Menjawab Salam Dalam Hati, Bolehkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 16 Agustus 2019 20:02
Menjawab Salam Dalam Hati, Bolehkah?
Menjawab salam hukumnya wajib, jika tidak dilakukan maka berdosa.

Dream - Beruluk salam menjadi kebiasaan yang melekat pada umat Islam. Pun demikian, kebiasaan ini memang dianjurkan agar tercipta perdamaian dan persaudaraan.

Salam adalah ucapan yang tidak hanya bermakna sapaan. Di dalamnya ada doa keselamatan dan keberkahan bagi sesama Muslim.

Mengucap salam ketika bertemu sesama Muslim adalah sunah. Sedangkan orang yang mendengarnya wajib hukumnya untuk menjawabnya.

Jawaban atas salam harus bisa didengar oleh orang yang mengucapkannya lebih dulu. Lantas, bagaimana jika menjawabnya dengan cara dibatin atau di dalam hati?

Dikutip dari Bincang Syariah, Imam An Nawawi dalam kitab Al Azkar memberikan penjelasan terkait kewajiban menjawab salam.

" Sedikitnya yang bisa menggugurkan kewajiban menjawab salam ialah dengan mengangkat suaranya sekiranya terdengar oleh orang mengucapkan salam. Jika tidak terdengar oleh orang yang mengucapkan salam, maka kewajiban menjawab salam tidak gugur."

 

1 dari 5 halaman

Salam Dijawab Harus Secara Jelas

Pandangan Imam An Nawawi itu menunjukkan, keharusan menjawab salam dengan suara yang jelas terdengar. Minimal hingga orang mengucapkan salam lebih dulu bisa mendengarnya.

Menjawab salam dengan suara yang lirih hingga tidak terdengar, maka kewajiban menjawab salam masih berlaku. Jika tidak dilakukan, maka orang yang mendengar salam akan berdosa jika tidak menjawabnya.

Demikian halnya jika menjawab salam secara batin atau di dalam hati. Karena orang sudah pasti tidak bisa mendengar jawaban salam yang hanya dibatin.

Sehingga, setiap salam yang terdengar harus dijawab dengan jelas. Jika menjawabnya dengan cara dibatin, kita tetap terkena kewajiban menjawab salam dengan jelas dan akan berdosa jika tidak melakukannya.

(ism, Sumber: bincangsyariah.com)

2 dari 5 halaman

Anak Kecil Merusak Barang, Siapa Harus Tanggung Jawab?

Dream - Dalam transaksi jual beli terdapat mekanisme ganti rugi jika terjadi kerusakan. Tentu, tanggung jawab untuk mengganti kerugian dibebankan kepada orang yang merusaknya.

Kondisi ini juga diakui dalam syariat Islam. Sebagai contoh, kita memegang ponsel milik teman. Ketika benda tersebut mengalami kerusakan ketika dalam penguasaan kita, maka kita terkena tanggung jawab untuk melakukan penggantian.

Namun begitu, tidak setiap kerusakan bisa dikenai ganti rugi. Bagaimana jika kerusakan disebabkan oleh anak kecil?

Dikutip dari NU Online, ada ketentuan yang berlaku untuk mekanisme ganti rugi atas kerusakan barang akibat anak kecil. Mekanisme ini menentukan bisa tidaknya ganti rugi diterapkan.

3 dari 5 halaman

Jika Rusak Karena Dipinjamkan ke Anak

Semisal, Pak Budi memberikan ponselnya kepada balita tetangga untuk mainan. Apabila ponsel itu rusak karena dipakai untuk mainan balita itu, maka Pak Budi tidak bisa meminta ganti rugi.

Karena, sedari awal seharusnya penguasaan si anak atas ponsel Pak Budi berada dalam pengawasan. Sehingga, jika tiba-tiba si anak memukulkan ponsel ke lantai, maka anak itu tidak bisa diminta pertanggungjawaban.

Contoh lain, Pak Yusuf menyuruh orang yang tidak bisa menyetir untuk mengemudikan mobil. Lalu terjadi kecelakaan di tengah jalan.

Jika hal ini terjadi, yang bertanggung jawab adalah Pak Yusuf. Karena dia menyuruh orang tidak bisa menyetir untuk mengemudikan mobil.

Dua ilustrasi di atas menggambarkan pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan. Yaitu orang yang sudah paham dengan alat, tetapi dia menggunakannya tidak sebagaimana mestinya.

4 dari 5 halaman

Penjelasan Ulama

Syeikh Wahbah Az Zuhayli dalam kitab Nadhariyatu Ad Dlamman aw Ahkam Al Masuliyyah Al Madaniyyah wa Al Jinaiyyah fi Al Fiqh Al Islami memberikan penjelasan demikian.

" Dalam tanggung jawab berupa kerugian pada harta, maka tiada beda antara rusak akibat unsur kesengajaan atau tidak, dewasa atau masih kecilnya pengguna. Kecuali kalangan Malikiyyah, mereka berpendapat bahwa, " Tidak ada pertanggungjawaban atas kerugian yang diakibatkan kerusakan oleh anak kecil yang belum mumayyiz (kisaran usia balita), baik menyangkut jiwa atau harta benda. Ia menyerupai orang yang bukan ahli menggunakan."

 

5 dari 5 halaman

Berkaitan dengan Tujuan

Terkait dengan tujuan, seseorang menyerahkan ponselnya kepada balita tetangganya lantas terjadi kerusakan, maka balita tidak bisa dikenai tanggung jawab. Lain halnya jika ponsel seseorang diberikan temannya kepada balita dan rusak, maka orang yang memberikan ponsel itu terkena tanggung jawab mengganti.

Berbeda lagi jika anak berusia 10 tahun. Jika anak meminjam ponsel tetangga dan diizinkan, lalu terjadi kerusakan saat benda itu dalam penguasaannya, maka anak tersebut terkena tanggung jawab mengganti.

Tetapi karena si anak belum baligh, maka tanggung jawab itu boleh dimintakan kepada walinya atau orangtuanya.

(Sah, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham