Menjadi Tahfiz Quran, Ini Adab yang Patut Diperhatikan

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 29 Juli 2019 20:01
Menjadi Tahfiz Quran, Ini Adab yang Patut Diperhatikan
Menjadi tahfiz tidak cukup hanya dengan menghafal Alquran, namun juga menerapkannya dalam kehidupan.

Dream - Menghafal Alquran memang mengandung keutamaan tersendiri. Di setiap hurufnya terkandung sepuluh kebaikan bagi orang membacanya.

Keutamaan lebih besar didapat mereka yang bisa menghafal Alquran. Salah satunya, jaminan masuk surga dan mahkota bagi orangtua.

Dewasa ini, banyak yang berlomba-lomba untuk menghafal Alquran. Tidak sedikit dari saudara kita yang memutuskan menjadi tahfiz mandiri ataupun masuk ke pesantren dan rumah tahfiz demi menjadi penghafal Alquran.

Namun demikian, menjadi tahfiz hakiki tidak mudah. Tidak cukup hanya dengan hafal Alquran, namun dituntut untuk menerapkan isinya dalam kehidupan nyata.

Dikutip dari NU Online, Imam Al Qathalani seperti dikutip Mustafa Murad dalam kitabnya Kaifa Tahfadz Alquran menyatakan Ahlu Alquran adalah orang yang mengamalkan Alquran. Mereka adalah kekasih Allah.

Sehingga, setiap orang yang ingin menjadi tahfiz Alquran patut memperhatikan sejumlah adabnnya. Ini untuk menjaga identitasnya sebagai Ahlu Allah wa khasshatuh (keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya).

1 dari 5 halaman

Adab Menjadi Tahfiz, Memiliki Perangai Sempurna

Adab pertama yaitu perangai dan akhlak sempurna. Seseorang yang menjadi tahfiz harus mencerminkan akhlak Alquran. Dia harus mencontoh akhlak Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah adalah teks Alquran yang hidup. Seluruh kandungan dalam Alquran terejawantahkan dalam diri Rasulullah.

Adab kedua, harus meninggalkan segala larangan untuk memuliakan Alquran. Seseorang tidak boleh sekalipun melanggar larangan yang tercantum dalam Akquran.

Adab ketiga yaitu menjaga diri dari pekerjaan rendah. Seorang penghafal Alquran tidak boleh menjalankan pekerjaan tak halal atau menjerumuskan pada dosa.

 

2 dari 5 halaman

Berjiwa Mulia

Adab keempat, memiliki jiwa mulia. Jiwa seorang tahfiz harus bersih dari segala prasangka buruk dan selalu menjaga lisan serta perbuatannya. Tidak boleh seorang tahfiz kasar sikapnya, pelupa, bersuara lantang, serta pemarah.

Adab kelima, seorang penghafal Alquran memiliki derajat lebih tinggi dari penguasa yang sombong dan pecinta dunia yang jahat. Sehingga, dia tidak boleh merendahkan diri di hadapan penguasa angkuh dan serta tidak menjadi pengikut kaum pecinta dunia.

Adab keenam, harus bersikap tawadhu' kepada orang-orang sholeh, baik serta miskin. Dia diharuskan bersikap santun kepada semua orang terutama kepada orang sholeh serta menyayangi mereka yang miskin.

 

3 dari 5 halaman

Berjiwa Khusyuk dan Tak Jadikan Alquran Sumber Pendapatan

Adab ketujuh, jiwa diharuskan khusyuk, tenang dan berwibawa. Seorang ahli Alquran hendaknya berjiwa tenang dalam penampilan serta sabar menjaga dan merawat hafalannya.

Adab kedelapan, tidak boleh menjadikan Alquran sebagai sumber penghasilan. Seorang tahfiz Alquran tidak pantas menggantungkan diri kepada orang lain dan justru dia dituntut memenuhi kebutuhan saudaranya.

Sedangkan adab kesembilan, selalu mengulang hafalannya. Yang paling utama adalah dengan muraja'ah tiap malam mengingat sebagai waktu mustajab.

Sumber: NU Online

4 dari 5 halaman

Ketika Santri Ungkap Rahasia Menghafal Alquran dan Tak Cepat Lupa

Dream - Alquran bukan sekadar bacaan. Di dalamnya terdapat banyak sekali pedoman hidup bagi manusia terutama umat Islam.

Bisa menghafal Alquran, apalagi jika bisa genap 30 juz merupakan keinginan dari setiap Muslim. Ini karena janji Allah memberikan keberkahan hidup bagii mereka yang mau menghafal setiap ayat Alquran.

Hal itulah yang menjadi penyemangat para santri Pesantren Takhasus Cinagara, Caringin, Bogor, Jawa Barat. Mereka rela bersusah payah demi meriah keberkahan Alquran dengan menghafalnya.

Tentu, setiap santri memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghafal Alquran. Alhasil, metode para santri di pesantren di bawah binaan PPPA Daarul Quran tidak sama antara satu dengan lainnya.

 

5 dari 5 halaman

Metode Tiap Santri Berbeda

Seperti dituturkan Muammar Saddam. Santri yang telah hafal 30 juz Alquran ini memakai metode sesuai kemampuannya.

" Sebenarnya nggak semua sama sih, karena setiap orang memiliki kemampuan masing-masing, jadi metodenya tergantung setiap santrinya," kata Saddam dalam video yang diunggah di akun Instagram @daarul_quran, diakses pada Kamis 18 Juli 2019.

Santri tahfiz 30 juz lainnya, Ahmad Faza, menuturkan metodenya menghafal Alquran dengan cara mengulang satu ayat sampai beberapa kali.

" Satu ayat itu diulang-ulang, sambil dibayangkan ayatnya," kata Faza.

 

Beri Komentar