Pria Non-Muslim Saban Jumat Rapikan Alas Kaki Jemaah Masjid, Alasannya Buat Haru

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 7 November 2019 10:50
Pria Non-Muslim Saban Jumat Rapikan Alas Kaki Jemaah Masjid, Alasannya Buat Haru
Kebaikan paman ini, meski tidak beragama Islam, membuat banyak orang terharu.

Dream - Kisah seorang pria paruh baya di Singapura ini bisa menjadi cermin tentang indahnya toleransi. Tanpa pernah berhitung, dia melakukan kebaikan kepada umat Islam.

Tiap waktu sholat Jumat tiba, paman bertelanjang kaki ini pasti ada di halaman Masjid Al Mawaddah Singapura. Ketika jemaah khusyuk mendengarkan khutbah, paman ini sibuk menata alas kaki di halaman masjid.

Ketika sholat Jumat selesai, dia segera berada di jalanan. Membantu mengurai arus lalu lintas di depan masjid agar tidak terjadi kemacetan.

Meski non-Muslim, paman bernama Steven Tan Lee Meng, 55 tahun ini rutin menata alas kaki di masjid setiap Jumat. Untuk menghargai kesucian masjid, dia selalu berada di luar dan tak pernah mau menapakkan kaki di ruang sholat.

" Semua datang ke masjid dari kantor atau dari rumah memakai alas kaki, tetapi setelah itu ada yang kehilangan sandal. Makanya saya bantu menata," ujar pria yang pernah bekerja sebagai teknisi komputer ini.

 

 

1 dari 5 halaman

Hanya Demi Kepuasan Hidup, Bukan Karena Uang

Bagi Paman Steven, melakukan kebaikan dengan membantu orang lain mendatangkan kepuasan dalam hidup. Dia pun membantah melakukannya karena alasan uang.

" Ada orang yang memberi saya uang tapi saya jelaskan ke mereka, saya bukan datang untuk uang, saya hanya ingin membantu. Mereka bilang ke saya terima saja dan boleh disedekahkan uang itu," kata Paman Steven.

Paman Steven mengidap gangguan kejiwaan bipolar. Dia tinggal dengan kakak perempuannya, Bibi Tan Geck Kian, 59 tahun, yang juga menderita gangguan jiwa, di kawasan Hougang.

Bibi Kian membenarkan hingga sekarang Paman Steven masih menjalani rawat jalan di Institut Kesehatan Mental. Bahkan dulu Paman Steven pernah harus dirawat intensif di sana.

 

2 dari 5 halaman

Bikin Hati Tersentuh

Meski begitu, kehadiran Paman Steven tidak pernah dianggap sebagai masalah oleh pengurus maupun jemaah Masjid Al Mawaddah. Relawan tetap Masjid Al Mawaddah, Shahrudin Rudin, 60 tahun, mengatakan Paman Steven tidak mengganggu orang malah membantu merapikan sepatu supaya ada ruang sholat yang lebih luas.

" Kalau tidak ada dia, saya yang melakukan ini sendirian," kata dia,

Jemaah Masjid Al Mawaddah, Syed Mohamed Bathushah, merupakan salah satu orang yang selalu memberikan buah tangan kepada Paman Steven. Dia merasa tersentuh dengan kebaikan Paman Steven.

" Tiap saya lihat dia, hati saya tersentuh, masih ada orang seperti ini di Singapura. Meski punya gangguan mental dan non-Muslim, hatinya mulia," kata dia.

Sumber: Berita Harian

3 dari 5 halaman

Demi Hidupi 12 Anak, Kakek Ini Jualan Roti Goreng

Dream - Usia senja mungkin identik dengan hidup tenang tanpa beban. Sayangnya, masih banyak para lansia yang terpaksa harus mencari nafkah hanya untuk menyambung hidup.

Seperti kisah kakek 73 tahun asal Kluang, Johor, Malaysia, yang biasa dipanggil Pak Mail berikut ini. Pada usia senja itu, dia harus berjualan roti goreng di tepi jalan.

Kisah Pak Mail diunggah di akun Youtube FS Channel. Setiap hari, Pak Mail berjualan roti goreng yang dikenal dengan nama lokal Jemput-jemput.

Lapak Pak Mail berada di Jalan Kampung Melayu. Dalam video itu, Pak Mail terlihat mengaduk adonan roti yang akan digoreng di wajan.

Dikutip dari World of Buzz, ada kisah haru di balik keseharian Pak Mail. Ternyata, dia tetap jualan roti goreng untuk menghidupi 12 anaknya, setelah sang istri meninggal 23 tahun lalu.

4 dari 5 halaman

Banyak Isiannya

Jemput-jemput adalah jajanan seperti donat mini tanpa lubang. Biasanya, roti goreng itu dibuat dengan buah pisang.

Tetapi, Jemput-jemput buatan Pak Mail berbeda. Dia telah membuat inovasi dengan tidak lagi menggunakan pisang.

Pada roti gorengnya, Pak Mail mengisinya dengan buah naga, nangka, nanas dan jagung. Tiap satu roti dijual dengan harga 10 sen ringgit, setara Rp350.

Dalam sehari, dia bisa menjual 2.000 Jemput-jemput. Tetapi saat Ramadan, dia selalu menggratiskan dagangannya.

 

5 dari 5 halaman

Bisa Cicip Gratis, Meski Tak Jadi Beli

Video Pak Mail pun disukai banyak netizen. Banyak dari mereka mengaku sangat terkesan dengan kebaikan Pak Mail lantaran pernah berinteraksi dengan kakek itu.

" Paman ini sangat ramah. Setiap kali saya datang ke gerobaknya saya akan beli Jemput-jemputnya 2 atau 3 ringgit (setara Rp6.700 atau Rp10 ribu). Anak sekolah yang mendatangi gerobaknya mendapat Jemput-jemput gratis," tulis seorang netizen.

" Bagi yang belum pernah mencicipi makanannya mereka bisa mencobanya secara gratis, meskipun akhirnya mereka tidak mau membelinya," kata netizen lainnya.

Beri Komentar