Dosa dan Balasan Buat Penimbun Barang yang Sengaja Cari Untung

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 5 Maret 2020 20:00
Dosa dan Balasan Buat Penimbun Barang yang Sengaja Cari Untung
Menimbun masker jelas merugikan.

Dream - Permintaan masker di Indonesia sedang tinggi sejak wabah virus corona muncul di Tanah Air. Masyarakat yang dilanda kepanikan langsung berburu masker untuk tindakan perlindungan diri. 

Padahal, Kementerian Kesehatan hingga WHO sudah mengimbau agar tidak perlu menggunakan masker jika dalam keadaan sehat. Masker hanya untuk mereka yang sakit dan dalam masa penyembuhan agar tidak menular ke yang lain.

Tingginya permintaan masker tersebut memicu praktik nakal sebagian penjual dan orang yang mencoba mencari keuntungan. Mereka memborong masker di pasaran, menimbunnya lalu menjualnya dengan harga tidak rasional.

Bahkan ada juga yang sampai hati menjual masker ke luar negeri. Padahal, saudaranya di dalam negeri banyak yang membutuhkan.

Tentu praktik ini sangat merugikan. Tetapi, bagaimana status hukumnya dalam Islam?

1 dari 5 halaman

Hadis Larangan Menimbun Barang

Dikutip dari Bincang Syariah, praktik penimbunan ternyata sudah ada sejak dulu. Bahkan ketika Rasulullah Muhammad SAW masih hidup.

Menimbun barang jelas dilarang baik secara aturan umum maupun syariat. Dalam Islam sendiri, larangan menimbun barang langsung disampaikan oleh Rasulullah SAW sendiri lewat sejumlah hadisnya.

Salah satu hadis yang melarang praktik penimbunan barang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radliyallahu 'Anhu.

Siapa yang menimbun bahan kebutuhan manusia dan hendak memahalkan harganya untuk kaum muslimin, maka dia berdosa.

Hadis lainnya diriwayatkan Imam Ibnu Majah dari Umar bin Khattab Radliyallahu 'Anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah sampai mengeluarkan ancaman bagi pelaku penimbunan barang.

Siapa yang menimbun makanan (dan menyulitkan) atas kaum muslimin, maka Allah akan menyiksanya dengan kebangkrutan dan penyakit kusta.

 

2 dari 5 halaman

Pandangan Ulama

Dua hadis di atas dijadikan dasar oleh para ulama untuk mengharamkan praktik penimbunan barang. Apalagi jika barang tersebut sifatnya sangat dibutuhkan manusia.

Terkait komoditasnya, Mazhab Syafi'i memandang praktik penimbunan haram hukumnya untuk makanan pokok. Sedangkan barang selainnya tidak diharamkan.

Dasar pertimbangannya adalah makanan adalah barang pokok yang sangat dibutuhkan manusia. Sementara barang-barang lainnya tidak sederajat dengan makanan pokok.

Tetapi, para ulama lain dan sebagian ulama Mazhab Syafi'i memandang keharaman penimbunan tidak dikhususkan pada makanan. Semua barang yang sangat dibutuhkan manusia diharamkan jika sampai ditimbun karena dapat mendatangkan mudharat atau kerusakan.

Sumber: Bincang Syariah

3 dari 5 halaman

Hand Sanitizer Berbahan Alkohol, Haramkah?

Dream - Hand sanitizer, bahan obat yang sekarang ini sedang banyak dicari seiring merebaknya kasus virus corona. Sejumlah apotik dan toko sampai kehabisan.

Pemicunya, ada imbauan dari otoritas kesehatan baik dunia maupun Indonesia untuk rajin cuci tangan. Ini untuk mencegah penularan virus corona usai ada dua warga Depok yang positif terpapar.

Cuci tangan sangat dianjurkan menggunakan sabun dan air mengalir. Tetapi jika tidak ada, dapat diganti dengan hand sanitizer mengandung alkohol.

Secara medis, alkohol merupakan bahan kimia yang efektif membunuh mikroba penyebab infeksi virus maupun bakteri.

Tetapi, bagi umat Islam, alkohol merupakan benda yang diharamkan. Lantas bagaimana jika dihunakan untuk hand sanitizer?

 

4 dari 5 halaman

Status Kenajisan Alkohol

Dikutip dari NU Online, para ulama menyatakan alkohol adalah khamr sehingga diharamkan. Dasarnya, zat ini dapat menimbulkan kondisi mabuk pada tubuh jika dikonsumsi dalam bentuk minuman.

Tetapi, para ulama berbeda pendapat mengenai status alkohol terkait najis tidaknya. Ada tiga pendapat besar mengenai hal ini.

Pendapat pertama menyatakan alkohol adalah benda najis sehingga haram digunakan untuk apapun. Baik itu untuk makanan, minuman, obat, maupun wewangian.

Pendapat kedua, alkohol hanya haram jika dikonsumsi dan terjadi mabuk. Berbeda jika alkohol digunakan untuk bahan campuran obat atau wewangian, maka statusnya tidak najis.

Ada pula pendapat yang memandang status alkohol adalah najis ma'fu (dimaafkan/ditolerir). Sepanjang dicampur dengan obat-obatan atau wewangian.

Dasar pandangan ulama yang menyatakan alkohol najis adalah sifatnya yang bisa membuat mabuk. Sedangkan pendapat yang memandang tidak najis ataupun najis ma'fu yaitu karena alkohol tersebut tidak untuk dikonsumsi sebagai minuman.

 

5 dari 5 halaman

Termasuk Najis yang Dimaafkan

Terkait dengan penggunaan alkohol pada hand sanitizer, kita bisa merujuk penjelasan Syeikh Asy Syarqowi dalam kitabnya Hasyiyatus Syarqowy 'alat Tahrir.

" Termasuk bagian najis yang di-ma'fu (dimaafkan) adalah najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan untuk memperbaikinya, maka di-ma'fu sekadar takaran yang dipakai untuk memperbaikinya dengan dianalogikan pada aroma yang memperbaiki pada keju. Kalau minuman keras maka najis mutlak karena Alquran mensifatkannya dengan " rijsun" (najis). Sedangkan alkohol bukanlah minuman pada 'urf. Adapun jika digunakan untuk obat jika kadarnya kurang dari 4 atau 5 persen saja yang tidak sampai banyaknya membuat mabuk maka boleh."

Sumber: NU Online

Beri Komentar