembekuan darah di alat kelamin sebagai akibat komplikasi infeksi virus corona.

Dalam beberapa kasus, tim medis memberikan obat pengencer darah untuk menghindari akibat fatal pembekuan darah yang diyakini sebagai akibat infeksi Covid-19.

Dalam kasus pria Prancis itu, kata para ahli, pembekuan darah menyumbat pembuluh arteri dan vena. Dalam tingkat yang parah, kondisi tersebut bisa menyebabkan serangan strok dan jantung.

6 dari 8 halaman

Ahli hematologi, Dr. Jeffrey Lawrence, mengatakan, kasus pembekuan darah memang tidak dialami oleh semua pasien Covid-19. Namun pada tingkat tertentu pasien bisa mengalami kondisi itu.

" Masalah pembekuan darah tampaknya tersebar luas pada Covid-19 yang parah," kata Lawrence, dikutip dari Daily Star, Jumat 3 Juli 2020.

7 dari 8 halaman

Pasien Covid-19 di Prancis itu datang datang ke rumah sakit dalam kondisi demam tinggi dan mengalami kesulitan bernapas. Hasil tes menunjukkan pria itu positif terinfesi virus corona.

Pasien itu kemudian dirawat di ventilator mekanik. Saat melakukan pemeriksaan fisik, tim medis menemukan pria itu dalam kondisi ereksi.

Dalam The American Journal of Emergency Medicine, dokter Myriam Lamamri menulis bahwa kasus pembekuan darah di penis itu merupakan kasus pertama yang dilaporkan terkait penanganan Covid-19.

8 dari 8 halaman

Dokter mengompres penis pasien tersebut dengan es sebelum mengeluarkan darah pasien tersebut dengan jarum, empat jam kemudian. Darah yang keluar dari kelamin pria itu berupa gumpalan yang berwarna pekat.

Dalam makalah itu, tim mereka menulis, " Meskipun argumen yang mendukung hubungan sebab akibat antara Covid-19 dan priapisme sangat kuat dalam kasus kami, laporan kasus selanjutnya akan memperkuat bukti."

" Presentasi klinis dan laboratorium pada pasien kami menunjukkan priapisme terkait infeksi SARS-CoV-2 --virus penyebab Covid-19."

Beri Komentar